
" Ma'afkan Mumum, Mam... " Ucap Nana lirih sesaat setelah menempati kursi didalam bus mini yang ia tumpangi.
Meski ia sendiri juga memiliki perasaan kecewa, namun perasaan itu tidak sedikitpun mampu menutupi rasa bersalahnya pada Zen. Bukan maksud Nana menolak menjadikan rencana pernikahan ini sebagai kenyataan. Hanya saja ia terlahir dengan golongan darah A, yang menjadikannya memiliki pertimbangan dan perencanaan yang lebih matang dibandingkan orang lain pada setiap tujuan yang sudah ia tentukan dalam hidupnya.
Juga masih adanya beban yang membuat sesak karna belum mampu sedikitpun ia uraikan. Beban nyata yang yang tidak dapat dihapuskan begitu saja.
Sebagai anggota masyarakat yang tinggal di lingkungan masyarakat dengan pemikiran sedikit lebih kolot, dimana mereka menempatkan seorang istri harus selalu berada di lingkungan rumahnya saat suami sedang pergi untuk bekerja diluar. Meski tidak tertulis, namun peraturan yang mengikat masyarakat tersebut berjalan sesuai alur dari generasi ke generasi selanjutnya. Peraturan yang bertujuan menjaga seorang istri agar tidak menimbulkan aib yang dosanya menjadi pertanggung jawaban seorang suami di akhirat kelak. Sedangkan situasi dan kondisi Nana saat ini tidak memungkinnya untuk menjalankan peraturan yang berlaku di masyarakatnya. Ia masih memiliki tanggung jawab lain di kota Semarang, yakni menyelesaikan masa kuliahnya dengan baik.
Bus mulai bergerak maju, Nana melongokkan kepalanya keluar kendela karna ia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk melihat Zen sekali lagi sebelum bus itu benar-benar membawanya jauh dari tempat Zen berdiri sekarang.
Sakit sekali rasanya, hingga Nana tidak kuasa lagi untuk menahan air matanya agar tidak terjatuh. Nana hanya bisa melambaikan tangannya pelan, sebagai tanda perpisahan juga permintaan ma'afnya pada laki-laki yang mungkin saat ini juga merasakan kecewa terhadap dirinya.
Mungkinkah hubungan kita berakhir seperti ini, Mam? Nana menjatuhkan kepalanya pada sandaran tempat duduk di depannya.
Wanita mana yang tidak berkeinginan untuk menjadi istri yang baik bagi suaminya. Begitu pula dengan Nana, dibalik sikap kekanakannya ia juga berkeinginan untuk dapat berbakti pada suaminya kelak, suka maupun duka, ingin ia jalani bersama dengannya. Mungkinkah itu dapat terwujud jika ia harus tinggal di kota Semarang sedangkan Zen harus tetap berada di desa, karna tanggung jawabnya pada orang tua serta pekerjaaanya disana.
Jika Nana yang harus mengalah dan memaksakan diri untuk pulang setelah menyelesaikan kegiatannya dikampus, banyak sekali resiko yang harus ia tanggung, apalagi disaat masih padat-padatnya jadwal perkulihannya seperti saat ini. Tiga jam waktu yang ia perlukan untuk menempuh perjalanan dari rumah hingga kampus. Enam jam waktu yang ia perlukan untuk berangkat dan rumah hingga sampai rumah lagi setiap harinya. Lalu sampai mana kekuatan Nana untuk menjalani hal itu. Belum lagi jika ada jadwal kuliah pada malam hari, sampai manakah keberaniannya untuk melakukan perjalanan pulang ditengah malam.
Apapun alasanya, Nana sangat menyesali ucapannya. Bagaimana jika akhirnya Zen lebih memilih mengakhiri hubungan ini dari pada bertahan sedikit lebih lama lagi.
***
" Nana! "
__ADS_1
Jeder. Suara pintu yang membentur tembok dengan kerasnya.
" Hiks... Apa, Mbak? "
Dengan jelas suara sesenggukan terdegar disana, tapi samar bagi Renata untuk melihat apa yang terjadi didalam kamar Nana yang gelap itu.
Klik. Renata menekan saklar lampu. Kini semua terlihat jelas, termasuk tubuh Nana yang sedang terduduk diatas kasur. Di sudut kamar itu Nana menutupi wajahnya dengan bantal, seperti sedang mencoba menutupi sesuatu dari Renata.
" Kamu tadi ngapain gelap-gelapan? "
" Lagi cari wangsit! Hiks. Udah sana, jangan gangguin! "
Mengobati rasa penasaran lebih penting ketimbang menggubris ucapan Nana. Begitulah slogan Renata.
" Kamu nangis lagi?? " Renata senang karna telah berhasil merebut bantal yang tadi menutupi wajah Nana.
Bukannya bersimpati, Renata malah mentertawakan kondisi Nana. Bahkan bantal yang berhasil ia rebut ia pukulkan pada tubuh Nana berulang-ulang. Ini bukan pertama kalinya Renata mendapati Nana yang menangis sendirian di dalam kamar. Karna sudah lebih dari tujuh malam ini Nana melalui waktunya dengan menangis.
" Ya kan ceritane emang lagi sedih-sedihnya, Mbak. Udah sana nggak usah gangguin! " Mengusir Renata untuk kesekian kalinya.
" Aku mau ikut nonton ah! Udah nyampe episod berapa kamu? Udah seminggu nonton drama itu nggak kelar-kelar. "
Udah sepuluh hari ya... Nana melirik ponsel yang berada di dekat labtop.
__ADS_1
Sudah sepuluh hari beralu, tapi Nana masih belum mendapatkan kabar dari Zen. Ia sendiri tidak memiliki keberanian untuk menghubungi Zen terlebih dulu, mengingat kejadian di KUA juga merupakan kesalahannya. Berat sekali untuknya mengakui hal itu, tetapi disisi lain ia juga tidak ingin kehilangan Zen. Egois memang, tapi itulah sifat Nana.
Mam, Mamam masih marah ya sama Mumum? Mumum kangen banget sama Mamam. Air matanya jatuh lagi, perasaan yang seperti teriris lagi-lagi dirasakan oleh Nana.
" Nonton aja belum, udah mewek aja kamu. " Renata menyenggol tubuh Nana. Menyadarkannya dari lamunan yang sesaat menghanyutkannya.
" Keinget sama adegan sebelumnya. " Nana beralasan. " Udah sana balik ke kamar, Mbak Rena kan udah nonton drama ini. "
Drama Mandarin yang sedang ditonton Nana memang memiliki kisah sedih, tapi kesedihan yang diluapkan Nana selama tujuh malam itu bukan seratus persen hanya dari sana. Bisa dibilang bahwa drama yang direkomendasikan Renata itu hanyalah sebuah pelampiasan untuk permasalahan yang dialami Nana semata.
" Lihat kamu nonton nyampe nangis, aku jadi pingin nonton lagi! "
Sejak kedatangan Nana dari kampung halamannya, Renata melihat Nana yang berbeda, lebih pendiam dan suka menyendiri. Karna merasa hawatir, ia memberikan flasdisk yang berisikan satu judul drama yang pernah ia tonton sebelumnya. Tapi ia malah sering mendapati Nana menangis hingga kehabisan suara dipagi harinya.
" Aku nontonnya udahan deh! Udah ngantuk, lagian besok kan aku ada presentasi makalah. Kalau Mbak Rena mau nonton, nonton aja. Kalau udh selesai tolong matiin ya labtopnya. "
Beneran ada yang nggak beres sama nih anak! Renata memang sudah lama curiga, tapi kali ini ia tidak berani memaksa Nana untuk cerita.
" Ya udah sana tidur! " Renata tersenyum, dia memiliki rencana yang baru saja terfikirkan.
Setelah Nana berpindah ke kasur bawah dan dirasa tidak ada pergerakan lagi darinya, Renata diam-diam mengambil ponsel Nana. Setelah beberapa kali ia mengusapkan jarinya diatas layar ponsel Nana, Ia mengetikan sesuatu disana yang kemudian ia hapus setelah pesan itu berhasil terkirim.
" Ma'af Na, jika aku terlalu lancang. " Ucap Renata setengah berbisik saat mengembalikan ponsel itu ditempatnya semula.
__ADS_1