
Nana duduk manis di depan cermin, membiarkan tangan Zen bekerja melepaskan satu persatu jarum pentul dan peniti, serta aksesoris yang menghias di kepalanya.
" Kalau ini di cabutin kayak gini, nanti Mumum-nya nggak berubah jadi sundel bolong kan? " Sambil mencabuti hiasan yang berbentuk tusuk konde di kepala Nana.
" Kalau berubah, emangnya kenapa? Mamam takut? "
" Hehehe. Kalau sundel bolongnya secantik ini sih, Mamam nggak bakal nolak di gangguin setiap hari. " Sambil mendekap kepala Nana dari belakang. Kemudian mengecup ubun-ubun Nana lama. " Terimakasih Sayang, udah memilih Mamam jadi suami Mumum. "
Nana membalas perlakuan Zen dengan mengelus pipi Zen yang sekarang berada di pundaknya.
" Sama-sama, Mamam-ku sayang... Eh, Kangmas-ku nding! " Nana cekikikan setelah mengucapkan kalimatnya.
Lagi-lagi momen romantis mereka berakhir tragis karna perbuatan Nana.
" Dek Zen, ada temen-temen kamu di depan. " Suara Sukma di depan pintu kamar.
" Kangmas mau kemana? " Ucap Nana manja. " Jangan tinggalin Diajeng. " Nana mencegah Zen pergi dengan memegangi tangannya.
" Mau minggat! Mamam mutung! "
Karna terus menjadi bahan guyonan Nana, Zen jadi malu dan menyesali telah menggunakan julukan ningrat untuk penyebutan nama Nana saat ijab qabul.
Nana mendekatkan pada Zen. Sambil malu-malu ia menempelkan kepalanya si punggung suaminya, sambil berucap pelan. " Makasih. Mamam sudah buat Mumum jadi perempuan paling beruntung di dunia ini. " Tanpa sepengetahuan Nana, Zen tersenyum senang. Apalagi saat mendengar kalimat Nana berikutnya. " Mumum cinta banget sama Mamam. "
" Mumum ngomong apa sih? " Zen pura-pura tidak mengdengar apapun.
Dihadapan Zen, Nana terdiam. Wajahnya memerah karna menahan rasa malu. Ia yang biasanya sangat lancar dalam mengungkapkan apapun yang ada dalam benaknya pada Zen, sekarang seperti sedang kehilangan jati diri.
" Mumum mau minta tolong, bukain rek sleting baju Mumum. " Jawab Nana sambil membelakangi Zen.
Nana menggigit bibir bawahnya, Kok jadi deg-degan kayak gini sih!
__ADS_1
Zen sendiri malah jadi semakin gemas terhadap Nana, karna perubahan sikapnya ini.
Mamam juga cinta banget sama kamu, Mum!
***
Zen sudah keluar menemui tamunya dan meninggalkan Nana sendirian di dalam kamar. Hari sudah malam, Umam dan semua krunya sudah pulang sejak sore. Mau tidak mau, Nana harus merapikan gaun pengantinnya sendiri sebelum dimasukkan ke dalam boks besar yang berlogo Umamy Wedding di bagian penutupnya.
" Na, kamu mau mandi kapan? Airnya udah mau umup ini loh. " Teriak istri Rahmad dari dapur.
Sebelum ia dan Zen masuk kamar, ia meminta tolong untuk direbuskan air pada istri Rahmad yang kebetulan sedang berada di dapur. Karna sudah malam, ia ingin mandi menggunakan air hangat.
" Iya Mbak, sebentar! " Nana mempercepat proses penghapusan make up dari wajahnya.
Sebelum keluar kamar, Nana memeriksa kembali meja riasnya. Siapa tau masih ada aksesoris atau benda lainnya yang tertinggal disana. Karna jika sampai ada yang hilang, Umam pasti nggak akan berhenti mengomel padanya.
Nana menggeser parsel seserahan yang memenuhi tempat tidurnya, hingga ada cukup ruang untuk merebahkan tubuhnya yang sudah segar dan harum setelah mandi.
Belum ada lima menit menunggu, pandangan Nana terasa semakin kabur dan akhirnya ia terlelap sendiri di antara bingkisan-bingkisan, yang tadinya ingin ia bereskan setelah meluruskan tulang punggung sebentar.
" Dek... Nana... Ayo bangun. "
" Hem? " Nana kaget. " Kenapa, Mbak? " Dalam keadaan setengah sadar ia bertanya pada Sukma yang telah membangunkannya.
" Itu lho ada Dek Zen, kamu tidurnya yang bener. "
Mendengar Sukma menyebut nama Zen, Nana langsung tersadar dan mencari keberadaan laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya.
" Tak tinggal ya, Dek... "
Tanpa menunggu jawaban dari Nana maupun Zen, Sukma sudah lenyap dari hadapan pasangan pegantin baru itu. Karna Sukma tidak mau menjadi orang ketiga di antara mereka.
__ADS_1
" Sayang... " Ucap Nana sambil meraba keberadaan belek di matanya. Karna ia tidak mau kelihatan jelek di hadapan Zen.
" Nyeyak tadi tidurnya? " Nana mengangguk. " Emm... kasihan Mumum-ku, jadi kebangun gara-gara Mamam. "
Nana baru teringat tentang niatnya memberesakan bingkisan-bingkisan dari tempat tidurnya, agar bisa ditempati oleh Zen untuk beristirahat.
" Eh! " Nana celingukan.
Lha kok udah rapih?
Saking nyenyaknya, Nana sampai tidak menyadari keberadaan Sukma dan Yuni yang bekerjasama membereskan segala ketidak selarasan di dalam kamarnya. Hingga layak disebut sebagai kamar pengantin baru.
" Kenapa sayang? " Tanya Zen saat duduk di samping Nana.
Nana menggeleng. Pluk. Sebuah karet rambut jatuh tepat di samping Nana. Panik, Nana mencari benda di sekitar yang bisa ia gunakan untuk menutupi kepalanya.
" Mumum kenapa? " Semakin heran dengan tingkah Nana yang menutupi kepalanya dengan sajadah.
" Mamam kok nggak ingetin Mumum, buat pake jilbab sih? "
Nana merasa malu sekaligus risih. Ini adalah kali kedua Zen memergokinya tanpa mengenakan hijab, setelah kejadian vidiocall dulu.
Mumum lupa apa gimana sih? Mungkin karna efek baru bangun dari tidur, begitu pikir Zen.
Sambil senyum-senyum Zen menggeser tubuhnya untuk lebih dekat dengan Nana. Nana merasa takut dengan pandangan dan gelagat Zen yang terasa tidak baik itu.
" Mamam mau ngapain sih? " Memiringkan tubuhnya untuk menciptakan jarak dengan Zen.
" Mau menuntut hak-nya Mamam. "
" Mamam! Jangan aneh-aneh deh. Mumum teriak nih! "
__ADS_1
Ancaman Nana malah membuat Zen semakin bersemangat untuk menuntut hak-nya malam ini.