
Meski bajunya sudah terlanjur kotor, namun Nana tetap tidak berminat untuk bermain air seperti kakak juga keponakannya. Nana lebih memilih duduk dan menonton mereka dari daratan sendirian.
" Kenapa tadi dia diem aja sih ! Dia juga nggak ngejar aku lagi. Dasar manusia paling nggak peka sedunia !" Nana meremasi pasir di sisi kanan dan kiri tempatnya duduk. " Paling nggak kasih perlawanan dikit kek ! Jangan-jangan emang bener itu pacar barunya, makanya dia diam."
" Aahhh... nyebeliiin !!!" Nana melemparkan pasir-pasir yang Ia remasi kearah laut secara kalap.
Awas aja, nanti kalau ada cowok yang nembak aku ditempat ini trus aku terima baru tau rasa kamu ! Emang cuma kamu apa yang bisa cari pacar lagi. Dalam batin pun emosi Nana masih belum stabil.
" Cewek cantik kok sendirian sih ! " Suara dari arah belakang, yang membuyarkan amarah Nana.
" Eh !" Nana mengira laki-laki yang baru saja duduk disampinya adalah Zen. Bukannya mengharap, hanya saja dia memakai kaos yang sama dengan yang dipakai oleh Zen.
Bikin kaget aja ! Nggak mungkin juga kan dia berani nyamperin. Setelah apa yang udah dia perbuat sama aku.
" Kok malah diam aja ? Kamu lupa sama aku?" Tanya Bari lagi. Salah satu teman Nana saat di sekolah dasar.
" Lagi pingin diem aja ! Kalau aku bilang lupa, nanti pasti dibilang sombong. Hehehe. " Tapi Nana memang beneran hanya mengingat wajah namun lupa siapa namanya. Nana berfikir sejenak sebelum bertanya, " Itu kaos panitia atau apasih? Aku lihat kok banyak banget yang pake."
Bari menunduk, melihat kaos yang Ia kenakan. " Ini kan kaos seragam anggota karang taruna desa kita."
" Apa itu?" Dengan ekspresi polos.
" Itu nama kelompok pemuda-pemudi di desa. Masa kamu nggak tau? Semenjak karang taruna ditempat kita dipegang sama Mas Zen, perannya di masyarakat jadi tambah bagus lho."
__ADS_1
" Mas Zen? " Nana memegangi bibirnya, yang terlalu antusias bertanya.
Bari menganggukkan kepala. Iya-iya, nggak perlu berfikir lagi. Itu yang dimaksud mas Zen adalah Zen miliknya Nana seorang.
" Na..."
" Hmm? "
" Kamu udah punya pacar?"
" Emang kalau belum kenapa? Mau daftar?" Bukannya Nana mau membuka pendaftaran, dia hanya coba bergurau dengan teman ngobrolnya itu yang dia lupakan siapa namanya.
" Pinginnya sih gitu. Tapi yang aku denger, sekelas mas Zen aja kamu tolak, apalagi aku!"
" Heh ! Hehehe. Kamu kok bisa dapat info seperti itu, dari mana?" Info yang berbanding terbalik dengan kenyataannya.
" Ah, kamu ini gangguin orang yang mau nyatain cinta aja !" Ucap Bari yang lengannya sudah ditarik.
" Bentar ya, mbak." Ucap teman Bari, yang menariknya pergi tanpa sempat mengucapkan salam perpisahan pada Nana.
***
Sudah sejak beberapa saat lalu Zen duduk sendiri diatas angkringan yang digunakan sebagai posko karang taruna untuk mendinginan kepalanya, sambil mengamati target yang juga hanya duduk diam sendirian dipinggir pantai. Sebelum akhirnya dia memantapkan hatinya untuk menemui Nana yang sedang sudah menuduhnya yang bukan-bukan.
__ADS_1
Belum juga separuh perjalanan, Ia melihat laki-laki lain mendahuluinya duduk disamping Nana. Zen pun mengurungkan niatnya dan memilih kembali ke angkringan sambil mengamati Nana bersama laki-laki dari sana. Walau sebenarnya dia sudah tidak tahan untuk segera nenyelesaikan masalahnya dengan Nana. Namun, kesempatannya kini sudah hilang.
" Mat." Zen memanggil anggota karang taruna lainnya yang kebetulan lewat di depannya.
" Kenapa, Mas?" Begitu para anggota karang taruna memanggil Zen. Mengingat usia Zen juga jabatannya.
" Itu yang lagi duduk dipinggir pantai berdua sama cewek, siapa sih?"
" Kayaknya sih si Bari, Mas. Wah jangan-jangan itu cewek yang mau ditembak sama dia tuh." Mamat menjadi antusias melihatnya. Lain cerita dengan Zen yang mengepalkan tangannya, tidak menerimakan informasi yang baru saja Ia dengar.
Tiba-tiba Zen mendapatkan ide bagu untuk menyingkirkan laki-laki yang kini bersama Nana, sebelum permasalahannya menjadi bertambah.
" Oh. Mmm itu, udah ada yang ngecek solar di tangki diesel belum ya, Mat?"
" Nggak tau, Mas. Biar aku cek sekarang aja deh!"
" Emmm, itu kamu ajak si Bari aja buat ngecek. Nanti biar bisa bantuin kamu disana. Sekalian cek pendingin dieselnya ya."
Mamat menuruti keinginan Zen. Walau disekitar panggung hiburan juga pasti banyak teman-teman yang sedang berjaga dan bisa Ia mintain tolong jika diperlukan. Namun Mamat menyadari satu hal saat Ia memberitahukan pada Zen mengenai niat Bari. Ia menyadari aura Zen berubah lebih menyeramkan dari biasanya. Lebih mencekam dan juga angker.
Mas Zen kenapa ya ? Daripada takut Mamat cenderung menjadi penasaran.
Saat Mamat mengintip wajah gadis yang sedang bersama Bari, dia merasa tidak asing dengan wajah itu. Dia berusaha mengingat-ingat siapa gadis itu.
__ADS_1
C*k... c*k...! Itukan cewek yang godain mas Zen waktu takbir murshal.
Lha wong tau pacarnya mau diembat orang, ya pantes aja, wajah Pak ketua uratnya jadi tegang semua. Hahahahha. Masih sambil menyeret Bari, demi menyelamatkan masa depan sang ketua.