Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Salah Sangka


__ADS_3

Ibu merasa hawatir. Ini adalah pertama kalinya Nana berhadapan dengan keluarga besar Zen setelah adanya ikatan. Tanpa persiapan mental dan juga dandanan yang memadai. Yang ada pasti hanya wajah lesu, ala orang yang baru bangun dari tidur.


Meninggalkan dapur beserta minuman dan cemilan yang sedang Ia persiapkan. Ibu menemui tamu yang sudah berbaris rapi didepan dan samping Nana terlebih dulu. Mereka duduk beralaskan permadani yang sudah tergelar sejak tadi siang. Tentu saja, juga untuk memastikan bahwa Nana tidak akan kehilangan kesadaran alias pingsan dalam situasinya saat ini.


Menatap Ibunya, Nana seperti sedang meminta pertolongan. Tapi tidak ada celah sama sekali untuknya melarikan diri kali ini. Gelengan kepala Ibu memaksa Nana agar mau bersahabat dengan keadaan. Dengan hati-hati Ia menuruni kasur untuk ikut duduk dipermadani bersama para tamu, sebagai rasa hormatnya.


" Genduk Nana..., dikasur aja, nggak apa-apa." Cegah Ibu Zen.


" Nggak usah sungkan, Mbak." Imbuh kakak perempuan Zen yang nomor dua. " Nggak tau itu Zen, pamit beli obat buat Bapak kok belum pulang nyampe sekarang." Mak deg. Dada Nana terasa sesak. Begitu besar rasa kecewa yang Ia rasakan sebelumnya pada Zen, dan sekarang seperti dipupuk dengan penjelasan darj kakaknya.


Oh ! Jadi dia berniat menghindariku. Praduga Nana terhadap Zen.

__ADS_1


Udah, terserah aja dia mau apa ! Aku gak akan peduli ! Nana bertekat untuk berhenti berharap pada Zen. Terlalu besar rasa kecewa yang Ia dapat beberapa hari belakangan ini.


Tega memang. Hingga kepulangan Nana dari rumah sakit, Zen masih belum juga menampakkan batang hidung mancungnya dihadapan Nana. Walaupun itu bukanlah sebuah kewajiban untuk Zen, namun sudah terlanjur menjadi sebuah harapan bagi Nana. Harapan untuk sekedar mendapatkan perhatian dari sang calon imam. Untuk menebus apa yang sudah Ia korbankan. Yaitu perhatian yang Ia dapat dari Azam.


" Obat apa, Nduk?" Selidik Ibu Nana yang sudah ikut bergabung. Karna pekerjaannya sudah diambil alih oleh kakak Zen yang pertama.


" Itu lho tangan kiri adikmu, Mbakyu. Tiba-tiba kok bengkak." Ayah Zen memperlihatkan tangan yang dimaksud setelah penjelasan dari Istrinya.


" Ya Allah... itu ceritanya gimana kok sampe kayak gini." Ibu Nana menyentuh tangan yang diperlihatkan adiknya. Nana hanya ikut memperhatikan.


" Emm."

__ADS_1


" Ceritanya Bapak pingin makan belut, Bude. Lha pas lagi dibakarin Ibu, Bapak malah ikut bantuin bakar."


" Alhamdulillah, Mbakyu... Adikmu sekarang udah bisa jalan tanpa dipapah. Nggak gampang ngedrop juga."


" Alhamdulillah... " Ibu Nana menyaring semua informasi yang didapat tadi para tamu.


" Tapi pas diperiksakan mas Zen ke dokter, katanya karna diabetes Bapak. Malah pas periksa, obatnya cuma dapat separuh. Makanya ini mas Zen beli lagi. Soalnya yang dirumah udah habis, Bude."


Obrolan Ibu bersama keluarga Zen itu juga menjadi penjelasan untuk Nana. Kenapa sampai beberapa hari ini Zen menghilang tidak ada kabar.


Oh... ternyata aku udah salah paham ! Nana tersenyum malu.

__ADS_1


Ada rasa lega dan juga rasa bersalah dalam dada Nana. Tapi kedua rasa itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan rasa penyesalannya. Menyesal karna sudah membuang-buang waktu untuk memikirkan hal yang percuma. Tapi hal percuma itu menjadi bukti bahwa Ia telah memerima Zen dihatinya.


Suasana tegang yang tadi dirasakan Nana sekarang sudah melebur. Nana sudah mampu berbicara secara normal pada keluarga Zen saat mereka menanyakan keadaanya. Rif'an yang merasai diri sebagai saksi mata kecelakaan Nana, juga ikut menceritakan kejadianya pada Ibu Nana juga keluarganya. Yang Nana sendiripun tidak tau.


__ADS_2