
Senyum Zen mengembang dengan sendirinya, saat mengucek sarung yang Ia nodai di bawah pancuran kran kamar mandi.
Bisa-bisanya aku jadi begini. Hish ! Ini semua karna ulah kamu Mbak ! Menyumpahi Nana yang tidak tau duduk permasalahannya.
" Mas..."
" Hemm. Aku lagi mandi." Junub. Kata yang cukup Zen dan Tuhan yang tau.
" Kata temennya Mbak..." Kalimat yang terhenti karna seruan Zen.
" Dek !" Tergopoh-gopoh Zen keluar dari kamar mandi, dengan handuk yang melilit dibagian bawah Zen, " Jangan keras-keras." Setengah berbisik pada Rif'an.
" Iya. Kata temennya mbak Nana, mbak Nana belum punya. Makanya hari ini selesai ujian rencananya mereka mau ke Jawa Mall bareng."
" Oh. Ujiannya udah selesai?"
" Nggak tau ! Temennya mbak Nana cuma bilang gitu."
" Ya udah. Nanti kalau ketemu mbak Nana di sana jangan dibolehin beli labtopnya."
" Iya beres. Tapi uangnya mana?"
__ADS_1
" Tunggu, aku selesakan mandiku bentar." Ucap Zen mengakhiri diskusi panjang dan melelahkan karna diharuskan berbicara setengah berbisik.
Selesai mandi. Zen mengambil uang tunai hasil panen udang dan bandeng kemarin, untuk diberikan pada Rif'an.
" Aku berangkat ya, Mas." Rif'an meninggalkan Zen sendirian didalam kamar.
" Iya hati-hati."
Zen terlihat bahagia. Membayangkan bagaimana ekspresi Nana menerima hadiah yang mungkin tidak terpikir akan didapatnya dari Zen yang tidak begitu mengetauhui perkembangan teknologi.
Pikiran Zen yang melayang-layang dengan angan bersama Nana, terus memacu semangatnya. Tangan Zen mulai gatal ingin mengeluarkan kotak berbentuk hati berbalut kain bludru berwarna pink tua, dari dalam laci meja rias disamping tempat tidur. Diusapnya kotak itu beberapa kali sebelum di buka. Dipandanginya isi kotak perhiasan yang Ia beli beberapa hari yang lalu bersama kakak perempuannya.
Gak sabar ingin lihat ini dipake sama kamu, Mbak. Menunjuk bandul kalung, lalu menggerakan jarinya mengikuti pola bandul yang berbentuk hati. Ini hatiku. Aku ingin kamu meletakan ini didekat hatimu mbak Nana.
" Assalamu'alaikum. Mbak Nana kapan pulang?" Tanyanya melalui pesan singkat setelah telponnya tidak dijawab oleh Nana.
" Wa'alaikum salam. Nggak pulang ! Kan nggak ada yang ngangenin aku ini. Trus Ngapain pulang? " Jawab Nana setelah beberapa saat.
Apa perlu harus aku jelasin kalau aku kangen banget sama kamu, Mbak??? Sampe udah kebawa mimpi gini. Zen mengepalkan tangan, merasa gemas sendiri.
" Kalau ada yang kangen berarti pulang? Kapan? Aku jemput ya?"
__ADS_1
" Emmm. Bisa dipertimbangin sih! Nggak usah. Nanti aku nggak sanggup bayar ongkos ojekan kamu gimana coba? hehhehe."
" Bayar aja pake hati kamu, Mbak... itu dah lebih dari cukup kok."
Hehehe. Kira-kira mbak Nana bakal ngomong apa ya? Kok tumben lama banget balesnya.
" Ogah ! Weekk. Kalau udah pernah dikasih hati nanti lama-lama pasti minta jantung juga." Nana menambahkan imoticon yang sedang menjulurkan lidah.
" Jangankan jantung. Nanti tanpa aku mintapun pasti mbak Nana bakal menyerahkan semuanya ke aku. Dari ujung kaki sampai ujung rambut." Jawaban yang pasti membuat Nana tidak akan berkutik lagi.
" Hahaha. Dasar mesum ! Aku jadi tambah nggak pingin pulang lho."
Hehehe. Mbak Nana nakal banget. Masa aku dikatai mesum sih !
" Ya udah ! Berarti siap-siap aja, nanti aku culik ya? "
Zen sepertinya memang sudah tidak tahan unruk bertemu dengan Nana. Tapi memang mau ngapain sih kalau udah ketemu, kan belum muhrim ini.
" Nyulik kok bilang-bilang. Kan jadinya aku bisa siap-siap kabur. Weeek. Udah dulu ya, Dek. Aku mau berangkat ke kampus."
" Iya, Mbak. Kalau mau pulang kabarin aku ya?"
__ADS_1
Sepertinya Nana memang ingin merahasiakan kapan kepulangannya pada Zen. Entah apa tujuanya, yang pasti bukan untuk menghindari Zen. Karna sadar atau tidak, Nana sudah merasakan kebahagiaan dari diri Zen untuknya.