Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Nana Dan Ibu Mertua


__ADS_3

Gluddug... gludduk...


Mendengar suara gemuruh yang semakin keras, Nana berlari untuk mencari Ayah di ruang tamu. Karna Ayah sedang jagongan bersama saudara dan para tetangga.


Jeddduuuaaaaaarrrrr....


" Bapak! " Teriak Nana.


Yang sudah meninggalkan pekerjaannya, membuat jajanan untuk acara punjungan atau tonjokan (hantaran untuk calon besan, prangkat desa dan saudara yang lebih tua atau orang yang dituakan) dan untuk sema'an Al-Qur'an besok pagi.


" Ba... pak..., Ba... pak... " Suara Nana terdengar bergetar dan seluruh tubuhnya menjadi kaku.


" Kenapa, Dek? " Tanya Sukma, saat keluar dari dalam kamar Nana.


Bukannya menjawab, Nana hanya menoleh sambil menangis ketakutan. Sukma yang bingung harus berbuat apa, menjadi panik dan memanggil Sholeh kakak ke dua Nana yang juga adalah suaminya.


" Kak, Kak Sholeh. Cepetan kesini. Ini Adek kenapa? "


" Kenapa, Dek? " Sholeh muncul.


" Nana kenapa? "


Karna teriakan Sukma, orang-orang jadi berkerumun, termasuk Rahmad dan Firman yang berada di luar, memastikan soundsystem yang sudah terpasang itu akan aman meski terkena air hujan.


" Ba... pak... Kaki Adek. " Nana terlihat benar-benar ketakutan.


" Kakine kenopo? "


" Kenak tikus. " Jawab Nana dengan suara yang tersenggal-senggal bercampur tangisan.


Sewaktu berlari ke ruang depan, ia merasakan kakinya menghantam sesuatu. Meski tidak melihatnya dengan pasti, namun ia sangat yakin bahwa itu adalah binatang kecil yang sangat ia takuti.


Mungkin karna diluar sedang hujan deras, binatang itu ingin ikut berteduh di dalam rumah, malah tidak sengaja berpapasan dengan Nana yang juga mencari perlindungan dari suara bledek yang mengglegar.

__ADS_1


Melihat Nana yang tidak daat mengherakkan tubuhnya, Sholeh bersama Ayah menggotong Nana menuju kamar mandi.


Karna disusuli Dinda, Ibu lari tergopoh-gopoh dari belakang rumah mencari Nana.


" Genduk? "


Disusul Dinda dan Hafid yang tubuhnya dibaluri kringat, karna sedang mengaduk bubur jenang, di belakang rumah.


" Genduk kenapa, Pak? " Tanya ibu saat melihat Sholeh dan Ayah membopong Nana.


" Katanya kaki Adek ketabrak tikus, Bu. " Jawab Sukma yang mengikuti di belakang.


" Ya Allah Gusti! "


Ibu sudah tau apa yang harus ia lalukan. Karna kejadian ini, bukan untuk yang pertama kalinya. Bergegas ibu menggambil sarung, untuk menggantikan rok panjang Nana yang akan dilucuti.


Didalam kamar mandi, Ibu mengguyur kedua kaki Nana dengan air, sebelum digosok dengan sabun secara berulang. Hal itu akan membuat Nana merasa bersih dan dapat membantu untuk mengurangi rasa ketakutannya yang luar biasa.


" Bawa Genduk ke kamar Ibu, Nang. " Ucap Ibu setelah mengelap kaki Nana dengan handuk.


" Iya, Bu. " Sukma menerima handuk yang diberikan Ibu. Dan bersiap melakukan apa yang diminta tadi.


" Kaget ya, Mbak. " Dinda mendekat pada Sukma yang masih terlihat kaget dengan situasinya. " Dulu waktu pertama kali lihat, aku juga kaget kok. "


" Kak Sholeh sih udah pernah cerita kalau Dek Nana takut sama tikus. Tapi nggak nyangka aja kalau sampai segininya. "


Di dalam kamar Ibu, Nana yang direbahkan di kasur oleh Sholeh dan Hafid langsung di selimuti. Agar suhu tubuhnya kembali menghangat.


" Ya Allah, semoga Genduk nggak sampai demam. " Doa'a Ayah dan Ibu untuk Nana yang tinggal sehari lagi akan menjadi pengantin.


***


Malam semakin larut, namun hujan masih deras mengguyur. Zen mulai lelah, meninggalkan para pemuda yang masih bertahan jagongan di rumahnya.

__ADS_1


" Mumum-ku lagi apa ya? " Ucap Zen saat menempelkan p*nt*tnya diambang kasur.


Ia mengambil ponsel yang masih tersambung dengan kabel charger, kemudian merebahkan diri. Ia melihat pesan-pesan chatnya sudah dibaca oleh Nana tapi tidak ada balasan. Terakhir kali Nana menghubunginya adalah pasa saat ia akan menemui Ardi yang sedang study banding di kampusnya. Artinya sejak Nana pulang ke rumah ia sama sekali belum mendengar kabar tentangnya.


" Kangen banget sama Mumum. " Zen memeluk gulingnya. " Ling, guling. Jangan cemburu ya jika dua hari lagi, aku akan membuang kamu. Karna udah ada Mumum-ku disini. " Zen mempererat pelukannya, sebagai tanda perpisahan dengan Ling-ling (baca:guling).


" Aaaaaa... aaaaa... Bapak... " Teriak Ibu di samping rumah, membangunkan tidur Zen.


" Ibu. " Zen menyalakan lampu kamar dan melihat ke arah jam di dinding.


Masih jam tiga seperempat pagi. Nyawa Zen yang masih tercecer karna kantuk langsung terkumpul karna teriakan kedua dari ibu.


" Zen... "


" Dalem, Bu. "


Ibu ngapain sih? Jam segini kok teriak-teriak.


Ibu sudah berada di ruang TV bersama Ayah saat Zen keluar dari kamar.


" Ibu kenapa, Pak? " Melihat ibu memegangi dada untuk mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal.


" Itu, Ibu mu lihat ada tikus mati di samping rumah. " Jawab Ayah sambil tersenyum.


" Owalah! Lha Ibu ngapain, jam segini kok udah di samping rumah? " Sedikit menyalahkan.


" Ibu kan mau lihat kayu bakarnya masih menyala apa nggak. Habis bikin wajik semalam kan, pawonnya langsung Ibu tumpangi buat masak air. Malah ada 'itu' di dekat tumpukan kayu. "


Ayah dan Zen senyum-senyum melihat ibu yang ketakutan.


" Namanya takut, nggak bisa dipaido (disalahkan). "


Loh! Mumum-ku kan juga takut sama tikus.

__ADS_1


Meski Nana tidak pernah mau membahas h itu dengan Zen, tapi Ibunya beberapa kali pernah menyinggung masalah itu saat sedang ngobrol dengan Zen.


Semoga takutnya Mumum-ku nggak sampai kayak Ibu. Karna menurut Zen, rasa takutnya Ibu itu terlalu berlebihan.


__ADS_2