
Sesuai yang di rencanakan, pada akhir pekan ini Nana pulang ke rumah orang tuanya. Selain untuk menengok keadaan mereka, juga untuk memberikan kejutan pada Zen, di hari ulang tahunnya besok.
Nana yakin, hingga usia tiga puluh satu tahun ini, Zen belum pernah sekalipun merayakan hari kelahiran, yang kita sebut dengan hari ulang tahun. Karna itu bukanlah adat kebiasaan yang berlaku di desa, tempat yang mereka tinggali sejak lahir.
" Bu, titip belanjaan ini! " Nana menberikan secarik kertas pada ibu.
" Belanjaan segini banyaknya mau buat apa?!? " Ibu shok melihat daftar belanjaan yang diberikan Nana.
" Besok adek mau bikin nasi tumpeng!" Melihat Ayah dan Ibu saling menatap, Nana pun memberikan penjelasan. " Besok itu hari ulang tahunnya Sayang-ku, Bu. Adek mau bikin nasi tumpeng buat surprise. " Nana membentangan kedua tangan, mengekspresikan kata surprise yang ia ucapkan.
" Supres supres ki opo meneh toh (itu apa lagi)? "
Ayah paling kesel kalau Nana sudah berbicara dengan istilah yang asing baginya. Maklumlah orang tua, tinggal di desa dan hanya memiliki pengalaman di tambak.
" Surprise Bapak, bukan supres. Kejutan! "
" Nanti kalau sayang-mu jadi kejet-kejet gara-gara surpes gimana? "
" Kok kejet-kejet sih? " Nana bingung dengan maksud ucapan ayah.
" Ya kan Zen nggak pernah dapat kejutan, nanti kalau dia nggak kuat sama supesnya kan jadi kejet-kejet dia. "
" Hahaha. " Nana menghamburkan tawa beserta tubuhnya, pada ayah yang sedang menonton TV sambil tiduran. Untuk apalagi kalau bukan menganiyaya hidung mancung ayah.
__ADS_1
" Aaaaa..." Ayah merasakan sakit.
" Ampun! "
Karna ayah sudah mengucapkan kata ampun, Nana pun mau melepaskan cengkraman jarinya di hidung ayah.
" Sabar ya, Bapak! Bentar lagi kan ada hidungnya Zen yang bisa di aniyaya Genduk. Jadi hidung Bapak bisa aman." Ibu mengelus hidung suaminya yang terlihat merah samar, karna tertutup gelapnya warna kulit ayah.
" Iya, Bu. " Ayah mengangguk, pura-pura sedih.
" Dulu aja bilangnya nggak mau nggak mau ya, Bapak? Eh, sekarang manggilnya kok soyang-sayang terus. Nyampe dipakai terus perhiasan yang dari sayang-nya. Padahal punya perhiasan sendiri malah nyuruh disimpan aja. " Sindir ibu sambil meneruskan pijitannya pada ayah yang tadi sempat terhenti.
" Iya ya, Bu. Sayang, aku mau makan. Sayang, aku mau tidur. Sayang, aku mau e*k. Semua-semua dilaporin sama sayang-nya ya. " Imbuh Ayah.
Itulah yang dikatakan Nana, saat ayah ataupun ibu mempertanyakan mengapa ia senyam-senyum sendi saat memegangi ponsel.
Apa yang diucapkan ibu adalah kenyataan yang memalukan untuknya. Mengingat apa saja yang sudah ia lakukan demi bisa menolak perjodohan ini. Ia merasa malu karna sekarang ia menyadari bahwa ayah dan ibu hanya mencoba memilihkan calon imam yang terbaik untuknya, bukan menjeruskannya pada ke-tidak bahagian yang saat itu ia sangkakan.
" Mana ini Ibu harus keluar duit banyak, buat bikinin nasi tumpeng Sayang-nya. "
" Idih, Ibu perhitungan banget sih! Ya udah deh, nanti dipotong aja dari uang jajan adek! Nggak usah dibahas lagi. "
Nana ngambek, kenapa ibu menjadi perhitungan seperti ini padanya.
__ADS_1
" Awas lho Bu, Adek lagi ngambek! Nanti bisa-bisa kita di aduin sama Sayang-nya. "
Nana sudah menyerah untuk mempertahankan gengsinya, yang terus diserang dengan sindiran secara bertubi-tubi dari ayah dan ibu.
***
Hampir seharian Nana menghabiskan waktunya di dapur. Dia sibuk sendirian disana, memasak lauk-pauk untuk melengkapi nasi kuning yang akan dibuat tumpeng. Dan sekarang tinggal menyelesaikan hiasan cup-cake yang juga ia buat sendiri.
Warna-warni batter krim yang menutupi kue mangkuk, membuat mata ayah terggoda. Tangannya reflek ingin meraih salah satu cup-cake itu. Tapi sayangnya mata Nana dapat menangkap pergerakan tangan ayah, dengan cepat Nana menggeser nampan berisikan cup-cake menjauh dari tempat duduk ayah.
" Ya Allah ! Sayang-ku, jangan pelit-pelit! Bapak kan cuma mau nyicipi. " Seru ayah yang tidak berhasil mendapatkan satu pun dari kue itu.
" Apa sih! Ini kan spesial buat pacar adek." Beralih membelakangi ayah.
" Mentang-mentang udah punya pacar, terus lupa sama Bapak. Nggak sayang lagi sama Bapak. Nggak perhatian lagi sama Bapak. Semua-semua buat pacarnya, nggak pernah mikirin Bapak. " Lalu menggeser duduknya jadi membelakangi Nana. Ayah merajuk.
Bukanya menjadi sedih karna mendengar jeritan suara hati seorang ayah, Nana malah cekikikan menikmatinya sambil terus menyelesaikan hiasannya pada kue.
" Cup... Cuup... Sayang-ku. " Nana memeluk tubuh ayah dari belakang, juga mendaratkan satu kecupan dipipi ayah sebagai tanda sayangnya. " Yang ini khusus buat Bapak-ku tersayang. "
Dua cup-cake dipenuhi dengan hiasan berbentuk hati kecil-kecil itu mampu melunakan hati ayah. Dengan lahap ia memakan salah satu kue itu. Hingga tidak sadar jika butter krim dari kue sudah menghiasi kumis lebatnya.
Nana tersenyum. " Jangan dihabisin. Itu yang satunya buat Ibu lho, Bapak. "
__ADS_1
Hmmm, udah beres! Tinggal telfon Mamam, suruh dia kesini. Habis itu baru menata nasi kuningnya. Hehhe.
Rasa lelah sepertinya tidak dirasakan oleh Nana, meski hampir seharian dia berkutat di dapur ibu. Bukan hanya memasak, Nana bahkan dengan senang hati mau membersihkan dapur juga peralatan yang sudah ia gunakan tanpa di suruh.