
Bukannya memberikan kesanggupan atau tidaknya mengenai pertanggungjawaban yang diminta oleh Zen, Nana malah sibuk dengan pikirannya sendiri. Karna ia merasa seperti sedang menemukan jawaban, mengapa hatinya terus saja merasa gelisah.
Ealah, aku tertipu! Udah terlanjur seneng, ngira Mamam nggak mempersalahkan soal itu, eh malah ujung-ujungnya dimintai pertanggungjawaban juga!
Hissshh! Mamam-ku tukang PHP. Menggit ibu karinya karna kesal.
" Mum... " panggil Zen dari seberang telfon. Karna Nana terdiam cukup lama.
" Dalem Mamam-ku. Kenapa sih? "
" Yang... " tadi gimana?
" Dalem Mamam, dalem. Mumum kan udah jawab dalem, kok masih manggil-manggil terus sih! " memotong dengan cepat, ucapan Zen yang masih menggantung tinggi.
" Mumum kangen Mamam. Mamam kangen nggak sama Mumum? " Nana tersenyum, Ia sengaja mengalihkan pembicaraan.
Belum ada jawaban dari Zen. Hanya terdengar sayup-sayup dia sedang tertawa disana. Mungkin Zen menyadari jika Nana sengaja ingin melarikan diri dari tanggungjawab yang sedang ia minta.
" Kok Mamam malah ketawa sih? Emang rasa kangennya Mumum hanya sebatas candaan buat Mamam? " berlagak seolah sedang kecewa berat pada Zen
" Iya, Mum. Mamam minta ma'af ya, kalau udah bikin Mumum sedih. " Nana tersenyum puas.
Yes, Mamam udah masuk perangkap!
" Tapi ini bukan akal-akalan Mumum buat lepas dari tanggungjawab yang Mamam minta kan? "
__ADS_1
Aduh! Nana menepuk jidatnya. Kok Mamam bisa tau aja sih.
" Ya nggak lah, Mam! Mumum-mu ini kan bukan orang yang kayak gitu. Hehhee, " ngeles.
Nana masih mencari cara agar Zen mau berhenti untuk menagih tanggungjawab padanya. Karna Ia merasa ini bukan salahnya, melainkan kesalahan Maimunah dan Naila yang mempengaruhi pikiran polosnya.
" Berarti Mumum mau mempertanggungjawabkan perbuatan Mumum itu kan? "
" Hiks. Emang Mamam mau minta pertanggungjawaban yang kayak gimana sih? " Sudah akan menyerah.
" Mumum aja bentar lagi udah jadi tanggungjawabnya Mamam lahir batin lho. Masa iya, ini malah Mamam mau minta tanggungjawab ke Mumum! "
" Kapan Muuum??? Nggak tau apa, kalau Mamam-mu ini udah nggak sabar menantikan saat-saat itu. " Terhenti sejenak. " Cepetan Mum! Mamam udah nggak tahan, " lanjut Zen dengan volume cukup keras, seperti memembus dua gendang telinga Nana.
Nana meringkukkan tubuhnya diatas kasur, perut dan juga kedua pipi gembulnya terasa kaku, karna efek dari senyuman yang mengembang tiada henti dari bibir merahnya. Dalam benaknya, Nana mengartikan kata 'tidak tahan' yang diucapkan Zen itu merujuk pada makna yang khusus se khusus-khususnya.
" Sabar, Mam... Ini kan Mumum kan masih di Semarang. Di tahan dulu..." Nana memposisikan dirinya dengan status nyonya Zen.
" Tapi, Mum.... Ini rasanya nggak enak bangt, udah di ujung! " mengimbangi peran Nana yang sedang menjadi istrinya.
" Iya, Mumum ngerti! Tapi tahan dulu. Nunggu Mumum pulang. Nanti kan bisa dipuas-puasin! " Nana tertawa, merasa geli dengan ucapannya sendiri. " Ahhahaa. Kita lagi ngomongin apaan sih, Mam? "
" Hahaha. Ya kan Mumum yang mulai! Mamam kan cuma mengikuti alurnya aja. "
Oke. Mereka berdua sudah kembali kepada kenyataan. Mengakhiri obrolan yang tidak jelas maksudnya.
__ADS_1
" Tapi tadi Mamam peke bilang ujungnya segala! Itu maksudnya ujung apa sih, Mam? " Nana menggigit bibir bawahnya, bersiap jika Zen mengatakan sesuatu yang tidak terduga.
***
" Ujung penantian Mamam-mu ini lah! Emang ada ujung apa lagi, Mum? " Zen menyeringai nakal.
" Ha ha ha. Kirain ujung tali k*tang merah, Mam! " jawab Nana dengan nada datar.
" Mumum!!! "
Praakk. Suara yang membarengi Zen memekikkan nama Nana.
Tangannya reflek memukulkan gayung yang sedang ia gunakan untuk menguras rembesan air di bawah gladak perahu kecilnya pada beton emperan belakang rumah, tempatnya menyandarkan perahu. Hingga gayung itu terlihat kocar-kacir disana
Pecah ! Ini kan gayung buat di kamar mandi yang baru aja dibeli sama Ibu.
" Suara apa tadi, Mam? " Suara gayung yang berciuman dengan beton, terdengar sampai ditelinga Nana. " Mamam lagi dimana sih? Kok suara anginnya kenceng banget. "
" Lagi dibelakang rumah, nguras perahu. Gara-gara sebel sama Mumum, tadi gayungnya aku pukulin ke emperan rumah. Terus pecah. " Zen memunguti serpihan gayung yang tercecer sambil menyesali perbuatannya.
Nana yang tidak memiliki rasa bersalah, malah mentertawakan cerita Zen.
" Malah ketawa! Ini gayung baru tau, Mum. Baru kemarin di beli sama Ibu! "
" Hahaha, ya habis Mamam ada-ada aja! Masa gayung buat mandi malah buat nguras perahu! Awas lho, nanti dijewer sama Ibu. Hahaaha. "
__ADS_1
Nana menakut-nakuti Zen, seolah calon imamnya itu adalah anak kecil yang masih mudah untuk dipengaruhi. Sedangkan Zen pasrah saja dengan perlakuan Nana.
Sebenarnya, Zen tidak memiliki niat untuk menguras air di perahunya. Itu hanya alasan Zen saja untuk menghindari keramaian didalam rumah, agar dapat puas berkencan dengan Nana tanpa ada gangguan. Tapi yang ada sekarang, Zen harus mencari alasan lain untuk menjawab Ibu, saat ia mempertanyakan gayung barunya yang hanya tinggal pegangannya saja yang utuh.