Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Konspirasi Penolakan Lamaran 2


__ADS_3

Nana semakin putus asa, karna sepertinya ini akan menjadi konspirasi yang gagal, begitu pikirnya. Sebelum putus asanya semakin menjadi, Nana mendengar samar suara sepeda motor milik Hafid dari kamar lantai dua rumah sendiri. Yang letaknya berada disamping rumah orang tuanya.


Ini adalah harapan terakhirku. Batin Nana.


Nana setengah berlari menuruni anak tangga untuk menemui Hafid, sebelum keduluan masuk kedalam rumah orang tuanya. Di halaman rumah yang masih nyambung menjadi satu dengan halaman rumah orang tuanya, Nana memanggil Hafid yang datang bersama anak satu-satunya dengan hati-hati. Kemudian menariknya masuk kedalam rumahnya.


Tidak disangka Nana mendapatkan respon baik dari Hafid, setelah menceritakan keluh kesahnya sama seperti yang sudah Ia sampaikan kepada dua kakak yang mungkin hingga kini masih mentertawakannya.


Melanjutkan misi konspirasi yang hampir gagal, Nana menghubungi Firman. Dia adalah kakak Nana dengan nomor urut tiga yang tinggal didesa yang berbeda dengan tempat tinggal Nana, Hafid dan orang tuanya.


" Hah..." Nana menghempaskan Nafas setelah menghirupnya dengan nikmat. Dia lega, karna Firmanpun bersedia untuk datang membantu.

__ADS_1


" Katanya Nana dapat lamaran lagi, pak?" Firman memulai obrolan di ruang TV bersama


ayah dan juga Hafid yang sengaja menunggu kedatangannya.


" Lha kok kabarnya udah sampai ke kamu, Man?" Ibu menghentikan aktivitas dapur saat mendengar Firman membuka suara.


" Nana udah cerita."


Ye... mas Firman nggak profesional. Malah bilang aku yang kasih tau. Guman Nana yang sedang menidurkan anak Hafid didalam kamarnya.


" Bukan masalah siapa yang melamar, Bu." Firman menyela dengan nada yang sedikit meninggi. " Ini semua yang menjalani kan Nana. Baru juga dia lulus SMA, mau masuk kuliah. Dia itu masih pingin belajar, Bu. Masa Ibu tega nyuruh dia ngubur cita-citanya. Ibu nggak kasihan?"

__ADS_1


Diantara ke empat kakak Nana, Firman adalah anak yang sering membangkang karna berselisih pendapat dengan Ibu. Sedangkan ayah, adalah laki-laki yang tidak mau banyak bicara hal tidak penting dihadapan semua anak laki-lakinya. Hanya dihadapan Nana lah, dia akan berubah 180° menjadi sosok yang berbeda.


" Teman-teman sekolah adikmu banyak yang sudah punya anak, Man. Dinda juga lulus SMP langsung nikah nggak masalah. Apa kamu nggak hawatir adikmu akan menjadi perawan tua nantinya?"


" Usia Adinda kan lebih tua dari Nana, Bu. Lagian Dinda nikah sama aku itu kan atas kemauannya sendiri." Sanggah Hafid yang mendengar nama istrinya disebut, dimenjadi tolak ukur oleh Ibu.


Mendengar ibu menghawatirkan Nana yang akan menjadi tua, malah membuat hati Nana sedikit tersentuh. Apakah kehidupan yang aku impikan akan menjadi beban sosial untuk orang tuaku, begitu kira-kira yang muncul dipikirkan Nana.


" Bu, kasih kesempatan Nana menikmati masanya. Jangan sampai Nana menyesal seperti yang aku rasakan sekarang, karna nggak mau kuliah. Masalah jodoh pasrahkan sama Allah aja. Dia yang lebih tau."


" Bener kata mas Firman, Bu. Bukankah kebahagiaan Nana yang seharusnya kita utamakan? Biarin aja orang-orang mau ngomongin apa tentang Nana. Toh kalau mereka jodoh, Allah dengan caranya yang akan menyatukan." Hafid menimpali.

__ADS_1


" Mas Hafid, mas Firman. Makasih, udah ngertiin maunya adek. Udah mengdukung masa depan adek." Nana tersentuh dengan pembelaan yang dia dapatkan dari kedua kakaknya yang ini.


" Ibu, segera kerumah adekmu. Bilang kalau Nana masih mau kuliah, jadi belum bisa menerima lamarannya." Ucap ayah memberikan keputusannya. yang juga berarti keputisan final yang tidak dapat diganggu gugat lagi.


__ADS_2