Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Kejutan Untuk Zen


__ADS_3

Adzan sudah berhenti berkumandang. Ayah dan ibu sudah berangkat ke mushola yang berada didekat rumah untuk sholat berjamaah. Sedangkan Nana pergi ke kamar mandi untuk mensucikan dirinya dari hadas kecil, sebelum menunaikan sholat maghrib di rumah.


Ceklek. Suara pintu utama rumah, terbuka.


" Assalamu'alaikum. "


Mamam! Nana mengenali suara tamunya.


Nana yang baru saja keluar dari kamar mandi menjadi glagapan dan masuk kembali ke dalam kamar mandi.


Aduh, gimana ini? Kok Mamam datengnya cepet banget sih! Mana Bapak sama Ibu belum pulang dari mushola lagi. Panik, tidak mau jika rencananya akan gagal.


Nana sengaja tidak memberitahukan bahwa dirinya sedang berada dirumah, karna itu sudah termasuk dalam rencana kejutan yang ia persiapkan untuk Zen. Nana juga sudah menjalin kerjasama dengan ayah ibu untuk menjalankan rencananya ini.


Ketika menghubungi Zen tadi sore, Nana menjelaskan padanya, jika ia baru bisa pulang pada saat libur hari raya idhul adha nanti. Dan karna merasa hawatir dengan keadaan kedua orang tuanya yang beberapa hari ini ponselnya tidak dapat ia hubungi. Maka dengan sangat terpaksa ia meminta bantuan pada Zen untuk mendatangi rumah orang tuanya dan memeriksa keadaan mereka.


" Assalamu'alaikum. " Zen mengulangi ucapan salamnya yang belum mendapatkan jawaban.


Wa'alaikum salam, Mamam-ku sayang...


Hih, gemes deh!


Coba aja kalau nggak lagi ngerjain Mamam, pasti Mumum udah berlari ke pelukan Mamam dari tadi! Nana merasa geram sendiri didalam sana.


Nana membuka pintu kamar mandi, lalu berjalan mengendap-endap untuk melihat kondisi.


Loh kok Mamam-ku nggak ada?


Dia yang buat rencana, dia juga yang gatal ingin cepat-cepat bertemu dengan Zen.


Nana menggunakan kesempatan ini untuk segera berlari menuju ke kamarnya yang berada di depan ruang TV, tempat dimana ayah dan ibu nantinya akan mengajak Zen mengobrol.


Sebelum sampai Nana menyentuh handle pintu kamar, pintu utama sudah terlebih dulu terbuka sedikit. Jantung Nana sudah seperti mau copot, melalui ketegangan yang dia alami. Karna korden pemisah antara ruang depan dan ruang tengah dalam keadaan tersingkap, memungkinkan orang yang membuka pintu tadi saat melihat dirinya.


" Hah..." Membuang nafas melalui mulut.


Nana memegangi dadanya, " Ternyata Ibu yang masuk! Berarti aku masih aman. "


Nana membiarkan pintu kamarnya sedikit terbuka, agar memudahkannya untuk memantau situasi dan mencari momentum yang tepat untuknya keluar dan mengagetkan Zen. Sementara itu ia menjalankan kewajiabannya terlebih dulu didalam kamar. Sholat maghrib.


***


Memasuki rumah, Zen berjalan dibelakang ibu. Langkahnya terhenti pada saat matanya menangkap gambar Nana bersama keempat kakaknya didalam bingkai besar yang terpajang di ruang tamu.

__ADS_1


Kangen kamu, Mum! Hatinya teriris, karna hanya dapat melihat senyuman Nana didalam gambar.


" Masuk sini, Nang Zen. "


Sesuai rencana, ibu meminta Zen untuk masuk ke ruang tengah atau ruang TV. Sedangkan Nana menyembunyikan dirinya di dalam kamar.


" Bude sama Pakde sehat kan? " Tanya Zen sembari duduk bersandar pada dinding kamar Nana.


" Alhamdulillah sehat, Nang. Lha Bapak Ibu juga sehat toh? " Ibu yang datang dari dapur membawa secangkir kopi.


" Alhamdulillah sehat semua. Bude nggak usah repot-repot. "


" Repot apa toh. Lha wong kamu aja jarang main kesini kok. "


Zen tersenyum. Entah karna tersindir atau merasa lucu dengan kalimat yang baru saja di ucapkan ibu.


Kok aku malah nyium bau parfum Mumum-ku ya. Batin Zen.


Bukanya mencium aroma kopi yang berada didepannya, malah wangi parfum Nana yang entah dimana. Mungkin perasaan rindu lah yang membuat hidungnya menjadi bermasalah. Begitu yang terfikirkan oleh Zen.


" Tadi sore Mbak Nana telfon, katanya nomor Bude nggak bisa dihubungi. Makanya Mbak Nana nyuruh aku kesini buat lihat keadaan Pakde sama Bude." Zen tidak pernah menyangka jika ia sedang dibihongi Nana.


" Assalamu'alaikum. " Suara ayah yang memasukki rumah melalui pintu belakang.


" Ada Kenang Zen toh! "


" Nggeh, Pakde. " Zen menyalami ayah yang berjalan mendekatinya.


Sewaktu ayah berbalik untuk menaruh sajadah di dalam kamarnya, tidak sengaja mata ayah memergoki Nana yang sedang mengintip dari celah pintu kamar. Ayah pun hanya bisa tertawa tanpa suara dan berlalu.


" Bentar ya, Nang. Bude tak kebelakang sebentar. "


" Nggeh, Bude. "


Tinggalah Zen sendirian disitu, karna ibu sudah menyusul ayah ke belakang.


Coba aja Mumum ada disini. Menyeruput kopi yang di sediakan ibu, untuk mengalihkan sejekanak pikirannya dari Nana.


" Bhaaaaaakkkk! " Nana berteriak saat keluar dari persembunyian.


" Uhuk... Uhuk... " Karna kaget, Zen menjadi tersedak dan sarungnya pun harus ketumpahan air kopi panas.


" Mumum? "

__ADS_1


Alih-alih merasa kesal, mata Zen malah terlihat berbinar-binar melihat siapa yang sedang berada dihadapannya. Senyumnya pun ikut mengembang seketika. Sudah tidak dapat di takar lagi, seberapa besar rasa bahagia yang saat ini dirasakan oleh Zen.


" Hiss, jail banget sih Mumum-ku nie!" Zen menarik tangan Nana yang masih berdiri sambil tertawa di sampingnya.


" Aaaa. " Nana tersungkur di pangkuan Zen karna tidak dalam posisi sigap.


" Mamam nakal! " Membenahi posisinya.


Zen masih memegangi tangan Nana, sambil sesekali melirik pintu belakang, hawatir jika ayah dan ibu tiba-tiba muncul dari sana.


" Mumum itu yang nakal, ngerjain Mamam! Ngomong, pulangnya masih dua minggu lagi, ternyata ini lagi di rumah. " Zen menggigit jari Nana yang berada di genggaman, karna saking gemasnya.


" Aaawww! "


" Sakit ya, Mum? " Merasa bersalah atas perbuatannya.


" Nggak! Ini sih nggak seberapa dibandingkan rasa sakitku saat nahan rindu sama kamu, Mam! " Sengaja mengedip-ngedipkan mata cantiknya untuk menggoda calon imam yang imannya sudah sedikit goyah.


Zen menutup mulutnya dengan lengan. Merasakan seluruh urat malu di tubuhnya membesar karna mendengar ucapan disertai perbuatan Nana barusan.


" Selamat ulang tahun, Mamam-ku. " Ucap Nana lirih di dekat telinga Zen.


" Ulang tahun? "


" Hari ini kan hari ulang tahunnya Mamam! Makanya Mumum pulang. " Nana menjelaskan, karna ia tahu Zen tidak mungkin memperhatikannya masalah itu.


" Hah? Apa iya, Mum? "


Nana tersenyum, " Iya, Mam. Hari ini usia Mamam genap tiga puluh satu tahun! "


" Mamam-mu udah tua banget ya, Mum?" Zen terlihat terharu. " Nggak nyangka diusia segini, Mamam bisa merasakan perhatian sebegini besar dari perempuan yang sangat spesial seperti Mumum-ku ini. Makasih ya, Mum..."


Saking bahagianya, Zen sampai menitikan air mata, ini seperti mimpi, ya Allah...


" Mamam jangan nangis! Semakin tua usia Mamam nanti, maka akan semakin besar pula rasa cinta dan perhatian Mumum untuk Mamam. " Nana mengusap sebutir air mata yang masih menempel di kedua ujung mata Zen.


" Mamam nggak nangis, Mum. Mamam hanya lagi bersyukur aja atas kebahagiaan yang sedang Mamam rasakan. Siapa tau Allah akan menambah kebahagiaan Mamam, dengan mempercepat waktu. "


" Mempercepat waktu? "


" Iya. Waktu untuk menjadikan Mumum sebagai istri Mamam. "


Dengan cepat, Nana mengalihkan topik pembicaraan yang sedang berlangsung.

__ADS_1


__ADS_2