
Mamat melambaikan tangan sebagai tanda dukungannya pada Zen. Sedangkan Zen mengangguk sebagai tanda terima kasih karna sudah membantunya menyingkirkan lalat pengganggu disekitar Nana.
Zen tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Dia segera menghampiri Nana sebelum datang lalat pengganggu lainnya. Dalam diam Zen langsung duduk disamping Nana.
" Kok udah balik lag..." Nana menghentikan ucapannya saat sadar orang yang berada disampingnya adalah Zen, dan bukannya Bari.
Karna masih kesal, Nana langsung berdiri. Nana berniat untuk pergi menghindar, namun tangan panjang Zen sudah lebih dulu meraih dan menggenggam tangannya.
" Jadi, Mum lebih seneng duduk ditemeni Bari daripada aku?" Ada rasa kecewa, namun Ia sadar posisinya sekarang.
Bari ? Nana baru mengingat nama teman yang tadi duduk bersamanya. Emangnya dia tadi lihat aku sama Bari tah?
" Ya iyalah, dia kan nggak pernah hianati aku!" Jawab Nana ketus.
" Duduk dulu sini." Zen menepuk-nepuk pasir disampingnya. " Nggak baik, lagi marah gini ngobrol sambil berdiri."
" Udah tau orang lagi marah, malah diajakin ngobrol !"
Zen menarik tangan Nana, yang menjadikannya oleng lalu jatuh dipangkuan Zen. Sesaat mata mereka beradu pandang. Zen tersenyum senang, yang membuat Nana sadar, kemudian memalingkan wajah dan menjauhkan dirinya dari Zen. Karna sekarang bukan saatnya menganggap hal itu sebagai adegan romantis dalam kisah mereka.
" Jatuh kan. Makanya kalau disuruh duduk nggak usah ngelawan." Ucap Zen sambil mendekatkan diri pada Nana.
Nana kembali menggeser tubuhnya agar ada jarak antara dia dan Zen. Namun Zen menghapus jarak yang diciptakan Nana, dengan menggeser tubuhnya mendekat pada Nana. Kejadian itu berulang-ulang sampai beberapa kali.
__ADS_1
" Kamu ngapain sih ! Jauh-jauh sana nggak. Kalau masih ngikutin terus, tak tinggal pergi lho." Nana mengancam Zen sambil menggeser lagi tempat duduknya.
" Iya udah deh, aku ngalah." Menarik nafas panjang lalu Ia hempaskan.
" Ternyata gini ya rasanya dicemburui."
" Idih, enak aja ! Siapa juga sih yang cemburu. Nggak usah Ke PD an deh!" Nana ngotot mengelak.
" Cantikan juga aku ini." Lanjutnya lirih.
Zen tertawa lepas, mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Nana. Dalam keadaan seperti ini masih sempat-sempatnya narsis.
Masa iya dia denger ucapanku...
" Kenapa ketawa ? Nggak terima kalau aku bilang lebih cantikan aku dari pada dia ?" Bagaimana jika Zen membenarkan ucapannya yang terlampau percaya diri ini.
" Iya. Mum-ku kan emang paling cantik sedunia ! Lagi ngambek aja cantiknya masyaAllah, apalagi kalau lagi senyum ya." Ada senyum tipis yang tertangkap Zen sesaat sebelum Nana memalingkan wajahnya.
" Mum..."
" Hmmm."
" Hayo! Dicariin ternyata malah disini." Suara yang mencoba mengagetkan Zen dari belakang.
__ADS_1
Dengan mesranya Zen memegangi tangan gadis itu yang bertumpu dikedua pundaknya. Nana memalingkan wajah dari pemandangan yang mencabik-cabik hatinya.
Kamu harus kuat, Na. Kamu nggak boleh terlihat lemah didepan pelakor dan penghianat itu. Matanya mulai basah.
" Udah puas berenangnya?" Zen memandangi gadis itu dan melupakan keberadaan Nana.
" Nggeh." Lemah lembutnya suara gadis itu membuat Nana semakin risih. " Aku mau berjemur dulu sebelum pulang."
Ngapain sih mereka? Mau pamer? Nana beranjak dari tempat duduk. Matanya terasa panas, karna tidak mampu menahan desakan air mata disana.
Lagi-lagi Zen berhasil meraih tangan Nana, saat Ia mau pergi menghindarinya untuk kesekian kali.
" Mau kemana?" Nana melirik gadis yang tidak tau diri itu sambil mencoba melepaskan tangan Zen dari tangannya.
" Lepasin !"
" Kenalan dulu sama bidadariku yang satu ini."
" Ih, kebiasaan deh !" Yang dimaksud sebagai bidadari merasa malu, lalu membenamkan wajahnya dipunggung Zen.
" Hah!" Nana tidak dapat mempercayai apa yang baru saja Ia dengar dan Ia lihatnya.
Kamu itu nganggap aku apa, Mam? Dengan entengnya kamu sebut dia bidadari didepanku? Jahat, kamu jahat Mam. Sakit, perih, pedih Nana rasakan semua dalam dadanya. Namun tanpa sadar didalam batinnya, Nana masih sempat memanggil Zen dengan nama kesayangannya.
__ADS_1