Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Alasan Lain Kegelisahan Nana


__ADS_3

Postingan Naila bagikan petir di siang bolong untuk Nana. Terutama adanya komentar Rif'an pada postingan itu. Nana hawatir jika postingan itu akan menjadi masalah untuknya dikemudian hari.


Bagaimana tidak. Pada postingannya, Naila menjelaskan bahwa foto itu adalah Nana dan kakaknya. Yang mungkin akan membuat Rif'an berpikiran buruk tentang Nana.


" Hayo, mbak Nana ketahuan." Begitulah komentar yang ditulis Rif'an, yang diartikan Nana sebagai pertanda buruk.


Nana ketakutan dengan pikirannya yang sudah kemana-mana. Ditambah alasan lain yang tidak dapat Ia ungkapkan pada siapapun. Cukup dia dan Tuhan yang tau.


Tuutt... tut... Dua kali Nana gagal menghubungi Naila.


" Kamu mau kemana?" Tia yang melihat Nana membuka pintu kamar.


" Mau telfon bentar, Mbak."


" Tuh anak kenapa ya? Kok kayak lagi panik, nyampe pucet wajahnya. Masa iya karena dikerjain Radit? Ah, nggak mungkin. Kan mereka sama-sama suka iseng." Tia sebuk dengan pikirannya.


Tanpa mendengar apa yang dikatakan Tia, Nana berjalan menuruni tangga menuju ruang tamu dilantai satu.


" Hallo." Suara dari ponselnya.


Ah, akhirnya tersambung.


" Mbak Nay, cepetan hapus postingan mbak Nay yang terakhir." Ucap Nana lantang.


" Yang mana? Yang foto kamu sama kakak kamu itu bukan?"


" iya. Udah cepetan hapus sekarang. Plissss." Nana memohon.


" Ya kenapa dulu?"


" Penjelasannya nanti aja! Hapus dulu, ini menyangkut hidup dan matiku, Mbak." Nana merengek.


" Ya ya. Bentar, matiin dulu telfonnya."


Nana menelungkupkankan tubuhnya diatas sofa ruang tamu yang sudah minim penerangan, karena jam didinding menunjukan pukul 9.15 malam. Dia masih saja merasa gelisah, meski Naila sudah berjanji untuk menghapus foto itu.

__ADS_1


Mungkin dalam hati, Nana masih belum rela jika statusnya dengan Zen diketahui oleh teman-teman dikampusnya. Karna bagi Nana, jika status sampai diketahui maka sama saja Ia memasang pagar pembatas untuk pergaulannya, terutama dengan lawan jenis. Yang dimaksud disini siapa lagi kalau bukan Azam.


Karna memang Azam sudah pernah menyatakan perasaannya pada Nana. Itupun tanpa sepengetahuan teman-teman Nana yang selalu merasa penasaran mengenai hubungannya dengan Azam. Bahkan rasa penasaran mereka sudah tergolong bar-bar. Karna mereka selalu memeriksa ponsel Nana untuk melihat perkembangan chat yang dikirimkan oleh Azam setiap harinya.


Mungkin jika saat itu Nana memiliki banyak keberanian untuk menentukan, sekarang dia pasti sudah menerima Azam sebagai pacarannya. Namun kenyataan yang terjadi tidak begitu, Nana menolak Azam meski hatinya ikut terluka.


Nana sudah berusaha menjaga hatinya. Dan bertanggung jawab dengan keputusannya yang mau menerima Zen. Serta janjinya pada Ayah. Namun masih saja Azam dapat memasuki ruang hatinya, yang sedang kosong itu.


Selain memiliki kemiripan rupa serta sifat dengan mantan terindah Nana, Azam juga selalu ada untuk memberikan perhatian yang Nana butuhkan selama ini. Namun jika Azam mengetahui tentang Zen, maka sudah dipastikan Nana akan kehilangan perhatian Azam yang membuatnya nyaman itu.


Dering pesan dari ponsel Nana terdengar begitu keras di tengah kesunyian.


" Udah tak hapus tuh." Begitu bunyi chat dari Naila.


" Iya, Mbak. Makasih."


" Sebenarnya ada apa sih sama foto itu?" Pertanyaan yang justru menyulut rasa penasaran Nana.


" Gimana ceritanya kok mbak Nay bisa dapat foto itu?"


" Heehehe. Mau tau aja apa mau tau banget?" Naila menggoda karna tidak mengetahui permasalahan yang dihadapi Nana.


Naila membalas dengan emoticon tertawa.


***


Selesai mendaftarkan buku yang akan dipinjam dimeja resepsionis. Naila, May, Dian dan Renata keluar dari perpustakaan Fakultas bersamaan.


" Laper..." Naila memegangi perut.


" Beli batagor yang didepan masjid yuk?" Ajakan Dian yang diiyakan mereka semua.


" Kenapa, Ren?" Tanya Dian pada Renata yang memegangi perut saat sampai diparkiran.


" Ini kamu aja yang bawa motornya. Perutku mules."

__ADS_1


" Ya elah. Kirain kenapa !"


" Langsung ke kost aja yuk? Batagornya nitip sama may aja."


" Yaudah, aku juga mau lihat kakaknya Nana lagi." Dian mulai kecentilan.


Dian menaiki motor yang Ia pinjam dari Nana. Kemudian menghampiri Naila dan May yang sudah jalan terlebih dulu.


" May, kita batagornya nitip kamu aja ya?"


" Nggak asik banget sih kalian ini !" Gerutu Naila yang sangat menyukai kebersamaan dengan teman-temannya.


Sesampainya Naila dan May didepan masjid dekat gang masuk kost.


" Barusan kayak lihat Nana deh, May!"


" Masa? Kata Rena dia lagi sama kakaknya dikost."


" Tuh kan bener itu Nana." Naila melihat Nana sedang berjalan dengan Zen menuju serambi masjid saat menepikan motornya. " Itu sih bukan kakaknya ! Aku kan pernah ketemu, sama istrinya juga. Pas mereka jemput anaknya yang ditinggal dikost sama Nana itu lho!" Naila sok tau.


" Kan kakak Nana ada empat." May menunjukan empat jarinya didepan wajah naila. " Yang udah pernah kekost kan baru dua." May menjelaskan sambil memesan batagor.


" Empat ???"


" Masa kamu nggak tau?"


" Nggak." Naila memeriksa ponsel yang bergetar di saku celananya.


Bukanya membuka pesan yang masuk. Naila malah sengaja memotret kebersamaan antara Nana dan Zen, dengan kamera ponselnya yang mumpuni untuk objek jauh.


" Serakah baget sih kamu, Dek ! Aku satu aja nggak punya, kamu malah punya empat." Ucap Naila sambil trus memotret. " Eh, Suap-suapan!" Naila menutup mulutnya dengan tangan kirinya yang menganggur. Merasa takjub dengan adegan yang tertangkap oleh kamera ponselnya.


" Kamu kenapa sih, Nay? Heboh sendiri."


" Itu mereka manis banget sih..."

__ADS_1


" Sebegitu mengenaskannya kah sebagai anak tunggal? Sampe lihat Nana yang lagi sama kakaknya aja bikin kamu kayak cacing kepanasan."


" Hahaa. May... yang kamu katakan itu JAHAT!"


__ADS_2