
Nana sudah menyelesaikan perasaannya di pelataran parkiran. Meski masih ada rasa sesak, namun sudah bisa dianggap selesai. Karna air matanya sudah tidak dapat keluar lagi.
Belum juga genap jam sembilan malam, sekat antara ruang tamu dengan parkiran sudah terpasang. Menyisakan satu pintu berukuran satu kali dua setengah meter, untuk Nana memasuki rumah kostnya.
" Assalamu'alaikum. " Nana membuka pintu.
Suasana sepi begitu terasa dilantai satu. Meski tidak sesepi suasana hati Nana, sepeninggal Zen. Raut wajah yang sembab dan penampilan kusutnya memperlihatkan seberapa kacau perasaannya saat ini.
Ia berjalan menuju dapur, membasuh wajah sembabnya di kran tempat mencuci piring. Nana tidak mau jika wajah sembabnya hanya akan menjadi olokan Tia, teman sekamarnya.
Perlahan Ia menapaki anak tangga. Rasa letih di tubuhnya mulai terasa. Di tambah nafas yang berat dan hangat. Juga kepala yang terasa semakin berat, seperti ikut membebani langkahnya menuju kamar.
Di lantai dua Tia dan lainnya sudah menanti kedatangannya. Mereka baru saja menyaksikan sebuah drama perpisahan yang disiarkan secara langsung dari bawah jendela kamar. Posisi kamar Nana yang berada tepat diatas pintu gerbang rumah kost, memungkinkan siapapun yang berada di balik jendela kamar itu dapat leluasa melihat apapun kejadian yang terjadi di sekitar jalanan didepan rumah kost mereka.
Jegrek. Nana menekan handle pintu kamarnya. Pintu pun terbuka. Dilihatnya sekumpulan orang berada didalamnya sedang duduk santai diatas kasur atas dan bawah, bersikap seolah tidak melihat adegan yang baru saja dilakoni Nana di depan gerbang bersama Zen.
" Dari mana aja kamu? Habis ngapain? Anak kecil jam segini baru pulang! " Tia tidak memperdulikan wajah dan penampilan kusut Nana.
Mereka telah melewatkan adegan terpenting dari drama yang mereka saksikan dari bawah jendela. Adegan dimana pemeran utama wanitanya sedang menangis dibalik pintu gerbang, karna meratapi perpisahannya dengan pemeran utama pria.
Bukannya mereka sengaja melewatkan adegan tersebut. Hanya saja tempat adegan itu berlangsung sudah tidak dapat di jangkau oleh penglihatan mereka dari jendela kamar Nana.
" Ya kan dari klinik. " Jawab Nana datar.
Dasar! Maki sekumpulan orang itu dalam hati.
Sore tadi ketika Dian dan Tia mendatangi klinik untuk menjenguk Nana, mereka sudah tidak menemukannya disana.
" Ini aku bawa jajanan. Tapi janji jangan diomeli lagi ya? " Nana menyerahkan satu kantung plastik jajanan.
Zen sengaja membungkuskan jajanan itu untuk teman-teman Nana. Agar mendapat dukungan dari mereka. Dukungan berupa menjaga Nana agar tidak tergoda dengan laki-laki saat sedang tidak bersamanya. Walau akhirnya itu menjadi jajanan gratisan dari teman lamanya.
Wajah-wajah datar didalam kamar itu seketika berubah menjadi sumringah, menerima bungkusan dari Nana.
" Gitu dong! "
" Adek kecil baik deh! "
" Wow, banyak banget. Habis ngrampok dari mana kamu? "
Kata-kata mereka untuk melegakan hati Nana atas oleh-oleh yang mereka terima.
" Enak aja, dibilang ngrampok! "
Nana beneran nggak ngrampok kok! Malahan hatinya sendiri yang kayak habis kerampokan. Habisnya terasa kosong banget sih, meski lagi bareng sama kalian. Hehehe.
__ADS_1
Memandang Nana heran, " Kok kamu kusut banget sih, kayak orang gila gitu! " Ucap Renata yang baru saja masuk ke kamar Nana, setelah menyelesaikan hajadnya didalam kamar mandi.
Nana tersenyum, Iya aku gila! Gila gara-gara cinta. Puas !?!
Namun Nana tidak mampu mengungkapkan kalimat itu pada Renata. Karna Ia sedang tidak memiliki cukup tenaga untuk berdebat.
" Pantes aja, sepi! Ternyata habis dapat sajen toh kalian! " Pandangan Renata teralihkan pada sekantung jajanan di atas lantai kamar.
" Sebenarnya itu yang beli bukan aku. " Semua pasang mata yang ditangannya memegangi jajanan, menatapnya. " Itu dari Mamam-ku, buat kalian. " Nana cengengesan.
" Ooooohhhh. " Ucap mereka serentak.
" Ini pasti sogokan buat kita. " Tia yang lebih tua dapat membaca situasinya.
" Kamu nggak makan? " Menatap Nana.
" Nggak ah, udah kenyang. " Kenyang dengan air mata maksudnya.
Meski kesedihan yang baru saja Nana alami cukup menguras tenaga, namun tidak sedikitpun ada selera untuk memakan jajanan yang Ia bawa sendiri. Karna yang Ia butuhkan saat ini bukanlah asupan makanan, melainkan asupan kasih sayang lah sepertinya yang paling tepat untuk kondisinya sekarang ini.
" Ternyata baik juga tuh si manis jembatan Ancol. " Maimunah berucap seperti tanpa dosa, sambil memakan jajanan.
Nana menghentikan aktifitasnya memilih baju ganti didalam lemari, " Siapa maksudnya si manis jembatan Ancol? "
" Wah parah kamu, May! Masa kamu ngatain Zen, si manis jembatan Ancol. " Eva memanaskan suasana.
" Kok aku? " Dian mengelak.
" Ya dulu kan kamu pernah bilang, kalau manisnya senyum mas Zen itu bikin terniang-niang dikepala, seperti hantu. Kamu ingat kan, Ren? " May meminta kesaksian Renata.
Itu adalah saat pertama kali Dian bertemu Zen. Dimana dia begitu terpesona dengan senyuman Zen yang diperlihatkan padanya. Namun setelah Ia mengetahui kenyataan bahwa Zen bukanlah kakak Nana, melainkan tunangannya. Mulai saat itu Dian mengubur dalam-dalam keinginannya untuk mendekati Zen.
" Wah, Dian parah banget! " Eva lagi.
" Ingat sih, tapi seingetku yang mengibaratkan Zen kayak si manis jembatan Ancol itu kamu deh May! " Dian mengajak tos teman sekamarnya, Renata. Karna sudah mau memberikan kesaksian yang sebenar-benarnya.
" Hahaha... Hahahaha... Hahhaha... " Mamam-ku di katain si manis jembatan Ancol.
" Hahaha... Hahaha... Hahaaha... " Nana membawa tawanya hingga masuk ke dalam kamar mandi.
Sedangkan yang lainnya saling tatap-menatap satu sama lain. Ada perasaan hawatir yang berkumpul disana untuk Nana. Meski beda usia, beda semester, beda jurusan, beda kelas ataupun beda kamar, tidak menjadi penghalang untuk mereka mengeratkan tali persahabatan.
Karna mereka bukanlah warga asli kota Semarang, mereka datang dari berbagai kota di Indonesia. Tidak ada keluarga atau sanak saudara disana yang dapat mereka andalkan kecuali teman. Dan begitulah persahabatan mereka bermula.
Berada dibawah satu atap rumah, membuat rasa saling memiliki dan kepedulian untuk satu sama lain, tumbuh dihati mereka. Meski mereka memiliki cara yang berbeda untuk mengungkapkannya.
__ADS_1
***
Saat Nana kembali ke kamar, hanya ada Tia disana.
" Tumben, jam segini udah pada bubar? " Ucap Nana sambil menggosokkan handuk pada rambut basahnya.
Bisa dibilang kamar Nana adalah tempat favorit mereka untuk berkumpul di lantai dua.
" Badan kamu udah enakan, Dek? " Tia balas bertanya dan mengabaikan pertanyaan Nana.
" Udah mendingan sih. Cuma tinggal kepalanya aja yang masih berat. "
Perasaan tadi pas bareng Mamam udah enakan deh! Nana mengingat-ingat kembali.
Mungkin rasa lelah, lahir maupun batin lah yang menjadikan penyakitnya terasa kembali.
" Udah sana langsung istirahat. Obatnya udah diminum kan? "
Nana mengangguk, " Udah. Aku mau sholat isya' dulu, habis itu baru istirahat. "
***
Jeglek. Pintu kamar terbuka lagi, berbarengan dengan suara panggilan yang keras.
" Na! "
" Husttttt! " Tia menekankan telunjuknya pada bibir.
" Ups! " Renata menutup mulutnya. " Dia udah tidur, Mbak? " Tia mengangguk.
Renata mendekati tubuh yang sudah terlelap dalam balutan selimut warna merah muda. Ia meletakkan tangannya diatas kening Nana, memastikan keadaannya saat ini.
" Engh. " Nana mendesah dalam tidur.
" Mbak! Badannya panas banget kie. " Renata merasa hawatir.
" Yang bener? Tadi dia bilang udah enakan tuh. "
Tia mengambil kompres di laci meja, lalu menempelkannya di kening Nana.
" Mbak itukan kompres buat anak kecil! " Renata memprotes Tia.
" Emangnya Nana udah besar ya? "
Renata yang terbiasa tertawa terbahak-bahak berlari keluar dari kamar Nana. Karna Ia hawatir suara tawanya hanya akan mengganggu tidur Nana yang masih demam.
__ADS_1
Dalam keadaan sehat maupun sakitnya Nana, mereka masih saja suka berbuat iseng padanya.