
Menyaksikan Zen yang berjalan kesana kemari seperti orang kebingungan, membuat hati Nana menjadi menunak. Ia mengenyampingkan ego dan harga dirinya untuk dapat berdiri dihadapan Zen seperti saat ini.
" Mamam lihat HP Mumum nggak? " Nana bertanya dengan suara seraknya.
Ponsel hanyalah alasan Nana untuk mulai pembicaraan dengan Zen. Meski masih ada rasa kecewa yang tertahan di dalam hatinya, tapi Nana memilih untuk belajar menghadapi masalah. Toh nantinya saat ia sudah menikah, mungkin akan ada lebih bnyak permasalahan yang harus diselesaikan bersama.
" Mumum... " Zen menegakan kepala yang sebelumnya ia sangga dengan kedua tangannya.
Jika ia bisa menangis, pasti ia akan menangis sekarang. Zen sangat bersyukur, Nana muncul dihadapannya disaat yang tepat. Saat perasaan putus asa dan penyesalan mulai menguasai pikirannya.
Meski sudah membasuh wajahnya, Nana masih tidak dapat menyembunyikan bekas merah pada area mata, hidung juga bibirnya dari pandangan mata Zen.
" Ma'afin Mamam ya, Mum. " Ucap Zen sambil mencium telapak tangan kanan Nana, yang ia tempelkan pada pipinya.
" Mamam salah. Mamam udah nyakitin perasaan Mumum. "
" Ma'afin Mumum juga ya, karna udah bentak Mamam. " Sisa-sisa air mata Nana menetes di pipi lagi.
Zen berdiri, mensejajarkan tubuhnya dihadapan Nana. Menempelkan kedua telapak tangannya di pipi tembem Nana, " Mumum-ku sayang, jangan nangis lagi. Hari ini Mamam tuh udah terlalu banyak hutang air matanya Mumum. " Selain dengan ucapan, Zen juga menghentikan air mata Nana tengan ibu jarinya. " Jangan bikin hutang Mamam bertambah lagi, Sayang. Mamam takut, sampai mati pun Mamam nggak akan sanggap membayarnya dengan kebahagian Mumum. "
Nana menyingkirkan tangan Zen dari wajah sendunya. Begitu cepat, hingga tidak sadar bagaimana prosesnya, tapi kini wajah Nana sudah menempel erat di dada Zen. Dan di kedua sisi, tangan Nana mencengkram erat kaos yang dikenakan Zen, hingga membuatnya tidak dapat bergerak dari posisinya sekarang.
Dug dig dag dig dug dig dag dig dug, suara jantung Zen yang sedang di tabuh Nana dengan perbuatannya.
__ADS_1
" Numpang ngelap ingus ya, Mam. " Ucap Nana, tidak peduli dengan kondisi Zen yang merasakan sesak di dadanya. Yang Ia pedulikan hanya bagaimana ia dapat menyembunyikan tangisannya dari Zen. " Kok kaos Mamam basah? " Nana menengadahkan wajahnya.
Deg. Kepala Zen yang merunduk hampir saja bergesekan dengan wajah Nana yang sedang menghapap ke wajahnya. Tubuh keduanya pun terpental, seperti halnya dua magnet yang memiliki kutub sejenis. Menolak satu sama lain.
Nana berpaling dan menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Dadanya berdebaran, mengingat bagaimana nafas hangat Zen menyapu wajah lembabnya tadi. Sedangkan Zen mematung di posisinya sekarang. Ia masih shok dengan godaan beruntun yang baru saja menimpa pada imannya.
***
Bukannya memberikan ponsel Nana saat diminta pemiliknya, Zen malah menyodorkan ponselnya pada Nana.
" Ini kan punya Mamam! " Nana heran apa yang sedang dilamunkan Zen sekarang, sampai bisa salah memberikan ponsel.
" Punya Mamam kan punya Mumum juga." Jawaban Zen terdengar seperti rayuan ditelinga Nana. " Nomor kartu Mumum udah Mamam pindah ke sini. "
Zen menunjukan pada Nana, jika layar ponselnya pecah. Barulah Nana mengerti, jika Zen mungkin merasa bersalah padanya, karna mengira pecahnya layar ponsel itu berkaitan dengan pertengakran tadi.
" Itu emang udah lama pecahnya, gara-gara jatuh waktu naik motor. Udah sini, biar Mumum gantiin lagi SIM-cardnya. "
Zen menolak memberikan ponsel Nana. Dan memasukkannya ke dalam saku celana bagian depan. Tempat yang ia kira aman dari tangan Nana yang masih coba merebut.
" Udah, Mumum pake ini aja. Biar Mamam pake punya Mumum. Lagian itu retakan temper glass nya udah parah, bisa-bisa nanti jari Mumum terluka. "
" Nggak apa-apa, Sayangku... besok emang rencananya mau Mumum ganti temper glass-nya. " Nana kekeh menolak, dan masih mencoba mengambil ponselnya dari saku celana Zen.
__ADS_1
" Mum! Jangan-jangan ada rahasia yang mau Mumum sembunyiin dari Mamam di HP ini. Makanya Mumum ngotot minta balikin. "
Nana menggaruk-garuk kepalanya. Ia bingung dengan pemikiran Zen sekarang ini yang terasa lebih kekanakan darinya.
" Jangan-jangan Mumum masih nyimpen foto mantan-mantan Mumum. "
Apa lagi ini! Eh! Nana baru menyadari satu hal yang tadi ia lewatkan.
" Mamam kok bisa tau sih, kalau Kak Ardi itu mantan pacar Mumum? Mumum aja nggak pernah cerita soal itu. "
" Apasih yang Mamam nggak tau soal masa lalu Mumum. " Ucap Zen, merasa bangga.
Walau sebelumnya ia merasa minder mendengar kisah masa lalu Nana yang begitu dikenang oleh Himma dan Alfa. Karna saat itu ia merasa tidak yakin, bahwa apa yang sudah ia berikan pada Nana selama ini, lebih baik dari apa yang pernah mantan pacar Nana berikan. Tapi sekarang ia bisa berbangga hati dan berterima kasih pasa sang mantan yang sudah bersedia memutus hubungannya dengan Nana, hingga memberikan kesempatan pada Nana untuk bertemu jodohnya, yaitu dirinya.
" Tapi Mamam nggak tau kan betapa romantisnya Kak Ardi dulu ke Mumum?" Nana seperti sengaja mencari masalah dengan Zen.
" Apa! Cuma bisa ngasih bunga sama coklat aja pamer! Paling itu juga, bunga dapat metik dari pinggir jalan. Nanti kalau Mumum mau, Mamam beliin bunga sekalian potnya, satu truk kalau perlu! " Ucap Zen menggebu-gebu.
Nana bungkam seketika. Sudah tidak ada tanda-tanda perlawanan lagi.
Bunga? Coklat? Kok Mamam bisa tau sampai sedetail itu?
Tengkuk Nana terasa merinding. Ia tidak percaya bagaimana Zen bisa mendapatkan informasi yang bahkan hanya ada di pulau seberang.
__ADS_1