
Di ruang tamu,
Mereka berbincang-bincang dengan Ranu. Hingga Ansa baru tahu bahwa dirinya sudah pernah bertemu dengan Ranu.
"Kalian bisa ketemu lagi seperti ini, bagaimana caranya?" tanya ayah.
"Kebetulan saya diterima mengajar di sanggar Tante Roro, Om. Nah, disitulah saya bertemu dengan Ansa," jelas Ranu.
"Wah, setelah lama ngga bertemu, akhirnya kalian dipertemukan saat sudah dewasa. Ansa, kamu dulu pernah ketemu Ranu loh," ucap ibu dengan senyum lebarnya.
"Aku, aku ngga merasa pernah ketemu Mas Ranu, Ma. Memangnya kapan aku pernah bertemu dengannya?" tanya Ansa sembari menggaruk kepalanya.
"Kayaknya waktu kamu kecil. Sekitar umur dua tahun. ya kan, Ma?" tanya ayah.
Ibu segera menjawab, "Waktu itu ... Mama, kamu, Ranu dan ibunya, kami ke perusahaan Techsophistic Farm. Karena bosan, jadinya kami jalan-jalan keliling perkebunan. Terus berhenti di danau. Seingat Mama, dulu Ranu senang banget mencubit pipimu, gendong kamu, jadinya kalian kayak kakak adik, haha ...," tutur ibu.
Ansa menoleh ke arah Ranu. Terlihat wajah mereka yang tidak tersenyum karena mungkin alasan yang sama. Mereka terlihat seperti kakak dan adik. Padahal karena kejadian hari ini, mereka saling jatuh cinta, sebagai pria dan wanita.
"Tapi dulu pernah, Sa, Ranu. Waktu itu kita berempat jalan-jalan, terus berhenti di pinggir danau. Pas Mama asyik mengobrol dengan ibunya Ranu yaitu bu Sela, kamu nyemplung ke danau, Sa! Panik banget Mama waktu itu, Sa! Karena kamu masih kecil banget, sekitar umur dua tahun ...," tutur ibu.
Ansa terperangah kaget karena dirinya baru tahu cerita masa kecilnya hari ini, dari cerita ibunya. Ia lebih terkejut lagi saat ibu melanjutkan ceritanya.
"Tiba-tiba, Ranu ikut nyemplung ke dalam danau. Mama dan bu Sela teriak histeris karena cemas ngga tahu harus gimana. Mau nolongin, tapi kita berdua ngga bisa berenang. Mama memutuskan untuk menghubungi Papa, Sa. Tapi sebelum Papa sampai di sana, Ranu sudah muncul ke permukaan dan menggendong mu keluar dari danau," sambung ibu.
Jadi, Mas Ranu sudah pernah menyelamatkan aku? Mas, aku mencintaimu, batin Ansa sembari tersenyum ke arah Ranu.
Namun Ranu tak melihat dirinya, karena lelaki pujaannya tersebut sedang ditepuk pundaknya oleh Ayah Hardi.
Tak lama, Ranu berpamitan pulang kepada mereka semua. Ansa mengantar Ranu menuju motornya.
"Bagus, Sa," pujinya sembari memegang mantel yang dikenakan Ansa.
"Mas, ma-kasih ya," lirihnya sembari memegang salah satu tangan Ranu.
"Itu sudah kewajiban ku sejak dulu, Sa. Dulu aku memang sudah bisa berenang, jadi mudah saja menolong mu yang imut hingga sekarang," ucapnya dengan mencubit pelan pipi Ansa.
__ADS_1
Ansa tersenyum, lalu ia menuntun tangan Ranu supaya masuk ke balik mantelnya. Ranu menatapnya heran, tapi Ansa malah mengedipkan matanya. "Mau lagi, hehe," bisik Ansa yang memeluknya. Ranu mengerti dan kembali aktif bermain sebentar.
"Sayang, sudah ya? Aku mau pulang." Ranu mencoba melepas tangannya yang tadi menyusup, tapi Ansa menahannya.
"Terusin bentar, Mas. Please ...," bisik Ansa.
Ranu tak menggubrisnya, ia menarik tangannya keluar. Lalu ia menjilat tangannya yang basah.
"Eh? Kok—" Ansa menahan rasa terkejutnya.
"Aku Ranu (danau), aku suka yang basah, sayang," ucapnya.
Akhirnya, Ansa memperbolehkan Ranu pulang dengan menaiki motor. Ia tersenyum dan melangkah masuk ke rumah.
Malam hari,
Jaro menemui ibunya yang sedang duduk di ruang keluarga bersama ayahnya. Ia ingin ayahnya juga mendengar, supaya ayahnya menjadi takut karena sudah melakukan kecurangan.
"Jam tiga sore aja ya? Kayaknya besok bu Roro lagi ngga ada jadwal di perusahaan model. Habis ini Ibu bakal hubungi bu Roro," jawab ibu yang langsung mengambil handphone-nya dan mengetik sesuatu.
Jaro melangkah pergi setelah mendapatkan jawaban dari ibunya dan berhasil membuat ayahnya semakin cemas. Ia bersembunyi di balik tembok dan berusaha menguping pembicaraan orang tuanya.
"Bu, Jaro mau ngapain ke sanggarnya Roro?" tanya ayah.
"Dia mau ikut bergabung ke pemain alat musiknya, Yah."
"Tapi Bu, habis ini dia ujian loh. Kok kamu malah membiarkan ia bermain alat musik? Coba lihat Deniz, nilainya selalu bagus karena ia ngga pernah ikut sesuatu yang mengasah hobinya. Ia cukup ikut les semua mata pelajaran, dan hasilnya bisa kamu lihat sendiri, 'kan? Selalu bagus!" dalih ayah.
Jaro geram mendengar perkataan ayahnya. Ayah hanya ngga ingin aku mengungkap kebenaran, 'kan? Tapi akan aku kumpulkan bukti sebanyak-banyaknya!! Sehingga ibu tak perlu bersamamu lagi!
"Anak-anak kita semuanya pandai, Yah. Kamu ngga tahu ya? Jaro sudah sering menjuarai lomba-lomba di sekolah. Apa salahnya sih, kalau ia ingin menghibur dirinya dengan hobinya? Bahkan anak semata wayangnya Roro, ia juga di sanggar itu! Siapa namanya? Ansa, Angsa, Hansa? Ah itulah pokoknya!" protes ibu.
"Ya, tapi sanggar itu kan miliknya. Mana mungkin nantinya ngga diwariskan ke putri satu-satunya itu? Pastinya si angsa itu akan ikut andil dalam sanggarnya," sanggah ayah.
__ADS_1
Percakapan mereka berakhir. Jaro merasa kesal karena informasi yang ia harapkan tak juga ayahnya sebutkan. Ia memilih untuk pergi ke kamarnya.
Di kamar Jaro,
Jaro melihat kakaknya yang sedang berdiri di balkon kamarnya. "Mas Deniz!" panggilnya yang berjalan perlahan menuju balkon.
"Hm? Ada informasi apa, Ro?" tanya Deniz yang menoleh ke samping.
Jaro telah berdiri di samping kakaknya. Mereka menikmati angin malam yang berhembus pelan, tapi tetap membawa hawa dingin di tengah panasnya otak mereka.
"Mas, ayah memang ngga terlalu setuju kalau aku bergabung dalam sanggar. Ku dengar sih, alasan ayah karena sebentar lagi aku akan ujian, dan ayah khawatir kalau nilainya ngga bagus," tutur Jaro.
"Gitu ya. Ba*ingan itu memang pintar, haha! Ya iyalah! Kan pemilik Sekolah Mandraguna, mana mungkin ngga pintar," olok Deniz dengan mengacak rambutnya karena frustasi.
"Pintar mencari alasan, Mas. Haha! Terus Mas, Mas Deniz ngga mencari tahu ke Bunly?" tanya Jaro dengan keluguannya.
"Mungkin nanti, Ro. Saat aku sudah SMA. Karena itu bukan tempat yang boleh dimasuki oleh anak-anak seperti kita ini, Ro. Jadi, sabar ya," jawab Deniz dengan perlahan. Perlu memutar otak untuk memberi jawaban yang mudah dimengerti oleh adiknya.
"Oh ya! Tadi Ibu malah membandingkan aku dengan anaknya bu curang itu. Em, siapa? Oh! Angsa, Mas!" Ucapannya mendapat tawa nyaring dari Deniz.
"Angsa? Haha! Pasti kamu salah mendengarnya, Ro! Haha!"
"Ya itulah, aku lupa, hehe. Katanya sih anaknya itu juga bergabung di sanggar itu! Jadi mungkin aku bakal mendekatinya, lalu menculiknya, lalu memberi ancaman kepada bu curang itu supaya ngga mengganggu ayah lagi," tutur Jaro dengan suara menggebu-gebu.
"Ngga guna, Ro. Ayah sudah jatuh ke pel—" Ucapan Deniz terhenti.
Jaro menatap kakaknya dengan heran. "Kenapa berhenti, Mas?"
"Maksudku, Ayah sudah ngga bisa lepas dari bu curang itu. Kamu lihat kemarin yang ayah mengantarnya hingga sampai sanggar, 'kan? Kayaknya mereka sudah lama bekerja sama, kitanya aja baru tahu sekarang. Bahkan ibu, ibu kenapa juga harus percaya kepada bu curang itu?! Agh!" tutur Deniz yang di akhiri dengan pekikan.
"Memang seperti itu ibu, Mas. Terus, bukti screenshot yang tadi mau diberikan kapan, Mas?" Jaro baru ingat dengan satu bukti yang telah mereka temukan.
"Bukti yang tadi itu belum kuat, Ro. Nanti saat aku telah SMA, barulah aku pergi ke sana dan akan aku cari informasi mengenai kunjungan ayah selama ini," ujar Deniz yang menyuruh adiknya tersebut untuk menyimpan terlebih dahulu satu bukti yang sangat berharga bagi mereka.
Jaro hanya mengangguk dan menyetujui rencana yang dibuat oleh kakaknya. Kali ini aku fans-mu Mas Deniz!
__ADS_1
***