
Sebuah mimpi indah telah hadir dalam tidur singkat Zen. Hingga membuatnya tersenyum meski matanya masih terpejam rapat.
" Mumum-ku... " Zen memeluk erat gulingnya. Sambil sekali dua kali ia menenggelamkan wajahnya pada ujung atas guling untuk melepaskan perasaan yang memenuhi dada.
Di dalam mimpi, ia duduk diatas singgasana pelaminan bersama Nana, dengan bunga-bunga cantik yang bertabaran melatarinya, tapi tidak ada satupun bunga yang kecantikan dapat melampaui kecantikan Nana, yang sejak awal sudah menjadi bunga surga dalam dunianya. 'Terima kasih, karna Mamam sudah mau memilih Mumum' adalah ucapan Nana di dalam mimpinya itu masih saja terniang-niang meski kini ia sudah sadar sepenuhnya.
Tangan Zen merabai tempat tidur, ia sedang mencari keberadaan ponsel yang semalam berada tangannya. Hatinya semakin bergejolak, mencari sang penahluk yang semalam tidak jadi dihubungi oleh Zen. Karna semalam ia terjebak dengan pembahasan tentang acara pernikahan, yang tidak ada habisnya dengan Rif'an dan kedua orang tuanya. Hingga membuatnya tidur larut malam.
Meski Ia baru tidur selama dua jam, tapi sekarang ia sudah tidak ingin tidur lagi. Yang ia inginkan sekarang adalah membagikan kabar bahagia pada Nana, mengenai tanggal pernikahan mereka yang sudah ditetapkan. Tidak peduli sekarang jam berapa, ia hanya ingin mengikuti nalurinya yang sudah tidak bisa dihentikan lagi
" Mumum-ku... " Ucapnya saat sudah berhasil menghubung Nana.
***
" Assalamu'alaikum dulu, Sayang... " Dengan ponsel yang diletakkan diatas telinga dan mata yang masih terpejam, Nana mengingatkan.
__ADS_1
" Hehhe. Wa'alaikum salam Sayang-ku, Ma'af Mamam lupa! "
Nana tidak menyahut lagi setelah itu, sepertinya ia sudah kehilangan kontrol kesadaran dengan posisi miring menindih boneka hello kitty, pemberian Zen saat ia berulang tahun yang ke sembilanbelas.
" Mum... " Penuh kelembutan, Zen memanggil Nana.
" Hem. " Nana kaget, " Dalem. Kenapa, Sayang? "
" Mamam kangen.... "
Nana tersenyum dan otomatis membuka kelopak matanya.
" Sama. Mumum juga udah kangen banget sama Mamam. " Ucap Nana dengan nada manja.
Sadar bahwa baru tadi siang dia dan Zen berpisah, tapi lidahnya tidak mau berbohong jika ia juga merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan Zen padanya.
__ADS_1
Lebih dari duapuluh empat jam, waktu yang telah mereka lewati bersama kemarin. Makan bersama, sholat bersama, mandi bersama (Zen menunggui Nana di luar pintu kamar mandi) dan tidur bersama (Zen hanya duduk disamping Nana, yang tidak mau tidur di dalam tenda). Tapi kenyataannya masa-masa itu malah membuat mereka ketagihan untuk mengulanginya.
" Mamam kan nggak ngomong, kalau yang Mamam kangenin itu Mumum. Kenapa Mumum yang jawab? " Karna sudah lama menghabiskan waktu bersama, Zen terkadang membalas perbuatan iseng Nana.
Nana terduduk penuh emosi di atas tempat tidurnya, " Maksud Mamam apa? Hah? Berani hianati Mumum? Berani kangen-kangenan selain sama Mumum? Siapa? Coba sini kalau berani, bilang Mamam kangen sama siapa? " Nana marah seakan-akan Zen sedang berada didepannya.
" Kamu marah sama siapa, Na? " Teman sekamar Nana, pengganti Tia sampai terbangun.
" Ini lho Mbak, tunanganku pagi-pagi udah ngajak gelut sama aku. "
Selagi Nana menjelaskan duduk permasalahannya pada Endah, mungkin di seberang sana Zen sedang mentertawakannya sampai puas.
" Oh, permasalahan rumah tangga toh! Sana lanjutin aja nggak apa-apa, aku masih mau tidur lagi soalnya. " Ucap Endah, yang kemudian membelakangi Nana.
Tadi sampai mana ya, marahannya? Nana menjadi linglung.
__ADS_1
" Udah ngomelnya? "
" Udah, nggak usah ngomong lagi sama Mumum! Terserah Mamam mau kangen-kangen sama siapa, Mumum nggak peduli. " Nana langsung mengakhiri panggilan telfonnya.