
Selesai sholat magrib dengan keterbatasan. Nana benar-benar sudah tidak mampu menahan beban yang Ia tahan dua hari ini.
Ya Allah.... Engkau tahu apa yang sebenarnya aku inginkan. Tapi mengapa Engkau tak memberiku kesempatan untuk mewujudkannya.
Apakah aku tak pantas bahagia dengan caraku sendiri? Derasnya derai air mengalir dari pelupuk mata Nana, mengisaratkan kesediahan yang sudah tertumpuk lama.
Nana adalah gadis normal yang juga memimpikan memiliki kenangan mengesankan pada acara pertunangannya. Mengenakan baju serta riasan cantik yang akan menjadikannya sebagai pusat perhatian. Dan dimanapun pandangan matanya tertuju, akan dimanjakan dengan dekorasi nan indah bertabur bunga. Sehingga setiap posenya bersama sang tunangan dapat terabadikan dengan sempurna.
Seharusnya impian Nana itu bukanlah hal mustahil untuk diwujudkan. Sebagai satu-satunya anak gadis dikeluarga, Nana memang seharusnya mendapatkan kisah yang indah layaknya sang putri. Tapi kini impian itu sudah kandas begitu saja, setelah apa yang terjadi malam itu.
Apakah hanya itu yang Nana tangisi? Tentu saja masih ada alasan lain. Memiliki suami yang mencintai istrinya dengan segenap hati, adalah syarat utama agar dapat bahagia dalam berumah tangga. Setidaknya itu adalah perspektif yang diyakini Nana.
Lalu apakah Zen mencintai Nana? dan mengharapkan Nana untuk bersamanya menggapai kebahagiaan dalam hidup? Itu juga yang dipertanyaan Nana hingga saat ini.
" Assalamu'alaikum..." Tidak ada jawaban salam, hanya suara tangis sesenggukan Nana yang terdengar. Meski pintu kamar Nana sedikit terbuka, namun tidaklah pantas baginya masuk begitu saja.
Setelah mendapat kode dari Ibu, barulah Zen berani memasuki kamar Nana. Tentunya dengan berbagai persiapan untuk mengantisipasi kemarahan Nana, termasuk bekal wejangan yang didapat dari Hafid dan juga Ibu barusan.
Mata Zen mengamati Nana yang duduk diatas sajadah, masih dalam balutan mukena. Membenamkan wajahnya diantara lipatan tangan dengan disangga kakinya yang tertekuk.
__ADS_1
Ya Allah... hatiku sakit denger tangisan mbak Nana. Kenapa mbak Nana sampai kayak gini? Aku kira akan jadi sebuah kejutan indah kalau aku nggak kasih tau sebelumnya. Zen masih berdiri didepan pintu yang sudah tertutup, menyesali rencana payahnya.
Nana tersentak, menepis tangan Zen yang menyentuh lengannya. Tangis Nana pun pecah saat mendapati Zen lah yang berada dihadapannya saat ini. Duduk bersilah diatas sajadah yang sama dengannya.
Walau sudah kembali disembunyikan di balik lengan, namun suara tangis Nana masih terdengar keras ditelinga Zen. Entah karna jarak duduk mereka yang berdekatan, atau karna Nana menangis menggunakan seluruh sisa tenaganya.
" Mbak Nana marah sama aku kan? Sekarang aku udah disini. Jadi mbak Nana bisa puas melampiaskan uneg-uneg mbak Nana. Aku udah siap!" Dengan hati-hati Zen membuka pembicaraan. " Kalau mau mukul juga nggak apa-apa. Yang penting mbak Nana bisa lega. Habis itu kita ngobrol."
" Emang apa lagi yang perlu diomongin? Buat acara tunangan aja kamu nggak butuh pendapatku." Jawab Nana ketus dalam tangisan.
" Soal itu... Itu maunya bapak." Ups !
Aduh ! Salah jawab ini. Batin Zen.
" Terpaksa? Kenapa mbak Nana berfikir seperti itu?"
Hehm. Nana mengdengus kemudian tersenyum getir, " Ya apalagi namanya kalau bukan terpaksa? Dari awal lamaran sampai kemarin kita tunangan itu semua maunya Bapak kan, bukan keinginan sampean pribadi?"
" Oh..." Zen mulai memahami situasi. " Kalau aku bilang itu juga maunya aku gimana?"
__ADS_1
" Bohong !" Menjawab secepat kilat. Zen tertawa mendengar sanggahan yang tidak Ia sangkakan itu.
" Gini deh ! Aku harus gimana atau harus ngapain biar mbak Nana percaya."
" Ya gimana mau percaya. Sampean nembak aku aja nggak pernah, masa tiba-tiba pingin ngajakin tunangan." Membuang muka.
Jawaban Nana sudah seperti menggelitiki tubuh Zen. Dia terus tertawa, menyadari betapa jauhnya perbedaan antara pemikirannya dengan pemikiran Nana.
Dasar bocah ! Ternyata dibenak kamu ungkapan keseriusanku untuk menjadikan kamu istriku itu tidaklah lebih penting, dibandingkan dengan sekedar pernyatakan cinta**. Zen tidak tahan untuk tidak mencubit kedua pipi Nana.
Epilog :
Di depan kamar Nana ada tiga pasang telinga yang dengan seksama mendengarkan pembicaraan antara Nana dan Zen. Tentu saja dengan alasan antisipasi jikalau Nana sampai melakukan tindakan ekstrim terhadap Zen.
" Yah cuma gitu aja, nggak seru ! Hehehe." Ternyata percuma dia menghawatirkan Zen, begitu pikir Hafid.
Ayah dan Ibu tersenyum karna ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Hafid. Tau gini dari kemarin-kemarin mereka mendatangkan Zen ke rumah untuk mereka tumbalkan pada Nana.
Tapi paling tidak, sekarang mereka bisa merasa lega karna kemarahan Nana hanya sebatas itu. Dan karna sudah tidak ada yang perlu dihawatirkan, Hafid pun pulang dengan rasa kecewa karna tidak mendapatkan tontonan yang seru kali ini.
__ADS_1