Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Kejantanan Zen


__ADS_3

Sekarang Nana sudah mengetahui, jika Zen datang menghadap ke orang tuanya, sesuai saran yang ia berikan saat berada di tempat wisata itu, meminta izin agar ayah mau segera mengesahkan hubungan mereka secepatnya. Dan ibu juga memberitahukan secara detail bagaimana ekspresi Zen dari sebelum sampai sesudah ayah memberikan tanggal yang memang sudah Nana pilih itu pada Zen.


Keberanian Zen yang mendatangi orang tuanya seorang diri, membuat hati Nana terasa lumer di dalam. Ini seperti menunjukkan, seberapa besar keinginan serta keseriusan Zen untuk dapat menikah dengan Nana secepatnya. Walau alasan, mengapa Zen tidak mau mengajak orang tuanya untuk datang ke rumah keluarga Nana adalah, kehawatirannya yang begitu besar jika niatannya harus ditolak oleh orang tua Nana. Dan jika itu memang terjadi, ia ingin merasakan kecewanya sendiri saja tanpa melibatkan ayah. Zen mengingat, saat kondisi ayag sedang drop, ayah selalu mengungkapkan kehawatirannya. Kehawatiran jika usianya nanti tidak akan sampai untuk dapat menyaksikan pagelaran pernikahan Zen dengan Nana.


Saking bahagianya, Nana langsung menghubungi Zen setelah mengakhiri obrolannya dengan ayah ibu. Sampai-sampai ia melupakan keisengan yang sudah ia niatkan sebelumnya.


" Assalamu'alaikum, Mum... " Zen memberikan salam terlebih dulu. Sepertinya ini adalah telfon yang sudah ia tunggu-tunggu dalam hidupnya.


" Wa'alaikum salam, calon suami-ku. "


***


" Mumum!!! " Zen memegangi dadanya. Ada perasaan haru disana, karna ucapan Nana yang begitu menyentuh.


" Dalem, Mamam-ku. "


Ayah tersenyum, melihat ekspresi anaknya yang tiba-tiba berubah ceria setelah menerima telfon.


" Siapa Nang, yang telfon? " Tanya ayah, yang dilupakan oleh Zen keberadaannya.

__ADS_1


Zen tersenyum, " Calon mantu-mu, Pak! "


Mendengar jawaban Zen yang tidak seperti biasanya itu, ayah menjadi malu sendiri.


" Nang. " Ayah memanggil Zen yang sudah mau meninggalkannya sendirian di sofa ruang tamu.


" Kenapa, Pak? "


" Salamin ke Genduk Nana. Bilang yo, dari calon mertuanya. " Rupanya ayah sudah tertular virus cinta dari anaknya.


Zen pindah ke kamar, tempat paling nyaman dan aman untuk ngobrol dengan Nana.


" Iya, tadi. Tapi sekarang Mamam lagi di kamar sendirian. "


" Kalau nggak sendiri, emang mau sama siapa, Mam? " Ucap Nana memancing.


" Ya sama Mumum lah! " Terhenti sejenak. " Aaaa, jadi tambah nggak sabar pingin cepet-cepet halalin Mumum! "


Meski tidak menggunakan umpan, tapi dengan mudahnya Zen terpancing.

__ADS_1


" Emang Mumumnya mau, diajakin nikah sama Mamam? " Keinginan iseng tiba-tiba muncul.


" Harus mau. Mamam kan udah dapat tanggal pernikahan dari Bapak. Wheeek. " Menjulurkan lidah.


" Apa?!? " Nana seperti terkejut (hanya pura-pura).


Karna alasan inilah, Nana menghubungi Zen. Ia ingin tau bagaimana perasaan Zen saat ini.


" Nggak percaya? Sekarang Mumum tuh udah nggak bisa kabur lagi dari Mamam! "


" Nggak! Mumum nggak percaya, kalau Mamam berani datang kerumah, dan minta izin ke orang tua Mumum. "


Nana masih berpura-pura tidak tau menahu mengenai malasah ini. Karna ia juga ingin mengetahui cerita pertemuannya tadi malam dengan ayah ibu menurut versi Zen.


" Jadi Mumum meragukan kejatanannya Mamam nih?! " Menggoda Nana.


" Apa sih! "


Zen menjauhkan ponselnya dari telinganya. Suara tinggi Nana sepertinya berdengung di dalam.

__ADS_1


" Pagi-pagi, udah bikin rusuh pikiran Mumum! " Lanjut Nana. Ia mengakui, jika ia menjadi berfikiran yang iya-iya karna ucapan Zen tadi.


__ADS_2