Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Mendatangi Nana


__ADS_3

Saat ini Zen berada di kota Semarang, mengunjungi kakaknya yang seorang janda. Dia menikmati waktu bermain bersama anak perempuan kakaknya yang bertingkah menggemaskan. Sebelum Ia teringat dengan Nana.


Dengan semua polah dan juga celotehan yang tiada henti membuat rasa lelah dan penat Zen mereda. Zen memandang Kiara yang berjalan sayuk-sayuk karna masih dalam tahap belajar. Tiba-tiba Nana melintas dalam benak Zen, menggodanya untuk tersenyum.


Mbak Nana...


Seperti apa ya anak kita kelak ? Kalau aku sih berharapnya kalau anak kita perempuan dia akan mirip kamu. Cantik... Mungkin efek usia, Zen langsung menghayalkan tentang anak.


Entahlah, ini bukan kebiasaan Zen yang suka berangan-angan apalagi berhayal tentang masa depan. Karna dia adalah seorang laki-laki dengan tipe yang menganggap kebahagian keluarga adalah segalanya.


Namun kali ini Zen tidak mampu lagi untuk membendung gejolak hati yang selama ini belum pernah Ia rasakan. Perasaan yang terus mengalir dan hanya bermuara pada satu nama, yaitu Nalal Muna. Perasaan yang memaksanya untuk menemui Nana, dengan dalil kerinduan sebagai dasarnya.


Pertanyaan : Bagaimana Zen bisa rindu? Padahal ngobrol aja nggak pernah.


Jawaban : Seorang jomblo aja bisa merindukan kekasih bayangannya. Apalagi Zen yang memiliki setatus calon suami, jadi sah-sah aja dia merasakan rindu terhadap calon istri yang pernah Ia lihat meski hanya sekali.


" Zen, ayo makan siang dulu." Kakak Zen menyiapkan makanan.


" Bentar, Mbak..."


Tut... tut... tut... " Nomor yang anda hubungi tidak menjawab cobalah beberapa saat lagi." Keterangan dari operator di ponsel milik Zen.

__ADS_1


Kok nggak diangkat. Apa mbak Nananya lagi kuliah?


Zen mulai gusar. Sisi baiknya berkata jangan sampai mengganggu kegiatan Nana, kasihan. Sedang sisi egoisnya berkata kalau nggak ketemu sekarang mau kapan lagi? Mumpung lagi di Semarang juga. Kan cuma sekedar ketemu, dimana sih letak mengganggunya? Begitu kiranya perdebatan yang dialami hati dan pikiran Zen.


***


Jam 02.45 siang Zen sudah sampai didepan gerbang rumah kost Nana, berkat bimbingan Firman pastinya.


Klang... Suara pagar besi kost terbuka. Padahal Zen sama sekali tidak meyentuhya, apalagi memencet bel.


" Mau cari siapa, Mas?" Dian muncul dari balik pagar yang terbuka.


Ala biyung.... seyumanmu itu lho, Mas. Nggak nguatin banget ! Dian berasa meleleh karna satu senyuman dari Zen yang memperlihatkan lesung dipipinya.


" Masih di kampus, Mas." Zen memperhatikan sepeda motor yang berada dihalaman Kost " Itu motor Nana dibawa Rena buat jemput aku." Dian menyadari Zen sedang memandangi sepeda motor yang digunakan Renata.


" Apa Nana masih ada jam kuliah, Mbak?" Zen mulai agak hawatir. Jika dia datang diwaktu yang tidak tepat.


" Nggk ada, Mas. Tadi dia bilang mau ke perpustakaan sebentar. Ini mau aku jemput. Mas nya tunggu aja di situ." Renata menunjuk ruang tamu dengan konsep terbuka.


" Iya, Mas. Motornya masukin aja biar gak halangin jalan." Dian membuka gerbang lebih lebar. " Nanti nyampe kampus kita bilangin ke Nana kalau di tunggu sama Masnya dikost." Lanjut Dian memberikan kepastian.

__ADS_1


Tak selang lama dari Zen berjalan menuju ruang tamu yang ditunjukan Renata. Terdengar suara motor yang disusul suara heboh didepan gerbang yang belum sempat ditutup. Zen menoleh, mendapati Nana turun dari sepeda motor yang juga dinaiki seorang laki-laki. Terselip perasaan cemburu, karna dia yang adalah calon suami Nana belum pernah duduk berdua bersamanya. Apalagi membonceng dimotor sedekat itu.


" Ehmmm... Ehhmm..." Renata dan Dian menggoda pasangan yang baru saja datang.


Deegg Pyar. Perasaan cemburu Zen berubah menjadi keresahan saat memperhatikan gelagat Nana dan juga laki-laki yang bersamanya. Mereka tersenyum malu bagaikan sedang tertangkap basah.


" Ehhm... ehem... apaan? Bilangnya pulang bentar. Aku nunggu nyampe jamuran di kampus." Nana memukulkan buku yang dia pegang pada Renata.


" Hehehhe... ma'af deh! Aku khilaf..." Renata.


" Dek, kakak pulang ya?" Azam pamit pada Nana.


" Iya, kakak." Dian dan Rena cekikikan.


" Iya, kak." Nana. " Makasih ya udah mau nganterin."


Azam mengangguk, kemudian berlalu membawa senyuman yang masih menggantung dibibirnya.


" Na, itu ada tamu ..... kamu." Nana tidak begitu jelas mendengar kata-kata Dian yang sudah berlalu dibonceng Renata.


" Apa, Mbak?" Dian tidak mendengar ucapan Nana, malah melambaikan tangannya.

__ADS_1


__ADS_2