Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Hari 'H' 2


__ADS_3

Dari sekian banyak rombongan yang ikut dalam iring-iringan, terlihat ada seorang anak dengan penampilan yang sangat mencolok. Anak laki-laki dengan kisaran usia tujuh tahun itu hanya mengenakan popok bayi untuk menutupi tubuhnya yang sangat putih. Warna itu berasal dari bobok (ramuan tradisional yang terbuat dari tepung beras dan rempah-rempah lainnya) yang di oleskan oleh anak-anak karang taruna padanya.


Anak orang ini! Sambil tertawa, Zen dan teman-temannya menggarap anak itu tadi pagi.


Dengan upah lima puluh ribu yang sudah di janjikan, anak itu patuh dan merelakan tubuhnya menjadi bahan kejahilan para seniornya yang tidak bertanggungjawab.


Selain menjadi bahan tontonan warga, Zen memberikan tugas khusus pada anak itu. Yakni membawa benda spesial yang minta oleh ibu Nana, sebagai syarat untuk menikahi anak gadisnya hari ini.


Sesampainya di ujung jembatan yang menjadi penghubung wilayah tempat tinggal Zen dan wilayah tempat tinggal Nana, rombongan menghentikan langkahnya. Namun tidak dengan kakak ipar Zen yang membawa ayam jago ditangannya. Ia berjalan sendirian menuju jembatan.


" Siap? " Ucapnya keras.


Tanpa menunggu jawaban dari orang-orang yang sudah bersiap di sekitar jembatan. Ia langsung melemparkan ayam tersebut ke sungai.


" Kukuruyukkkkkkk. " Kokokan Ayam yang hampir menyentuh air sungai itu, sudah seperti ucapan selamat tinggal.


Orang-orang yang sudah menjeburkan diri ke sungai, berlomba-lomba menyelamatkan hidup ayam yang sudah rela di jadikan korban, untuk penyatuan cinta Nana dan Zen.


Meski tidak tau asal-usul maupun maksud sebenarnya, Namun adat yang diperuntukan bagi calon pengantin yang akan melewati sungai ini masih berlangsung sampai sekarang. Selain untuk menambah semaraknya iring-iringan, hal ini sudah menjadi hiburan yang paling di nanti-nanti oleh warga.


***

__ADS_1


Selesai di make up oleh Umam, seorang perias yang dulu pernah meriasnya di acara nikahan Aisyah, Nana dibantu dua asisten Umam mengganti bajunya dengan kebaya putih dan jarik instan, yang sudah di siapkan Umam.


Sambil merapihkan baju yang sudah dikenakan Nana, Umam iseng-iseng bertanya dengan gaya centil, khas dirinya saat sedang berdandan layaknya perempuan seperti ini.


" Jeng, kok kamu bisa mau sih, sama Mas Zen? " Tua, Item, tapi kalau lagi senyum, kebangetan manisnya.


" Ya mau gimana lagi, Mas. Aku kan nggak punya pilihan lain. Cuma dia yang mau sama aku. " Nana terlihat serius.


Ia sendiri sudah lupa, bagaimana awalnya dulu ia bisa memiliki perasaan terhadap Zen, laki-laki yang hari ini akan menjadikannya sebagai seorang istri. Karna jika di ingat-ingat saat awal perjodohannya dulu, selamanya ia merasa tidak akan mungkin sanggup untuk mencintai Zen, yang usianya jauh diatasnya itu.


" Tau gitu, dari dulu aja, aku tikung kamu, Jeng. "


Bukannya marah, Umam bersama dua asisten perempuannya malah mentertawakan ucapan polos dari Nana.


" Ya iya lah! Kamu pikir aku apaan. " Umam menggunakan suara aslinya.


Suara tabuhan rebana, terdengar semakin keras sampai kamar Nana. Pertanda, bahwa iring-iringan Zen sudah semakin dekat.


Dag... Dig... Dug...


Dag... Dig... Dug...

__ADS_1


Dag... Dig... Dug...


Itu adalah debaran milik Nana. Bukan suara rebana yang sedang ditabuh diluar sana. Meski sama-sama menghentak keras.


" Dek, dicariin temen kamu. " Dinda mengintip ke dalam kamar Nana.


" Loh, udah nyampe toh? Kok nggak pada ngabari sih. " Nana terlihat sangat senang.


" Bilangin ke mereka ya Mbak, tunggu bentar. "


Sebelum keluar, Nana mempersiapkan dirinya. Ia ingin terlihat anggun di depan teman-temannya yang 100% masih lajang.


" Kak Ardi?! " Pekik Nana. "Kakak sama siapa? "


Kaget bercampur heran, Nana mendekat pada mantan terindahnya. Saat ia menyambut kedatangan Ardi di kampusnya tiga hari yang lalu, ia memang sempat memberikan kartu undangan padanya. Tapi ia benar-benar tidak menyangka jika Ardi sampai nekat mencari alamat rumahnya. Karna disini, ia tidak memiliki saudara yang bisa ia andalkan.


" Cantik banget. " Pandangan Ardi seakan tidak mau lepas dari Nana.


" Nyesel kan? Salah sendiri dulu mutusin aku. " Ucap Nana sambil tertawa.


Untuk menyingkat waktu, Ardi pun langsung mengutarakan maksud kedatangannya pada Nana. Karna hari ini adalah hari terakhirnya berada di kota Semarang. Dan nanti siang, ia bersama rombongannya sudah harus kembali ke Lampung.

__ADS_1


__ADS_2