
Nana sedang mematut diri didepan cermin. Memantaskan diri dengan celana jeans dan kaos berlengan panjang yang Ia kenakan. Kali ini Ia memilih kaos dengan lengan yang lebih panjang dari biasanya, hingga hanya memperlihatkan jari-jari tangannya saja. Ia memang perlu melindungi tubuhnya dari sengatan matahari, mengingat tempat yang akan Ia datangi kali ini adalah pulau gersang di tengah laut.
Pada tanggal delapan bulan Syawal di setiap tahunnya. Atau sepekan dari perayaan hari raya idul fitri, para warga disana mengadakan sebuah acara yang mereka sebut dengan "Syawalan". Yang lebih umumnya dikenal dengan nama "Lebaran Ketupat".
Sebagai pembuka acara syawalan, mereka melakukan sebuah upacara, yakni "Sedekah Laut". Sebagai bentuk pelestarian budaya atau tradisi yang sudah dilakukan sejak zaman nenek moyang mereka, yang adalah seorang nelayan. Atau agar lebih keren, bisa kita ganti dengan kata pelaut.
Meski acaranya bertempat ditengah laut, Nana tetap memperhatikan penampilannya. Dari ujung kuku kaki hingga ujung rambut yang sudah Ia tutupi dengan hijab. Bahkan untuk pertama kalinya dengan suka rela Nana menggunakan sunscreen, yang Ia beli khusus untuk acara ini. Karna mengingat siapa yang akan Ia temui disana nanti.
" Mamakkk." Suara Lyla memanggil berbarengan dengan suara pintu kamar Nana yang terbuka. " Antiknya...(Mohon langsung dibaca cantiknya)." Lanjut Lyla saat melihat Nana menyematkan bros pada hijabnya di depan cermin.
" Lah kok, pake baju bagus?" Tanya Dinda yang mengenakan baju berbeda 180° dibandingkan dengan Nana. Karna sudah bersiap bergulat dengan air laut juga pasir halus yang akan Ia temui di pulau.
" Kan aku nggak ikut berenang." Nana tersenyum.
Kan sayang, sudah susah payah Ia mempercantik diri agar dapat membuat sang calon imamnya terpesona, masa iya punya niat untuk kotor-kotoran. Walaupun itu adalah hal yang paling disukai Nana saat mendatangi laut, namun kali ini Ia harus menahan diri. Demi Zen atau demi dandanan cantiknya itu sudah cukup Ia gunakan sebagai alasan mendasar.
" Sana Dek, bilang sama Mamak. Rugi, ikut ke laut tapi ngga berenang." Lyla pun menirukan apa yang diajarkan Dinda, namun terdengar seperti ocehan yang sama sekali tidak jelas. Dinda dan Nana kompak mentertawaannya.
" Ayo berangkat, itu mas Firman udah nyampe sini." Lanjut Dinda.
" Bentar, Mbak !" Nana meraih tas selempang kecil untuk menampung uang jajan dan ponsel miliknya. Kemudia berlalu menuju dapur.
__ADS_1
Sedangkan Dinda dan Lyla memilih bergabung bersama yang lainnya menonton parade perahu besar yang membawa para pemuda yang sedang unjuk kebolehan menari mengikuti lagu yang disetel di soudsystem yang berada dalam perahu. Meski berada diteras rumah, mereka masih dapat leluasa melihat perahu-perahu itu melaju pelan menuju laut.
" Naaaan naaaaa!!!" Suara teriakan bersumber dari teras rumah, karna sudah tidak dapat bersabar menunggu Nana keluar.
Saat Nana muncul di teras rumah, " Dalem, Mas... ini lho adek udah siap! Ayo berangkat. Nanti kesiangan lho." Dengan nada halus Nana menjawab teriakan Firman.
" Itu ngapain dandan cantik-cantik! Jangan kecentilan deh." Ucap Firman yang sudah siap dengan celana kolor dan kaus oblongnya.
" Adek kan emang udah cantik dari sananya, Mas. Jangan berfikir yang nggak-nggak deh." Berfikir yang iya-iya aja. " Iya kan, Rahma sayang." Nana mencium bayi yang berada digendongan Yuni.
Ayah dan ibu hanya tertawa. Karna omongan Nana yang tidak dapat dikalahkan itulah yang sering kali membuat Hafid dan Firman khilaf hingga melakukan tindakan KDRT terhadap adik perempuannya yang paling cantik itu.
" Mbak Yuni nggak ikut?"
" Lha itu apa, Nduk?" Tanya Ibu, melihat tas kain ditangan Nana.
" Bekal."
" Lha ini udah bawa bekal banyak." Dinda menunjuk kardus besar yag berisikan termos air panas, termos air es, termos nasi beserta lauk pauknya. Ketupat dan lepet yang untuk digantungkan pada gading perahu pun juga ada.
" Yang itu spesial, Dek!" Ucap Hafid megingatkan Adinda.
__ADS_1
" Oh iya ! Lupa aku, Mas!"
" Hehehe." Nana malu terhadap Hafid yang ternyata dapat mencium aroma-aroma spesial dalam tas bekalnya.
Karna memang benar ucapan Hafid, didalam tas bekal itu ada makanan yang konon katanya dari sumber terpercaya yang tidak lain adalah Ibunya Zen merupakan cemilan yang disukai oleh Zen. Berkat informasi yang Ia dapat saat berada dirumah Zen saat malam takbiran, hari ini Nana sengaja membuatnya khusus untuk diberikan pada Zen.
***
Zen yang sudah menyelesaian tugasnya mengawal upacara "Sedekah Laut" sedang berkumpul dengan pemuda desa lainnya untuk mengisi perut mereka yang masih kosong. Karna keadaan yang mengharuskan mereka untuk berangkat kepulau lebih awal, memenuhi tanggung jawab mereka dalam mempersiapkan acara juga menertipkan para pedagang dadakan disana.
Saat matanya menatap ke arah laut, Zen segera menghentikan suapan nasi kedalam mulutnya. Kemudian berlalu meninggalkan teman-teman seperjuangan dan senampan itu.
" Mas Zen mau kemana?" Zen berjalan kearah pesisir pulau, tempat perahu-perahu bersandar.
" Udah, makanannya habisin aja! Aku udah kenyang."
Dari kejahuan Zen tersenyum ramah pada gadis yang dilihatnya duduk dibagian paling depan perahu yang melaju pelan, karna sudah karam diatas permukaan pasir yang dapat dilihat dengan jelas dari atas permukaan air laut. Zen menggulung celana panjangnya terlebih dahulu hingga lutut agar tidak basah saat mendekati perahu yang tadi dilihatnya ketika makan bersama teman-temannya.
" Kok udah nyampe duluan?" Tanya gadis yang masih berada diatas perahu itu.
" Ya kan biar bisa menyambut kedatangan bidadari." Ucap Zen pada bidadari yang kini sudah berada dihadapannya.
__ADS_1
Wajah gadis itu terlihat memerah karna rasa malu yang mendera diselurut uratnya. Dan gadis itupun mencubit perut rata Zen, sebagai balasan atas gombalan yang dilontarkan padanya.