Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Merasa Minder


__ADS_3

" Assalamu'alaikum... " Ucap Nana, saat berada diambang pintu rumah orang tuanya.


" Wa'alaikum salam. "


Setelah menjawab salam, sekerumunan orang yang berada didalam rumah kembali melanjutkan aktivitasnya masing-masing. Begitupun juga Himma dan Alfa, keponakan yang sangat dirindukan Nana. Tidak ada diantara keduanya yang berlari untuk menyambut kedatangan Nana yang sudah kadung merentangkan kedua tangannya untuk menerima pelukan.


Nana membanting helm lalu melonjorkan kakinya sambil di gesek-gesekan pada lantai karna kesal tidak mendaakan sambutan sesuai harapannya. Ia merengek, namun bukan perhatian yang Ia dapat, melainkan suara riuh tawa yang seakan memenuhi semua ruang di rumah besar orang tuanya, termasuk tawa Zen yang berdiri tepat dibelakangnya.


" Mumum sih, mentang-mentang bekasan tangki motor langsung diobral. "


" Bekas tangki motor??? "


Iya, Nana hampir saja melupakan perbuatan usilnya pada Zen tadi pagi, di halaman rumah kostnya. Sepertinya hukum karma sangat masih berlaku di bumi ini.


" Hehehe. Ayo bangun! " Zen mengulurkan tangannya untuk membantu Nana berdiri.


" Sini masuk Zen, dibiarin aja itu si Bontot. " Pinta Rahmad, kakak Nana dengan nomor urut satu yang menjadi walinya saat masih tinggal di Lampung.


Bontot adalah julukan resmi yang ditujukan untuk Nana yang adalah anak bungsu dan satu-satunya anak perempuan di keluarganya.


" Iya, Mas... "


" Asik ada Paklek Zen! " Seru Raka.


Tidak senang dengan perbedaan sambutan yang ia peroleh, Nana melirik tajam Zen yang di matanya sudah merebut apa yang seharusnya menjadi haknya.


" Udah sana, nggak usah nolongin Mumum! " Nana bangkit meninggalkan Zen.


Tidak mau menyalami Rahmad, Hafid dan Firman yang tengah berkumpul, Nana berlalu masuk menuju dapur. Dimana ibu dan para menantunya sedang ngobrol sembari menyiapkan masakan untuk makan malam.


" Ibu, lihat nih... " Nana memamerkan tiga lembar uang pecahan seratus ribu.


" Dapet dari mana? "


" Dikasih sama calon mertua. " Nana menjawab dengan kepercayaan diri yang penuh. Berbanding terbalik pada saat ia menerima uang itu, terlihat sungkan juga malu-malu.

__ADS_1


" Hah?? " Keramaian pun tercipta di dapur berkat Nana aslinya tidak tau malu itu.


" Kapan kamu kesananya? " Tanya ibu.


Tanpa diminta secara otomatis Nana menceritakan kisah yang baru ia alami pada ibu dan kakak-kakak ipar. Dari bagaimana ia bisa sampai di rumah Zen, memijit kaki ayah, disuapi buah oleh ibu dan ditutup dengan cerita bagaimana ia mendapatkan uang jajan saat berpamitan pulang.


" Wih keren! Sekali pijit tiga ratus ribu. Nggak sia-sia si embah menurunkan ilmunya sama kamu, Dek. " Ucap Sholeh saat muncul dari dalam kamar mandi.


" Mamas... " Nana langsung melompat ke tubuh Sholeh, hingga ia menjadi sempoyongan menahan beban Nana.


***


Di ruangan yang berbeda dengan Nana, Zen sedang diwawancarai secara ekslusif oleh Alfa, yang baru beberapa menit yang lalu berkenalan dengannnya.


" Paklek, Paklek itu namanya Paklek Zen siapa toh? "


" Ya Paklek Zen toh, Mas. " Sahut Raka.


" Bukan. Nama panjangnya lho, siapa? " Alfa nyolot, hingga membuat Himma yang duduk agak menjauh melirik ke arahnya.


" Nama Paklek, Muhammad Maliki Zayn. "


Setelah diulang beberapa kali, akhirnya Raka dan Alfa dapat melafalkan nama lengkap Zen dengan benar.


" Terus kok panggilanya jadi Zen bukan Zayyin? Alah! Susah baget sih ngomongnya. " Itu juga yang dulu di pertanyakan oleh Nana, saat melihat nama lengkap Zen dari kartu identitas yang diam-diam ia ambil dari saku jaket.


Zen tertawa dengan cara Alfa mengucapkan namanya. Padahal tadi waktu diajarkan sudah bisa menyebutkan dengan fasih.


" Ya itu! Gara-gara lidahnya orang jawa, kayak kamu. Pas ngomong Zayn lidahnya pada keplintir. Makanya biar gak keplintir lagi, manggilnya jadi Zen. " Terlihat begitu meyakinkan di mata Alfa dan Raka, cara Zen menceritakan kronologi kejadian nama panggilannya.


Terus kenapa Authornya ikutan nulis Zen bukan Zayn?


Ya kan Authornya pabrikan orang jawa juga, Kak! Takut jempolnya keplintir juga pas lagi ngetik. Hehe.


" Aku lho suka sama Paklek Zen, orangnya lucu. " Alfa jujur dengan apa yang ia rasakan.

__ADS_1


" Paklek! Paklek dulu ketemuannya sama Bulek gimana toh, kok bisa jadian? " Bertanya dengan ekspresi serius.


Gimana ya cara jawabnya? Zen menimbang, mau menjawab atau melewatkan saja pertanyaan sulit ini.


" Tapi kalau kata Paklek, Bulek-ku cantik nggak sih? " Sudah tidak sabar menunggu jawaban Zen dan memilih untuk lanjut ke pertanyaan berikutnya.


Zen senyum-senyum, baru kali ini dia bertemu dengan anak kecil yang model begini.


" Cantik banget, kayak bidadari. " Begitulah Nana dimata Zen.


" Suit... suit... "


" Cuit... cuit... " Raka mengikuti ucapan Alfa.


" Kalau ditempatku itu anak cowok-cowok banyak yang suka sama Bulek Nana. Gak tau kalau disini. "


" Kamu tau dari mana, kalau banyak cowok yang suka sama Bulek Nana? " Dengan paras yang dimiliki Nana itu wajar sih kalau banyak yang suka, tapi rasanya Zen tidak rela mendengar kenyataan itu.


" Tau lah! Orang Bulek Nana sering di kasih bunga sama pacarnya aja, aku tau kok. Iya kan, Mbak? "


Deg. Perasaan Zen menjadi tidak semakin tidak karuan karna ocehan Alfa mengenai masa lalu Nana.


" Apa lho, Dek? " Himma yang tidak mengetahui pembicaraan sebelumnya, karna terlalu fokus dengan game di ponsel yang ia pegang.


" Bulek Nana dulu sering dapet bunga dari pacarnya ya kan, Mbak?"


" Oh... itu namanya Mas Ardi. Kadang-kadang ngasih coklat juga. Kalau sekolah, Bulek sering diantar jemput sama Mas Ardi. " Lebih tepatnya sih berangkat sekolah bareng, karna Ardi adalah kakak tingkat di sekolah Nana. Himma mendekat pada Zen. " Kalau Paklek suka ngasih Bulek apa? Bunga apa coklat? "


Deg deg deg, Zen merasa terintimidasi oleh pertanyaan Himma. Karna ia tidak pernah memberikan coklat maupun bunga pada Bulek-nya, terfikirpun tidak.


" Ini bolanya, Dek. " Nana muncul membawa bola yang tadi ditanyakan Raka. " Mamam kenapa? " Nana mendekat pada Zen yang terlihat lesu, " Mamam kecapek'an ya? "


Zen tersenyum dan menggelengkan kepala. Ia memang tidak merasakan capek pada fisiknya, namun setelah mendengar kisah masa lalu Nana yang diungkap Alfa dan Himma membuat Zen minder. Ia mempertanyakan pada dirinya sendiri, Apakah selama ini ia sudah memberikan yang terbaik untuk Nana, sebagai calon imam yang terpilih untuknya.


Mumum... Mamam nggak bisa menjanjikan apa-apa. Tapi untuk kedepannya, Mamam bakal lebih berusaha untuk mengerti dan membahagiakan Mumum semampu Mamam. Ucap Zen dalam hati.

__ADS_1


Alfa memperhatikan Nana dan Zen yang sedang berhadapan. " Cieh... Paklek sama Bulek pandang-pandangan terus loh. "


Serentak wajah Nana dan Zen berubah merona. Untuk sesaat mereka telah melupakan keberadaan bocah hyperaktif dan super kritis satu itu.


__ADS_2