
Setelah beberarapa saat dalam posisi tertelungkup di pangkuan Zen, Nana mengangkat wajahnya. Ia merasa malu karna sekarang ketakutannya dengan kilatan cahaya dan suara bledek sudah diketahui oleh Zen. Tidak lama dari itu, listrik kembali menyala. Wajah yang tadinya malu berubah menjadi heran saat mengamati wajah Zen.
" Mamam kenapa? " Dengan wajah polos tiada dosa, ia mempertanyakan mengapa ekspresi Zen terlihat begitu tegang.
Tidak mungkin memberitahukan keadaan yang sebenarnya, Zen hanya dapat menjawab sekenanya. " Nggak apa-apa, Mum. "
" Oh... Kirain Mamam lagi kebelet pipis atau apa! "
" Hehehe. " Tawa yang dipaksakan oleh Zen. Sambil berusaha membangunkan otaknya yang sedang tidur pulas, hingga menyebabkan dirinya sulit untuk berfikir.
" Iya. Mamam lagi kebelet pipis. " Jawab Zen asal.
“ Owalah. Jangan di tahan, Mam... Nanti perutnya jadi sakit. Ayo sini! " Nana menarik tangan Zen, dan seperti biasa, ia menurut.
" Eh? " Tersentak, seperti menyadari sesuatu. Setelah Zen melewati pintu kamar.
Kok Mumum ngajakin masuk kamar?
" Ayo masuk sini, Mam. Jangan ditahan lagi. " Ucap Nana yang sudah duduk ditepian kasur, meninggalkan Zen yang membeku di depan pintu masuk kamarnya.
Heh! Debaran dalam dada Zen semakin kuat dan cepat.
Maksud Mumum 'jangan di tahan' tadi apa?
Masa iya Mumum mau ngajakin.... Zen menelan ludahnya. Ia tak berani melanjutkan prasangkanya lagi.
" Kita mau ngapain sih, Mum? " Pura-pura tidak mengetahui maksud Nana.
" Tadi katanya kebelet pipis, ini ada kamar mandi. Jangan ditahan lagi. "
" Huh... " Zen mendengus kasar.
" Iya. Mamam lupa! " Ucap Zen sebelum masuk kedalam kamar mandi sambil menahan tawanya.
Mungkin karna sedang tidak dapat berfikir dengan baik, membuat Zen salah pemahaman atas ucapan dan prilaku Nana. Diatas kloset duduk, Zen tertawa geli mengingat apa yang sempat terlintas dalam benaknya.
Astaghfirullah hal adzim... Bisa-bisanya tadi aku punya pikiran setan seperti itu sama Mumum! Memegangi kening dan menggeleng kecil.
Nampaknya sekarang Ia sudah sepenuhnya sadar dan dapat menguasai akal sehatnya lagi.
Mungkin saja karna ketidak tahuan Zen mengenai adanya kamar mandi di dalam kamar Nana lah yang menjadi benang merah dari kesalahpahamannya dalam memaknai ucapan dan gelagat Nana yang dalam pandangan orang normal terlihat biasa, tapi bagi pikiran kosongnya tadi seola sedang menggodanya untuk naik keatas ranjang.
" Mamam bukan kebelet pipis, Mum! Tapi kebelet nikah. " Ucapnya lirih sebelum mengambil air wudhu untuk menyegarkan lahir dan batinnya.
***
" Berangkat sekarang yuk, Sayang. Mumum udah siap! " Ucap Nana, membuyarkan fikiran Zen yang tengah kembali pada kenangan malam itu.
__ADS_1
Pagi ini Zen kembali berada di rumah orang tua Nana. Bukan untuk menerima kejutan lagi, namun untuk mengantarkan Nana yang mau tidak mau harus kembali ke kota Semarang. Karna hari sudah berganti menjadi Senin, waktunya ia menjalani aktifitasnya disana.
Tidak mau membuang waktu lagi, Zenna alias Zen dan Nana berpamitan pada Ayah Ibu sebelum pergi meninggalkan rumah.
" Tak anterin nyampe kost ya, Mum? " Ucap tegas Zen sambil melajukan sepeda motornya.
" Nggak usah, Sayang... Mumum kan udah janjian sama temen buat berangkat bareng. Lagian, nyampe di Semarang Mumum langsung ke kampus, ada kuliah siang. Kan Mumum nggak tega kalau biarin Mamam langsung pulang. "
" Ya udah. "
Deg. Sejak dirumah tadi, Nana sudah merasa bahwa sikap Zen sedikit dingin terhadapnya.
Masa iya, Mamam masih ngambek sih?
Teringat kejadian malam itu. Saat Zen pamit untuk pulang, Nana menyerahkan hadiah yang sudah ia siapkan. Dan Nana meminta ma'af karna ia hanya dapat memberikan benda itu. Itupun dibeli dari hasil menyisakan uang makan dan kebutuhan harian lainnya. Tidak disangka, Zen malah memarahinya, bahkan sempat menolak hadiahnya juga. Anatara takut dan sedih, Nana meninggalkan hadiah itu bersama Zen sebelum ia berlari masuk kedalam rumah.
Tapi Nana tidak mengetahui, jika ia hampir menjatuhkan air mata Zen dengan hadiah itu. Sebenarnya ia marah dengan dirinya sendiri.
Aku telah membuat susah Mumum-ku, kalimat yang terasa sesak di kepalanya hingga akhirnya ia melampiaskan emosinya pada Nana.
Karna Zen merasa, bahwa dirinya tidak cukup pantas untuk mendapatkan perhatian Nana yang sebegitu besarnya. Hanya untuk dapat memberikan hadiah untuknya, Nana sampai rela memangkas kebutuhan hariannya. Yang lebih menyakitkannya lagi saat ia menyadari, bahwa tubuh Nana melihat tubuh Nana yang tetlihat lebih kurus dari terakhir kali ia lihat. Dan kemungkinan besar, penyebabnya juga karna hadiah itu.
" Mam... " Masih ada perasaan takut di diri Nana karna teringat kenangan di malam itu.
" Dalem. "
" Kenapa, Sayang? " Tanya Zen, karna tidak mendengar satu katapun setelah Nana memanggil.
" Bapak udah mengperhitungkan tanggal pernikahan kita lho... " Ucap Nana malu-malu.
" Apa, Mum?!? "
Cckkiiiiiittttttt, mendadak Zen mengngerem sepeda motornya. Untung saja masih berada di jalanan kampung yang jauh dari kata ramai.
Klotak. " Aduh! " Kening Nana membentur helm Zen.
Karna masih berada di jalan bebatuan padas, Nana sengaja tidak mengenakan helmnya yang hanya akan membuat sakit kepalanya.
" Tadi Mumum ngomong apa? " Hawatir telinganya sedang tidak dalam kondisi baik, dan menyebabkannya salah dengar.
" Emangnya tadi Mumum ngomong apa, Mam? " Pura-pura amnesia.
Alhamdulillah, sikap Mamam udah balik seperti semula. Nana tersenyum puas.
Sepertinya harus ada yang memberitahukan sama Nana deh, jika sifat Zen sebelum mengenalnya memang tegas, cuek, dan lebih banyak diam. Sedangkan untuk sifat kekanakan dan ekspresif seperti itu, mulai terbentuk karna seringnya Zen berhubungan sama dia. 😅
" Tadi Mumum ngomongin soal Bapak, yang udah menghitung tanggal pernikahan kita. Iya kan? "
__ADS_1
" Apa iya Mumum ngomong kayak gitu, Mam? Mamam salah denger mungkin! " Nana kecicikan di belakang Zen.
Ayah memang akhirnya menghitung weton Nana dan Zen untuk mencari hari yang dirasa baik sebagai waktu pengesahkan hubungan mereka, sesuai peraturan agama dan negara. Namun, ayah sudah menperingatkan pada Ibu, bahwa semua tergantung pada Nana, tidak boleh ada paksaan lagi.
" Mumum!!! "
" Iya iya. Gak usah ngambek! Ayo jalan, kasihan kalau teman Mumum nungguin lama."
Al-ham-du-lillah... Ucapan syukur Zen penuh dengan penekanan.
Aura bahagia yang begitu pekat menyebar disekeliling Zen. Tidak menyangka jika hari seperti ini akhirnya datang juga.
" Jawab dulu, kapannya? "
" Jalan dulu! "
" Nggak bisa. Jawab dulu pokoknya! Mamam nggak bakal bisa konsen nyetirnya kalau belum tau kapan tanggalnya. "
Hmmm. Mulai lagi deh, perdebatannya.
" Mamam!!! Jalan dulu, nanti Mumum bisa telat nyampe kampusnya. "
" Ya makanya cepatan kasih tau! "
Tidak seperti biasanya, kali ini sepertinya Zen teguh dengan pendiriannya dan tidak mau mengalah sedikitpun dengan Nana.
" Bulan depan. Sesudah lebaran haji! Udah puas kan! "
" Hah?? Berarti tinggal dua mingguan lagi!? "
Aduh kok cepet banget! aku kan belum punya persiapan apa-apa!
Ah, nggak masalah! Yang penting aku jadi nikah!
Yang perlukan dilakukan sekarang, harus daftar dulu di KUA.
" Mam... " Nana merasa dikacangin oleh Zen, yang sedang sibuk sendiri dalam pikirannya.
" Cepet pake helmnya, Mum! Mamam mau ngebut. "
" Eehhhh? "
Nana mengeratkan pegangannya pada kaos lengan panjang yang di kenakan Zen. Karna Zen tidak main-main, melajukan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi.
Sepertinya Zen sudah kehilangan separuh akal sehatnya. Ia yang biasannya mengendarai sepeda motor maupun mobilnya dengan hati-hati, terutama saat ia sedang berboncengan dengan Nana seperti ini. Tetapi yang terjadi sekarang malah sebaliknya.
" Aaaaaaaa. Mamam... jangan ngebut. Ileng Mam, ileng umur, Mam.... " Teriak Nana.
__ADS_1