
Sesampainya dihalaman rumah, Zen dengan tubuh hingga wajah lelah memasukkan sepeda motor kedalam rumah. Kemudian berjalan masuk sambil menenteng helm ditangan kirinya.
" Assalamu'alaikum." Zen memasuki ruang TV.
" Wa'alaikum salam." Jawab Ayah yang sedang menonton TV sambil berbaring diatas kasur.
" Kok nyampe malem pulangnya, Zen?"
Suara Ibu, bertanya dari arah dapur. Yang tidak lama kemudian muncul dengan membawa makan malam untuk Ayah ditangannya.
" Ini obatnya Bapak, Bu." Saat perjalanan pulang, Zen mampir kesalah satu apotik untuk membeli obat yang diresepkan dokter.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Ibu, Zen berlalu masuk kedalam kamar agar bisa segera melepas lelahnya. Berkat postur tubuh yang diwariskan kedua orang tuanya membuat Zen dengan mudahnya meletakan helm diatas lemari yang cukup tinggi. Setelah menggantungkan jaket, Zen memjatuhkan tubuhnya diatas kasur.
" Emmm, nyamannya..." Zen menggeliat.
Zen meraih ponsel yang tadi dia letakan di meja rias samping tempat tidurnya. Dia membuka galeri ponselnya, melihat hasil foto yang dia ambil tanpa sepengetahuan Nana. Foto yang memperlihatkan Nana yang sedang tersenyum.
Mbak Nana suka pake lipstik ternyata. Saat memperhatikan warna bibir Nana. Tapi cocok banget, jadi tambah cantik. Membuat Zen mengingat ucapan memalukan Nana.
" Ternyata bener ya ! Cuma lihatin foto kamu aja dah bikin kangen kayak gini, apalagi lihatin orangnya langsung." Ucapnya pada foto Nana.
Puas memandangi foto Nana. Zen melatakkan ponsel ke dada dan mendekapnya dalam pelukan. Ia pun tertidur sebelum mandi dan mengganti bajunya.
***
__ADS_1
Diwaktu ya sama. Nana yang sudah selesai sholat Isya', mengumpulkan makalah serta materi yang ia dipelajari di semester ini, lalu mengelompokannya sesuai mata kuliah. Hal ini dimaksudkan agar memudahkannya untuk belajar dalam persiapan ujian akhir semester yang sudah didepan mata.
" Ini, dek. Pesanan kamu." Tia menyodorkan kantung plastik pada Nana, setelah memasuki pintu kamar kost.
" Makasih, mbak Tia sayang. Tapi kok lama banget ya pulangnya." Nada sindiran dari Nana.
" Hahahha. Ya kamu, udah tau orang mau pergi pacaran tetep aja dititipin makanan. Itu uang kembalian kamu ada didalam plastik."
" Hehe. Iya deh !" Mengaku salah.
Segera Nana menyingkirkan lembaran kertas yang tertumpuk diatas meja lipat kecil miliknya. Menggantinya dengan bungkusan plastik yang dibawakan oleh teman sekamarnya itu.
" Mbak Tia mau?"
" Gak. makasih. Aku masih kenyang. Kamu nggak makan nasi?"
" Hiiyeehh. Kamu itu bener-bener deh, jorok banget !" Karna merasa jijik dengan ucapan Nana, Tia memukulnya dengan bantal.
Puas membuat keributan dengan Nana, Tia membiarkan Nana melanjutkan makannya. Melihat Nana menyomot tahu bakso, sedangkan ditangan satunya memegangi satu cabe rawit, Tia menggulingkan tubuhnya diatas kasur. Sambil menahan tawa, dia mengarahkan kamera ponselnya pada Nana. Tidak ingin ketinggalan satu detikpun momen yang sedang Ia coba tangkap dengan kamera.
" Huhh Hhah. Ini tahu apa, mbak?" Dengan ekspresi yang sudah Tia duga.
Tia pun tertawa puas saat Nana kaget, menyadari ada dua buah cabe rawit setan terselip didalam tahu bakso yang sudah dia gigit separuh.
" Mbak Tia jahattttttt !!! Huhh Hahh." Meletakan tahu isi cabe dan cabe yang tinggal gagangnya di meja.
__ADS_1
" Hahaha. Itu kerjaanya Adli lho bukan aku!" Puas mengabadikan ekspresi Nana dengan ponsel. Tia mengirim vidio itu pada Adli, pacarnya.
Nana meraih botol minum yang sudah kembali terisi penuh, lalu meneguknya. Seketika bayangan Zen yang sedang rakus meneguk air, dari botol itu pun berkelebatan dibenaknya.
Hahaha. Aku pasti kualat ini !
" Haha... hahaha... hahha...." Nana kelepasan kontrol tawanya.
" Eh, ni anak kesambet cabe apa ya?" Tia heran melihat Nana yang tertawa, berhenti lalu tertawa lagi.
Nana masih belum daat menghentikan tawanya saat ponselnya berbunyi karna sedang kerasukan banyak notifikasi dan juga chat dari Radit. Ada sedikit rasa kecewa, diantara deretan notofikasi yang masuk tidak Ia dapati satupun pesan dari Zen. Kalaupun tidak memberikan ucapan selamat malam, paling tidak kan memberikan kabar kalau sudah sampai rumah dengan selamat. Begitu keinginan Nana, tapi sayang orang yang sedang Ia harapkan sudah tertidur pulas sambil memeluk ponselnya.
" Hahaha. Ma'af ya, Na. Aku khilaf tadi ! " Isi chat Radit.
" Pembalasan bisa lebih kejam dari perbuatan!" Nana menambahkan emotikon Marah dan tertawa jahat.
" Waspada lah !" Imbuhnya.
Setelah itu, Nana membuka satu persatu notifikasi dari medsos yang masuk. Pertama, adalah notifikasi pertemanan dari Rif'an.
" Oh, ini Rif'an adeknya dek Zen." Nana memeriksa profilnya. Kemudian mengkonfirmasi pertemanannya.
Melihat Notifikasi kedua, Darah Nana seakan mendidih. Dia ditandai dalam postingan yang diunggah oleh Naila. Sebuah foto yang memperlihatkan Nana sedang menyuapi Zen dengan latar belakang serambi masjid. Itu merupakan moment kebersamaannya dengan Zen tadi sore.
Postingan dengan caption " Iri banget sama temenku ini, bisa seromantis gini sama kakaknya." dan hastag " Balada anak tunggal " sebagai kata penutupnya. Postingan tersebut juga sudah mendapat banyak komentar termasuk dari Rena, may dan Dian yang sempat terpesona dengan senyuman Zen.
__ADS_1
" Hah !!!" Mata Nana terbelalak, melihat nama Rif'an juga ikut mengomentari dipostingan itu.