
Nana tak mampu berkutik dalam posisinya sekarang. Di tambah lagi, dengan kondisi kedua tangannya berada dalam genggaman Zen. Ia hanya bisa memejamkan matanya, meski sesekali ia mengintip wajah Zen yang begitu dekat dengan wajahnya, hingga ia dapat merasakan hangatnya deru nafas Zen.
Ini kita lagi main adegan apaan sih, Mam? Pertanyaan yang tidak mampu disuarakan oleh Nana.
Meski sudah menjadi suami Nana, dan berhak atas tubuh Nana, Zen merasa takut untuk melampiaskan nafsunya yang sudah terpancing.
Dengan perasaan yang berdebar, Zen memulai aksinya dengan mencium kening Nana dengan lembut, kemudian hidung, dan berlanjut pada bagian yang paling ia nantikan, yakni bibir merah Nana. Bibir tebal yang selama ini selalu menggoda matanya.
" Sayang. " Suara Nana terdengar berat.
" Hem. "
Seperti orang yang ketagihan, Zen mengulangi mengecup bibir Nana, kini lebih dalam, dan dengan durasi yang lebih lama dari sebelumnya.
" Hah... hah... " Nana sampai terengah-engah karna perbuatan Zen itu. " Mam... "
" Dalem Sayang... "
" Emang beneran nggak apa-apa ya, kita berbuat kayak gini? " Nana masih ragu dengan apa yang sedang ia dan Zen perbuat.
__ADS_1
" Hah? "
Seketika Zen langsung melemas, dan menjatuhkan kepalanya tepat di atas dada Nana. Tentu saja perbuatan Zen ini, berimbas pada pernafasan Nana yang menjadi sesak. Bukan karna beban kepala Zen yang berat, tapi karna beban keperawanan yang kini masih ia emban. Perasaan geli, nikmat dan juga mendebarkan berkumpul di dadanya.
Sambil tangan kanannya menekan pipi kiri Nana, Zen seperti mengecup paksa pipi kanan Nana. " Emmuah! Kenapa baru menanyakannya sekarang sih?! " Ucap Zen dengan gemas. " Bikin gregetan Mamam aja! "
" Ya masa lih, Mam. Cuma bilang kayak gitu tok, terua kita jadi bebas ngapa-ngapain. "
" Gitu tok, kata Mumum??? " Zen tidak terima dengan pernyataan Nana di atas.
" Ya kan Mamam-nya cuma bilang, saya terima nikahnya Mumum binti bla bla bla, terus udah. Nggak berasa apa-apa, ada greget-gregatnya sama sekali, Sayang... "
Setelah beberapa saat kemudian.
" Udah kerasa belum? " Ucap Zen bangga, setelah melepaskan lum*tannya pada bibir Nana.
" Hah... Hah... Hah... " Nana terengah-engah.
" Kalau belum, Mamam mau kok nambahin lagi. "
__ADS_1
Karna malu dengan Zen dan juga dirinya sendiri, Nana mencoba menyembunyikan wajahnya di dada Zen.
" Mamam nakal! " Sambil memukul Zen.
Merasa puas sudah membuah Nana tidak berkutik, Zen langsung mengambil alih lagi tubuh Nana dengan menindihnya.
" Dengerin baik-baik ucapan Mamam. Mulai sekarang, Mumum harus selalu ingat. Kalau mulai dari ujung sini. " Zen memaninkan rambut panjang Nana. Kemudian membuat garis, mulai dari ubun-ubun terus bergerak ke bawah menyususi bagian hidung, bibir, janggut, leher, perut dan terus bergerak hingga...
" Aaaahhh! " Lenguh Nana. Bagian paling sensitif dari tubuhnya baru saja di lalui garis batas yang dibuat oleh Zen menggunakan bibirnya.
" Sampai ujang sini. Semuanya sudah sah menjadi milih Mamam. Dan terserah Mamam, mau pakai cara apa untuk menggarapnya nanti. Yang penting, tidak sampai menyalahi aturan yang sudah ditetapkan oleh agama kita. "
Nana terdiam, dia sudah terbuai dengan gejolak yang bergelora dalam tubuhnya. Dengan sigap, Zen membantu Nana untuk berpindah ke posisi yang lebih nyaman.
Di tengah ciumannya, Zen berbisik di telinga Nana, " Sayang, Mamam udah gairah banget. Mumum mau kan melayani nafsu Mamam. "
Nana mengangguk, " Mumum ikhlas, Sayang... lakuin apa yang Mamam suka. "
Tidak mau menyia-nyiakan izin yang sudah ia dapatkan, Zen langsung mempekerjakan kedua tangannya untuk membantu melampiaskan nafsu yang sudah ia tahan selama lebih dari dua tahun ini.
__ADS_1
" Aaaaahhhhhhhhhh! Mamam.... "