
Drama Nana memergoki perselingkuhan Zen telah berakhir, sebagai kisah penutup di musim liburan kuliah Nana semester pertama .
Setelah sampai didepan rumah kost Nana turun dari mobil, membukakan pintu gerbang untuk mempersilahkan Zen memasukkan mobilnya ke halaman rumah kostnya.
" Nana !!!" Pekik teman Nana, saat melihat seseorang membuka pintu gerbang yang baru saja Ia tutup.
" Mbak Dian... " Setelah membuka pintu gerbang, Nana menghampiri Dian yang masih berdiri didepan rak sepatu yang berada diruang tamu. " Baru datang juga, Mbak?" Sambil melakukan ritual cipika-cipiki yang biasa mereka lakukan.
Mum, kenapa kamu biarkan temanmu merasakan pipi kamu sebelum aku. Hiks. Zen tersenyum malu dengan imajinasinya sendiri.
Zen masih berada di dalam mobil. Menyaksikan bagaimana tingkah Nana saat bersama teman-temannya tanpa ada dirinya. Hanya untuk mengetahui seberapa besar perbedaan sikap Nana saat sedang bersamanya. Ya itu hanya sekedar untuk meyakinkan hatinya, jika selama ini Nana tidak merasa tertekan dan harus menjadi orang lain ketika bersamanya. Karna Zen tidak menginginkan hal itu. Toh nantinya juga akan menikah dan hidup bersama, kenapa harus ada yang ditutup-tutupi hanya untuk menyenangkan satu sama lain.
Kehebohan pertemuan Nana dan Dian dilantai satu mengundang Renata, Tia dan Eva yang memang sudah lebih dulu berada rumah kost untuk bermunculan.
" Nana !!!" Seru paduan suara yang berbaris apik mengikuti tinggi anak tangga, sebelum menghampiri Nana dan Dian.
" Nanaku sayang, kaki mana yang sakit ?" Tia memeriksa kedua kaki Nana.
" Masih sakit ?" Nana menggeleng.
Melihat Tia dan yang lainnya berubah menjadi manis padanya, Nana malah tertawa. Namun dalam hatinya Ia sangat bahagia, karna mendapatkan teman-teman yang terbaik dirumah kost ini.
Ya mereka mengetahui kabar kecelakaan Nana dari Naila yang juga datang menjenguknya saat masih berada dirumah sakit. Sedangkan mereka yang sudah terlanjur pulang ke kota masing-masing hanya dapat memperlihatkan simpati mereka pada Nana lewat ponsel masing-masing.
" Kamu kesini dianter siapa?"
" Eh iya !" Nana menengok sekitarnya. Mencari keberadaan Zen. " Bentar ya, Mbak." Nana bermaksud menghampiri mobil yang sudah berada di halaman.
Zen keluar dari mobilnya, saat melihat Nana mulai mengingat keberadaannya.
" Aduh, Na. Senyuman kakak kamu itu bikin aku susah tidur aja." Dian terpesona untuk kedua kalinya pada senyuman Zen yang sebenatnya ditujukan pada Nana.
" Kakak ?" Nana tersenyum. Mengingat kesalah pahaman yang belum sempat Ia luruskan.
" Sini, Mam. Aku bantuin." Nana meraih salah satu kantung plastik jajanan dari tangan Zen.
" Mbak." Zen menyapa teman-teman Nana yang wajahnya mulai menaruh kecurigaan padanya.
Zen duduk di sofa sebelum Nana kembali membawa gelas juga piring untuk menata jajanan dan minuman es yang dibawa Zen.
__ADS_1
" Mbak sini, ada jajanan." Nana mengajak teman-temannya untuk bergabung diatas sofa.
Tia, Dian, Renata dan Eva saling melirik. Ada hal yang lebih membuat mereka tertarik untuk bergabung, selain mengenai jajanan yang ditawarkan oleh Nana.
Setelah beberapa lama mereka bercanda dan merasa cukup untuk berbasa basi, mengakrapkan diri dengan keberadaan Zen. Renata memberanikan diri untuk memenuhi hasrat keingintahuannya yang sejak tadi Ia pendam.
" Masnya ini kakaknya Nana bukan sih ?" Yang lainnya menyimak dengan seksama. Karna mereka juga penasaran dengan hal itu.
Zen tersenyum, " Mum, boleh lihat tangan kirinya ?"
" Ini. Emang kenapa, Sayang?" Nana menyerahkan tangannya yang langsung dipegang oleh Zen.
Mum ?
Sayang ?
Mesra.
Nana malu-malu.
Klu yang berhasil di simpan didalam ingatan teman-teman Nana.
Dia mau pamer ternyata ! Nana yang memahami situasinya, menahan tawanya dibalik tangan.
Nana menoleh pada teman-temannya yang tidak memberikan sedikitpun respon atas perlakuan Zen padanya. Yang dia lihat hanyalah wajah-wajah kaku yang sedang me-loading data-data yang terkumpul bagai potongan pazel di kepala mereka.
" Kalian udah tunangan?" Seru Maimunah yang baru saja tiba di rumah kost. Dia sempat melihat gelagat Zen yang sengaja menunjukan cincin dijari Nana pada teman-temannya.
" Hah ?!" Tia.
" Ini beneran ?" Dian.
" Nggak mungkin !" Renata.
" Bohongan kan ?" Eva.
Ya pemikiran itu juga sempat terlintas dibenak mereka. Hanya saja mereka meyakini bahwa itu merupakan kesimpulan yang tidak mungkin benar. Karna mengingat usia Nana yang lebih muda dari mereka, juga tingkahnya selama ini yang tidak pernah memberikan tanda-tanda sedang menjalani hubungan yang mengarah seserius ini.
" Inikah yang dinamakan hari patah hati ?" Ucap Dian sambil memegangi dada dan keningnya.
__ADS_1
***
Cerita lain sebelum Zen dan Nana tiba di rumah kost, yang kini dipenuhi kehebohan dari teman-teman Nana yang tidak dapat memercayai kabar yang baru saja mereka dapatkan.
Setelah perpamitan pada Ayah juga Ibu, Nana dan Zen memasuki mobil bersama. Karna hari ini Zen akan mengantarkan sang pujaan hati untuk kembali ke kota Semarang, untuk menjalani aktivitasnya disana. Karna liburan telas usai.
" Udah siap berangkat, Mum?" Tanya Zen sambil menstarter mobilnya.
" Belum."
" Emang ada yang ketinggalan?" Nana menggeleng. " Trus ?" Tanya Zen lagi.
" Ini." Zen kaget dengan apa yang sedang disodorkan oleh Nana didepan matanya.
" Ini maksudnya apa, Mum?" Perasaan Zen tidak enak, melihat kotak perhiasan berbentuk hati yang sangat Ia kenal dihadapannya.
Jangan-jangan dia mau kembaliin ini lagi ! Zen sudah su'udon pada Nana. Mengingat sifat Nana yang suka kumat-kumatan.
" Aku nggak akan siap berangkat, kalau Mamam-ku belum pakaikan ini ke aku."
" Kok bisa gitu, Mum ?" Ingin mengetahui apa alasan Nana kali ini.
Seringnya Ia direpotkan dengan kemauan Nana yang suka aneh-aneh, malah membuat Zen merasa jatuh cinta lagi dan lagi pada Nana.
" Karna aku sudah siap lahir batin menjalani hubungan ini sama kamu, Mam. Makanya aku juga udah siap mengenakan ini sebagai tanda ikatan kita." Zen tersenyum dan menerima kotak perhiasannya dengan senang hati.
" MasyaAllah cantiknya, Bidadariku." Zen selesai memakaikan kalung, gelang dan cincin pada Nana.
Dia merasa sangat bahagia. Karna jauh sebelum benda itu diberikan, Zen sudah membayangkan betapa cantiknya saat benda itu dikenakan di tubuh Nana. Dan kini dengan tangannya sendiri lah Ia memakaikannya.
" Mum, ingat ya... ini hanyalah sebatas simbol." Zen memegang tangan dan mengelusnya dibagian cincin yang baru saja Ia sematkan. " Yang terpenting adalah keikhlasan hati Mum, untuk menerima dan menjalani hubungan ini bersamaku." Zen berhenti sejenak. " Karna benda-benda ini dapat hilang dan hancur. Sedangkan hati Mum, tidak. Selagi disana ada tempat untuk menampung rasa cinta ku, tidak akan aku biarkan hati Mum merasa hancur meskipun hanya sebentar."
" Mam."
" Iya?"
" Bisa nggak sih, jangan seromantis ini sama aku !" Ucap Nana dengan nada tidak suka dan memalingkan wajahnya. " Bikin aku nggak bisa lama-lama pisah dari kamu tau!"
Zen tersandar di tempat duduknya,
__ADS_1
Sabar... Sabar... Aku bisa tahan. Menenangkan nafsunya yang bergejolak, tidak tahan melihat ekspresi malu-malu Nana yang begitu menggemaskan dimatanya. Namun Ia tidak dapat berbuat apa-apa karna setatusnya yang masih calon imam.