Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Malam Itu...


__ADS_3

Sebelum alarm yang sudah disetel pada ponsel menyala, Nana sudah terbangung lebih dulu. Ini adalah hari-hari sulit bagi Nana, jangankan untuk tidur nyenyak, makanpun rasanya sulit untuk di cerna. Apalagi semalam ia sudah memaksa matanya untuk terlelap lebih awal untuk menghindari Renata yang tiba-tiba muncul dan memergokinya saat menangis di depan labtopnya.


" Mamam... " Nana memeluk erat guling dan menenggelamkan wajahnya disana.


Kehangatan yang mengalir dari pelupuk matanya seakan tidak terpengaruh sama sekali dengan dinginnya udara malam didalam kamar kost'an. Perasaan rindu yang sudah menggunung berselimut rasa takut akan kehilangan seseorang kembali menyakiti perasaan Nana.


Cukup! Aku nggak boleh kayak gini terus! Nana menghapus air matanya seraya bangkit dari tempat tidur.


Dari awal Nana mensetujui hubungannya dengan Zen, ia sudah mempersiapkan diri juga hatinya untuk mengahadapi perpisahan jika memang harus terjadi suatu hari nanti. Namun rasanya berbeda dengan situasi yang ia alami saat ini, begitu sulit dan menyakitkan, karna jiwa dan raganya sudah kadung terjerat cintanya Zen.


Nana mengeluarkan makalah yang akan dipresentasikan besok dari dalam tas. Ia ingin mengalihkan sebentar pikirannya dari kemelut hubungan cintanya bersama Zen.


Merasa lelah dan bosan, Nana melirik jam dinding yang semua jarumnya menunjuk pada angka empat. Sudah dua jam lebih Nana mempelajari lembaran demi lembaran materi dihadapannya. Sekarang dua bola matanya gantian melirik ponsel yang tergeletak di atas kasur yang sudah beberapa minggu ini ditinggakan penghuninya, Tia. Cukup lama ia memandangi tanpa ada keinginan untuk menyentuhnya, hingga layar ponsel itu menyala sesaat sebelum mengeluarkan nada dering cukup keras.


" Emh! " Nana merasa kaget dengan bunyi alam yang ia setel sendiri.


Setelah mematikan alarm tanpa menggeser sedikitpun posisi ponselnya, Nana menjatuhan tubuhnya ditempat tidur. Membiarkan buku, makalah, tas, labtop maupun ponselnya tetap berserakan diatas kasur Tia. Ia menarik selimutnya hingga menutupi bagian perut dan bersiap untuk tidur lagi, karna sudah tidak ada hal yang bisa ia lakukan di jam segini, apalagi disaat sedang menstruasi seperti saat ini.


Kringgggg.


Dengan mata yang masih menutup, Nana berfikir, apakah ia belum mematikan alarmnya dengan benar tadi? Karna begitu mengganggu pendengaran, Nana meraih ponselnya lalu ia usap sembarangan layarnya, suara deringnya pun berhenti.


" Mum... "


Meski sedang tertutup, namun kelopak mata Nana tidak cukup kuat menahan air mata yang lagi-lagi mendadak mengalir. Suara laki-laki yang sangat ia rindukan terdengar begitu nyata di telinganya.


" Mumum-ku... " Masih suara yang sama, memanggilnya dengan penuh kemesraan.

__ADS_1


Mamam... Mumum kangen... Semakin deras air mata yang kini diiringi suara sesenggukan dari Nana.


" Sayang, kenapa nangis? "


Kenapa suara Mamam begitu nyata? Jangan-jangan aku udah jadi nggak waras gara-gara dia. Karna merasa ada yang ganjal, Nana membuka matanya yang masih berkaca-kaca.


Mamam??? Sejak kapan aku pasang foto ini jadi wallpaper HP? Saat membuka mata, Nana mendapati sosok Zen didalam layar ponsel yang masih berada di genggaman tangannya yang tegak berdiri bersandarkan pada kasur Tia. Nana mengamati sosok itu dengan wajah kebingungan tanpa bisa berucap apapun.


" Mumum kenapa? " Zen melambaikan tangannya. Heran melihat tatapan kosong yang ditujukan Nana padanya, karna dengan posisi ponsel Nana sekarang ini, Zen dapat dengan jelas melihat wajah Nana yang tadinya cerah menenngkan berubah menjadi mendung yang menghawatirkan.


" Mamam ?!?!?! "


Gedebug. Nana tersentak hingga terguling jatuh ke lantai. " Awww....! "


" Mumum! Mumum kenapa? Sayang? " Zen tidak tau apa yang baru saja terjadi pada Nana. Yang diperlihatkan ponsel Nana padanya hanya gambar langit-langit kamar.


" Sayang-ku... " Nana tersenyum mendengar panggilan Zen untuk kesekian kalinya.


" Ini beneran Mamam-ku? Mumum nggak lagi mimpi kan? " Ia ingin meyakinkan diri, dengan bertanya langsung pada Zen.


Zen tersenyum malu, " Iya, Sayang... ini beneran Mamam Zen kamu. Kenapa? "


" Hikss... hiksss... " Jawaban Zen justru membuat Nana menangis lagi.


" Kenapa Mumum malah nangis? Nggak seneng ya ditelfon sama Mamam? "


" Mamam nggak benci sama Mumum?" Teringat dengan permasalahan yang selama ini ia hawatirkan.

__ADS_1


" Benci? " Zen befikir. " Maksudnya benar-benar cinta sama Mumum? Kalau itu udah pasti, Sayang... cinta Mamam kan emang udah buat Mumum semua, nyampe udah nggak ada sisa lagi. " Tersenyum bangga.


Perpisahan yang selalu ada dalam pikiran Nana hanya ketakutan Nana sendiri yang tidak mungkin terjadi pada hubungannya dengan Zen. Usia matang dan pemikiran dewasa Zen menumbuhkan kesabaran yang luar biasa untuknya menghadapi tingkah laku Nana yang meski terkadang menyulitkannya untuk mengikuti.


" Jadi Mamam nggak bakal mengakhiri hubungan kita? " Zen mengernyitkan dahi. " Yang masalah di KUA itu lho. "


" Kenapa? Mumum mau macem-macem? Mamam itu nggak bakal ngelepasin Mumum. Apapun yang terjadi Mumum harus jadi istri Mamam untuk mempertanggungjawabkan perbuatan Mumum ke Mamam. "


" Emang Mumum udah berbuat apa sampi harus bertanggungjawab? " Tidak mengingat satupun dosa yang pernah ia perbuat pada Zen.


" Masih tanya berbuat apa? Emang Mumum nggak merasa apa, kalau Mumum itu udah bikin Mamam rindu berat sama Mumum setiap harinya. "


" Bohong! " Teriak Nana sambil menutupi wajah dengan salah satu tangannya untuk menyembunyikan senyuman.


" Mum... " Zen tersenyum malu sebelum menyelesaikan kalimatnya.


" Mumum cantik! " lanjutnya.


" Hish, Ngece! Orang baru bangun tidur dibilang cantik. " Diam sejenak menatap Zen yang juga menatapnya dengan wajah malu.


" Eh! " Nana seperti tersadar saat ia menyelipkan rambut panjangnya yang tergerai dibelakang telinga. Spontan Nana melemparkan ponselnya keatas kasur Tia.


Ini adalah pertama kalinya Zen melihat Nana tanpa mengenakan hijab diatas kepalanya.


" Mamam nakaaaallll!! Kenapa nggak bilang dari tadi kalau Mumum belum pake kerudung. "


Ini adalah pertama kalinya juga buat Nana memperlihatkan kepala tanpa hijabnya pada laki-laki selain mahromnya. Meskipun itu Zen, meskipun itu hanya di layar ponsel, tetap saja itu adalah aurat yang perlu ia tutupi.

__ADS_1


__ADS_2