
Saat Iring-iringan pengantin sampai di depan gapura, tempat diadakannya acara. Tiba-tiba Alfa berlari dan melarang mereka melewati gapura yang memajang beberapa foto kebersamaan Nana dan Zen dalam bingkai-bingkai besar.
" Stop! " Dengan gagah berani Alfa mengayunkan tangan kananya ke depan.
" Alfa? " Zen tergugu melihat kemunculan Alfa yang begitu menggemaskan dengan blangkon di kepalanya.
Sambil berkacak pinggang, Alfa berkata dengan tegas. " Paklek sama rombongan nggak boleh lewat! "
" Ayo, jagonya maju! " Teriak bebera orang di bagian belakang Zen.
" Kukuruyuk... Kukuruyyuuk... "
Melihat kemunculan ayam-ayaman yang di hias dengan gelang dan kalung emas, Alfa mengangguk-anggukan kepalanya. Pertanda bahwa ia menyukai ayam bohongan itu.
" Kalau mau lewat, siniin dulu ayamnya. "
" Kalau mau, tahlukin aku dulu. " Sang pawang ayam, memperlihatkan perlawanannya pada Alfa.
Perebutan jago antara sang pawang dan Alfapun terjadi sangat sengit. Keduanya bergerak mengikuti alunan tabuhan gamelan yang di putar lewat soundsystem. Tidak ada yang mau mengalah. Sorakan dan tepukan tangan dari para penonton mengiringi pertarungan mereka, yang di gambarkan dengan tarian yang dikombinasikan dengan gerakan okrobatik diperlihatkan oleh Alfa dengan apik. Tentu saja ini tidak lepas dari latihan panjang yang ia ikuti di kelas silatnya di Lampung.
" Aduh... Aku udah capek, Om. " Alfa beristirahat sambil selonjoran di tanah. " Kok susah banget sih ngambilnya! " Keluhnya sambil bangkit lagi.
" Udah nyerah? " Sang pawang masih bersiaga, kalau-kalau Alfa mau menyerang lagi.
" Udah, kita damai aja! Ayamnya kesiniin, Om-nya tak kasih duit. Paklek Zen-nya tak bolehin lewat. Gimana? " Alfa bernegoisasi.
" Emang kamu punya uang berapa? " Tanya sang pawang.
Setelah terjadi tawar menawar yang memancing gelak tawa para penonton dan tamu undangan, akhirnya Alfa berhasil mendapatkan ayam-ayaman itu. Dan sesuai kesepakatan, ia membiarkan Zen dan rombongannya melewati gapura untuk menuju tempat acara.
" Hore aku dapat ayam! " Alfa berlarian memamerkan ayam-ayaman yang membawa perhiasan di lehernya.
" Sini, Mas. Tak bawain. " Raka juga ingin merasakan memegang ayam-ayaman yang di bawa Alfa.
__ADS_1
Ketika Zen memasukki gapura, disaat bersamaan Ardi keluar dari dalam rumah. Merekapun berpapasan di pelataran rumah.
" Mas. " Ardi mengangukkan kepalanya dan tersenyum pada Zen.
Meski belum pernah bertemu sebelumnya, namun Ardi bisa mengenali, bahwa laki-laki yang ia jumpai itu adalah laki-laki beruntung yang akan bersanding dengan Nana hari ini. Sedangkan Zen sama sekali tidak mengenali Ardi. Namun ia menyempatkan diri untuk membalas anggukkan dan senyuman dari Ardi yang ditujukan padanya.
" Mas Ardi. "
Deg. Zen Menghentikan langkahnya untuk menaiki panggung pelaminan. Dimana prosesi akad nikah akan di langsungkan.
Ardi? Nama yang tidak asing buat Zen. Tapi ia lupa siapa dia.
Karna tidak dapat menahan rasa penasarannya, ia pun menoleh ke asal suara tadi. Dilihatnya Alfa sedang menyalami pemuda yang menyapanya tadi.
Siapa ya?
Dari penampilannya, Zen sudah bisa tau bahwa pemuda itu bukan beradal dari wilayah sekitar sini. Tapi kenapa ia terlihat akrab dengan Alfa.
" Zen. " Suara Ayah menyadarkan Zen. Bahwa sekarang bukanlah waktunya untuk memikirkan hal-hal seperti itu.
Di depan panggung, Sholeh, selaku pembawa acara dalam prosesi akad nikah, membacakan susunan acara. Setelah pembacaan ayat suci Al-Qur'an, sampailah pada acara inti, yakni pengucapan kalimat ijab qabul oleh calon pengantin kakung dan wali dari calon pengantin putri.
Setelah mengkonfirmasi identitas dan mahar yang tercantum dalam buku nikah. Melalui pengeras suara, Pak penghulu mempertanyakan kesiapan Zen dan ayah Nana untuk menjalankan prosesi akad.
" Saudara Muhammad Maliki Zayn, sampean sudah siap? "
" Siap! " Dengan mantap Zen menyatakan kesiapannya.
Karna ia memang sudah, bahkan sejak dua tahun yang lalu. Dimana waktu itu ia baru bertemu dan mengenal Nana sebagai calon istrinya.
" Bagaimana dengan Bapak? Apakah sudah siap menikahkan putrinya dengan saudara Maliki Zayn? "
Dengan suara bergetar, Ayah Nana menjawab. " Pak na'ib, saya tak pasrah saja lah sama sampean. "
__ADS_1
Sejak kedatangan iring-iringan Zen, ayah sudah merasakan kegugupan yang parah. Walau ayah sudah berusaha mengatasinya, namun hasilnya tidak begitu terlihat. Dan akhirnya, ayah memutuskan untuk menyerah di saat-saat terakhir. Ayahpun melakukan akad dengan Pak penghulu untuk menyerahkan tanggungjawab ini.
Dengan mantap, Pak penghulu menjabat tangan Zen. Karna ia sudah menerima amanah dari ayah Nana. Namun, di saat ia baru melakukan khutbah nikah, terdengar kegaduhan dari dalam rumah.
Belum sampai mengucapkan kalimat ijab, dari dalam rumah Sukma berlari menuju panggung pelaminan. Dengan wajah panik ia memanggil-manggil Ayah mertuanya.
" Bapak... Bapak... Adek, Pak! "
" Kenapa, Nduk? " Ayah ikut panik.
" Adek, nangis. Katanya. Dia. Nggak mau. Nikah. " Ucapan Sukma terpenggal-penggal.
Hah? Kenapa? Ada apa? Tubuh Zen terasa lemas. Hingga tidak ada satupun pertanyaan yang mampu ia sampaikan pada Sukma.
Meski lirih, namun ia bisa menangkap dengan jelas apa yang baru saja Sukma katakan pada ayah.
" Pak, amet sewu. Tolong tunggu sebentar. " Pamit Ayah.
Dalam keadaan dirundung kepanikan, ayah bergegas masuk ke dalam rumah. Ia ingin melihat apa yang terjadi pada anak gadis satu-satunya di dalam keluarganya itu.
Dudukpun seperti tidak ada gunanya. Zen berdiri, ia ingin menyusul ayah dan kakak Nana yang masuk kedalam rumah. Ia ingin menemui Nana dan meminta penjelasan untuk kejadian ini. Namun ayah, melarang Zen meninggalkan tempatnya. Iapun pasrah, dan duduk kembali sambil menahan kepedihan, yang sudah terlanjur mengalir ke seluruh tubuhmya.
Mengenakan baju adat yang sama, Alfa dan Raka berdiri di dekat panggung dengan membawa segelas es dungdung di tangan mereka.
" Shuttt... Shuuuttt... Paklek.. Paklek Zen. " Alfa yang tidak menyadari adanya ketegangan di sana, terus mencoba memanggil Zen.
Dengan malas Zen menengok kearah dua bocah itu. Menggunakan isyarat kepala, Zen menanyakan alasan kenapa mereka memanggilnya.
" Tadi, pacarnya bulek Nana yang dari Lampung, kesini lho. " Alfa.
" Aku tau! Namanya Ardi kan, Mas? " Raka memastikan lagi pada Alfa.
Deg. Ucapan Alfa dn Raka sudah seperti bom atom, yang dalam hitungan detik mampu membuat dunia Zen menjadi luluh lantak.
__ADS_1
Oh, jadi karna itu. Zen seperti menemukan jawaban atas tragedi yang menimpanya saat ini.
Tanpa rasa bersalah, Alfa dan Raka pergi meninggalkan Zen. Karna mereka ingin menambah es dungdung mereka yang sudah mau habis.