
Tidak mendapat jawaban pasti tentang penolakan lamaran, Nana menjadi kesal. Dia memilih masuk kedalam kamarnya, yang berada di samping ruang tempat dia menonton TV tadi. Melemparkan tubuhnya diatas kasur, dan matanya menatap hampa langit-langit kamar yang terang.
Nana bangkit mencari keberadaan ponselnya. Karna hatinya sedang kesal, Ia putuskan hubungan ponsel dan chargernya dengan kasar. Lalu kembali merebahkan tubuhnya diatas kasur. Nana menempelkan dua jari diatas layar hitam ponsel, menariknya turun bersamaan. Sesaat kemudian terdengar senandung musik dari ponselnya.
Siksaan macam apalagi ini ?! Disaat hati gundah gulana mengharapkan penghiburan, kenapa harus lagu ini yang kudengar. hikkk...hiikk...
Menindihkan lengan kanannya tepat di mata. Sedangkan tangan kiri mengelus dada yang terasa nyeri, lalu mengangkatnya kembali untuk melihat telapak tangannya yang tentu saja putih bersih, Inikah yang dinamakan sakit tapi tak berdarah ? Gumannya lagi.
Lagu itu bisa dibilang menjadi soundtrak jalinan cintanya dengan sang mantan terindah, Ardi. Dan dia adalah satu-satunya pacar yang dilegalkan Ayah dan satu-satunya yang berani memutuskan hubungan terlebih dulu dengan Nana, sang primadona di SMA.
" Kak Ardi..." Jerit Nana tertahan.
Walaupun sudah diputuskan setahun yang lalu, namun Nana masih menyimpan dengan baik perasaannya. Bukan karna tidak tau malu, namun bagi Nana kisah cintanya bersama Ardi terlalu indah untuk digantikan dengan kisah lainnya. Itu yang menjadikanya kuat untuk tidak berpacaran lagi. Ya kalau godaan sih tetap ada, namun nyatanya dia dapat bertahan setahun ini.
Entah bagaimana cerita sekarang. Disaat dia ingin mengubur semua kenangannya di Lampung untuk memulai hidup barunya di Jawa sebagai mahasissa, Nana malah terhubung lagi dengan Ardi.
Jeegrek. Suara handel pintu kamar ditekan.
__ADS_1
" Na... Nana..." Suara lembut ibu mengagetkan Nana yang ternyata terbuai oleh lagu yang diputar ponselnya. Tertidur untuk sesaat.
" Injeh, Bu..." Jawab Nana malas-malasan, teringat kejadian tadi pagi menjelang siang.
" Udah jam dua, Na. Cepetan sholat trus makan."
Tanpa menjawab ibu, Nana bangun melihat layar ponsel yang sudah selesai memutar daftar lagunya. Buru-buru dia pergi ke kamar mandi, berwudhu lalu mengerjakan kewajibannya. Tapi dia tidak menyentuh piring yang sudah disediakan Ibu dimeja makan. Karna masih ada kemarahan dihatinya.
Nana memilih duduk di sofabed yang tergelar depan TV, bersandar pada tembok dingin yang sama sekali tidak dapat mendinginkan hatinya saat ini. Ibu menghampiri Nana disusul Ayah setelahnya.
" Ciee...ciee... yang habis dapat lamaran." Ayah yang sudah mendengar ceritadari Ibu, coba menggoda anak kesayangannya.
" Kan Nana mau kuliah..."
" Trus...?" Ayah masih ingin menggoda.
" Ya Nana gak mau lah kalau dicarian jodoh! " Seru Nana sambil menggencet hidung Ayah dengan jari jempol dan telunjuknya. Sudah menjadi kebiasaan Nana dari kecil, karna dendam pada hidung mancung Ayah yang tidak diturunkan pada bentuk hidungnya.
__ADS_1
" Aaaaaa Ampun! " Jerit Ayah mengelus hidung, saat Nana sudah melepaskan tangannya sambil tertawa puas.
" Tapi hitungan weton kalian cocok lho..." Ayah tersenyum.
Kenapa sampai membahas weton?! Apa ini akhir dari hidupku ya Allah. hiikkk. P**erih hatiku. Nana terdiam, sudah tidak memiliki kata untuk membalas ucapan Ayahnya.
Dalam batin Nana sudah pasrah. Ayah adalah teman terdekat Nana, tempat Nana mengadukan semua masalahnya di sekolah. Termasuk saat dia berpacaran dengan Ardi. Walau hatinya ingin melawan, tapi sepertinya percuma kalau Ayah sudah menyukai laki-laki yang baru saja mengajukan lamaran itu. Karna Nana tidak punya keberanian untuk mengecewakan Ayah, yang selalu bisa memberikan apa yang tidak bisa Ia dapatkan dari Ibu.
" Lha trus kamunya gimana, Nduk?" Dengan hati-hati Ibu bertanya.
" Emmm... " Masih berfikir harus jawab apa.
" Apa bulek melamar untuk dek Rif'an, Bu?"
" Buat kakaknya, Zen..."
" Zen ?! " Nama yang asing bagi Nana. Karna yang dia tau, anak laki-laki Bulek cuma Rif'an. Karna Rif'an adalah teman sepermainan Hafid.
__ADS_1
Wait...wait... Kalau dek Rif'an aja seumuran sama mas Hafid terus dek Zen ?!? Pikiran Nana melayang, walau tidak ada angin yang cukup kuat untuk menghempaskannya.