
Sesampainya di parkiran, Nana bertanya-tanya, pemeriksaan apa saja yang akan ia dan Zen jalani didalam nanti. Rasa kehawatiran pun muncul menyertai pertanyaan-pertanyaan dalam benaknya. Apakah test ini menjadi penentu jadi atau tidaknya ia menikah.
Karna menyesuaikan jadwal kuliah Nana yang sudah aktif, baru hari ini mereka akan melakukan pemeriksaan kesehatan guna melengkapi persyaratan pendaftaran nikah yang sudah mereka ajukan di KUA.
" Mumum kenapa? " Zen kaget, melihat perubahan air muka Nana yang menjadi pucat.
Nana menggeleng lemas, " Mumum nggak kenapa-kenapa. "
Tidak mau membuat Zen ikut terlibat dalam kehawatirannya, tapi ia sendiri tidak mampu menyembunyikan kehawatiran yang semakin menjadi itu. Ia malah menitikan air mata saat berada menuju ruang laborat. Tempat ia akan melakukan pemeriksaan bersama Zen.
" Sini ikut Mamam. " Zen menggandeng Nana, mengajaknya duduk di salah satu bangku yang terdapat di lorong puskesmas.
" Mumum kenapa nangis? Coba cerita sama Mamam. "
Zen yang tidak tahan dengan air mata, akhirnya meminta penjelasan dari Nana, apa yang sebenarnya telah terjadi padanya. Nana hanya menggelengkan kepalanya yang tertunduk. Melihat itu Zen hanya bisa mengurut kening.
Ia tidak menyerah begitu saja untuk mendapatkan penjelasan dari Nana. Ia meletakkan surat pengatar dari bagian administrasi ke bangku kosong di sebelahnya, kemudian berjongkok dihahapan Nana sambil menggenggam kedua tangan Nana.
" Mumum sakit tah? " Masih menggeleng.
" Lihat kearah Mamam. " Zen memaksa Nana untuk menatapnya. " Kalau nggak lagi sakit, berarti Mumum sedih karna mau nikah sama Mamam? "
" Nggak. " Dengan cepat Nana menjawab. Karna yang ia hawatirkan adalah hal sebaliknya.
" Terus kenapa Mumum nangis? Mamam kan jadi hawatir, Sayang... " Zen berhenti sejenak, menunggu respon dari Nana.
" Dengerin Mamam, sebentar lagi kita akan menjalani kehidupan ini bersama-sama. Susah senang akan kita lewati bersama. Jadi Mamam minta sama Mumum, mulai sekarang, tolong jangan pernah menyembunyikan masalah sekecil apapun dari Mamam. Tolong bantu Mamam untuk menjalankan tugas Mamam sebagai Imam dalam rumah tangga, yang bertanggungjawab dunia akhirat atas diri Mumum. Mumum mau kan bantuin Mamam? "
__ADS_1
Air mata Nana mengalir semakin deras. Bujuk rayu yang dikeluarkan Zen begitu mengena di hatinya.
" Kenapa malah tambah nangis, Sayang. Kasih tau Mamam, ada apa? " Zen mulai kebingungan. Ia kehabisan cara untuk membujuk Nana.
" Mumum takut kehilangan Mamam. " Ucap Nana sambil berurai air mata.
Hah?
Ada dua perkara yang mengembangkan senyum manis Zen saat ini. Pertama ia senang dan kedua dia bingung. Saat perjalanan dari rumah tadi, semua berjalan seperti biasa, bahkan Nana masih tertawa-tawa sambil sesekali menggodanya. Lalu apa penyebab sebenarnya rasa ketakutannya Nana ini.
" Mamam kan nggak bakal kemana-mana juga, Mum. Karna kehidupan Mamam kedepannya adalah Mumum. "
" Tapi... kalau seumpama nanti hasil testnya menyatakan Mumum nggak bisa ngasih anak, apa Mamam masih mau nikah sama Mumum. "
Zen membuang nafas panjang. Ia yang sedari tadi berjongkok, sekarang menjatuhkan diri ke lantai. Nana memang berfikir terlalu mendalam tentang pemeriksaan kesehatan yang akan ia jalani ini.
Meski sudah dua tahun bersama, tapi Zen masih sering dibuat takjub dengan pemikiran Nana yang tidak terduga, melampaui pemikiran orang dewasa lainnya.
" Mamam jangan ketawa terus. Mamam jawab, apa Mamam masih mau nikah sama Mumum kalau hasil testnya... " Jari telunjuk Zen, menghentikan kata yang akan keluar dari bibir merah Nana.
" Nggak usah diterusin! " Masih diatas lantai Zen menyilangkan kakinya di hadapan Nana.
" Sekarang giliran Mamam yang tanya. Jika seandainya yang terjadi adalah sebaliknya? Mamam lah yang nggak mampu ngasih keturunan, apa Mumum bakal ninggalin Mamam. "
" Ya nggak lah! " Dengan penuh keyakinan Nana menjawab. " Mumum kan cinta sama Mamam. Kalaupun Mamam nggak bisa hamilin Mumum, juga nggak apa-apa. Mumum akan tetap setia sampai mati sama Mamam. "
Nana mengusap air mata yang masih tertinggal di pipinya, ia ingin menunjukkan bahwa dimasa tua Zen nanti, ia yang memiliki usia lebih muda itu mampu merawatnya sampai nafas terakhir.
__ADS_1
" Begitu juga dengan Mamam, Sayang-ku. Mumum harus tau, tujuan utama menikah itu adalah ibadah, sunah rosul dan penyempurna agama. Agar zina yang seperti ini, " Menyentuh tangan Nana. " Seperti ini, " Memandang lekat wajah Nana. " Seperti ini, " Zen memejamkan matanya.
" Tidurpun termasuk zina tah, Mam? " Dengan polosnya, Nana mengartikan pejaman mata Zen adalah tidur.
" Bukan! Itu tadi maksudnya Mamam lagi mikirin Mumum. " Zen menjadi gemas sendiri. " Makanya, jangan suka nyerobot pembicaraan orang! "
Susana yang tadinya berkabut, sekarang kembali cerah. Gelembung-gelembung cinta muncul, bertebaran disekeliling mereka.
" Ya, pokoknya semua yang dihukumi zina saat ini, akan berubah menjadi pahala saat tali pernikahan sudah mengikat kita. Ya, walau mendapat keturunan itu juga menjadi sebuah tujuan, tapi Mamam pingin Mumum menganggap itu hanya sebagai bonus aja. Karna seberat apapun kita berusaha membuatnya, hanya kekuatan Allah yang maha penciptalah yang mampu mewujudkannya. "
" Emang bikin anak itu berat tah, Mam? "
Seketika, gelembung-gelembung cinta itu berubah menjadi tanda tanya yang menghujam di sekujur tubuh Zen.
" Udah, ah. Ayo masuk! " Zen mengakhiri pembicaraan.
Ia berdiri dan menepuk nepuk celananya untuk menghilangkan debu lantai. Kemudian mengambil secarik kertas yang tadi ia letakan di bangku dan berjalan menuju ruang laborat.
" Kayak gitu aja pakai ditanyain! " Ucap Zen tanpa menengok Nana yang membuntutinya di belakang.
" Ya kan Mumum nggak tau! Masa, tanya gitu aja nggak boleh. " Nana menggrutu.
" Ya nggak boleh! Dikira Mama udah pernah ngrasain apa. Mamam kan juga nggak tau! "
" Ya ma'af! Tapi Mamam-nya nggak usah emosi juga. " Tiba-tiba Nana tersenyum nakal.
" Jadi nggak sabar, bisa ngerasain seberapa beratnya waktu bikin ya, Mam. "
__ADS_1
Zen mengurungkan niatnya untuk membuka pintu ruang laborat. Ia menoleh pada Nana lagi, kali ini bukan dengan tatapan emosi jiwa lagi, tapi emosi mata yang seakan-akan bersiap menerkam tubuh Nana.