
Nyindir Bang Tere Liye 😁
.
.
Sore hari, di pusat terapi.
Ansa dipersilakan masuk ke salah satu ruang terapi, diantar oleh salah satu terapis. Dengan seragam sekolah yang masih melekat di tubuhnya, terapis tersebut mulai berbasa-basi kepadanya.
"Baru pulang sekolah ya?"
"Iya," lirih Ansa.
Ruang terapi ini memiliki dinding dan langit-langit yang berwarna putih, disertai lantai pualam. Tinggi dan lebarnya sekitar empat meter. Ruangan ini terlihat sederhana di dalam bangunan yang sebenarnya memiliki teknologi mutakhir di bidang medis.
Di dalam ruang putih tersebut, hanya terdapat dua sofa di tengah ruangan disertai meja coklat. Tak ada jendela, hanya ada satu alat pendingin suhu di dalam ruangan tersebut.
Terapis tersebut meminta Ansa untuk duduk di salah satu sofa. Dia juga segera duduk di sofa yang agak jauh dari meja.
"Namaku Isqabel. Namamu Hansaria Hardiyata, 'kan?" ucapnya sembari tersenyum.
Wajah Isqabel terlihat mirip seperti Bibi Ning. Mungkin umurnya juga tak jauh berbeda. Jemarinya sedang mengetuk-ketuk tablet di pangkuannya.
"Iya. Saya Ansa."
Ansa mirip seperti pasien-pasien lainnya yang baru pertama kali ke pusat terapi. Rasa gugup masih menyelimutinya.
Isqabel hanya mencoba untuk membuat suasana rileks di dalam ruangan putih tersebut. Walaupun pasien mudanya saat ini memilih bungkam, hanya bersuara saat ditanya oleh dirinya.
"Oke, langsung saja ya." Isqabel mulai fokus untuk membacakan apa yang dilihatnya di tablet.
"Hansaria, atau Ansa. Umur 14 tahun, siswa SMP Mandraguna, anak tunggal keluarga Hardiyata ...."
"Dikenal sebagai model, penari, juara tiga besar olimpiade Mandraguna ...," lanjut Isqabel.
Ansa hanya diam, berharap dirinya bisa menghilangkan fobianya dengan cepat. Dia menyandarkan punggungnya di sofa, berusaha membuat tubuhnya merasa nyaman.
__ADS_1
"Keluhan, fobia terhadap rasa bahagia. Dua tahun yang lalu, sudah pernah periksa ke pusat terapi." Isqabel menghela nafasnya.
"Anda sering mengonsumsi obat-obat penenang, karena fobia anda sempat membuat anda terlalu banyak pikiran, dan pingsan. Tapi ... setahun yang lalu anda bisa mengontrol fobia anda."
"Lalu sekarang ... apakah ada suatu masalah, yang membuat fobia Anda kembali muncul?" tanya Isqabel.
"Iya, ibu saya meninggal tepat di hadapan saya ...."
Malam hari,
Bu Liana melempar remote televisi, lalu meraung. Membuat Jaro dan Deniz keluar dari ruang kerja. Mereka berdua tiba-tiba sangat kompak dalam hal mencemaskan ibu mereka.
Deniz maupun Jaro segera menuntun ibunya supaya kembali duduk di sofa ruang keluarga. Mereka berdua melihat air mata ibunya sedang bercucuran.
"Ada apa?" lirih Deniz.
"Ayah, Niz. Pengadilan sudah memvonis ayah sebagai pelakunya. Huhu." Tangis ibu pecah di dalam pelukan anak sulungnya.
Jaro merasa sesak. Seketika air mata menetes, dan dirinya ikut memeluk ibunya dari belakang. Deniz mengusap lengan ibu dan adiknya, berdoa semoga Tuhan bisa menguatkan hati mereka untuk menerima kenyataan yang terjadi.
Di rumah Ansa,
Ayah memegang pundak anak tunggalnya yang sedang duduk di depan meja belajar. Beliau tersenyum kepadanya. "Masih belajar ya?"
"Iya, Pa. Ada apa?" Ansa juga ikut tersenyum.
"Tadi gimana di pusat terapi? Lebih merasa baikan, atau masih ada yang ingin kamu ceritakan pada Papa?" tanya ayah.
"Sudah lebih baikan, Pa. Tapi aku masih bingung. Tetap di sekolah itu, atau pindah saja ya?"
Ayah menatap dan mencubit pipi Ansa. "Tetap saja di sekolah itu. Papa yakin, anak si pemilik sekolah itu ngga akan bisa mengganggumu lagi. Karena ayahnya sudah dimasukkan ke penjara selama beberapa tahun."
Oh ya? Ansa melebarkan kedua netranya. "Berarti memang dia yang mendorong mama, Pa?"
Ayah menganggukkan kepalanya. "Papa sudah menyuruh pengadilan untuk menyelesaikan kasus ini, tidak perlu diperpanjang. Karena semua bukti kejahatannya sudah terungkap."
Sejam kemudian,
__ADS_1
Ibu telah di atas ranjangnya, ditemani oleh Jaro. "Ayahmu ngga melakukan itu semua, Ro. Ibu, Ibu—"
"Iya, Bu. Mungkin menurut kita semua ini ngga adil. Tapi kalau pengadilan sudah memutuskan ayah adalah pelakunya, kita bisa apa?"
"Kita masih bisa mengeluarkan anaknya si Roro itu dari sekolah. Tapi dengan gosip yang menyakitinya."
"Sedang aku usahakan, Bu." Jaro mengusap-usap lengan ibunya.
"Ibu akan membantumu, Ro. Usahakan gosip yang kamu buat, bisa mendukung ibu untuk mempengaruhi kepala sekolah."
Beberapa menit kemudian, ibu telah terlelap di atas ranjang berseprei batik. Sehingga Jaro mengendap-edap keluar dari kamar ibunya.
Di luar kamar, dia segera melangkah menuju kamar Deniz. "Mas," bisiknya.
"Ya, masuk!" jawab Deniz.
Setelah menutup pintu, Jaro menatap tajam ke arah Deniz. "Gimana? Sudah senang karena ayah di penjara sebagai pelakunya? Dan juga, kamu sudah mendapatkan anaknya," sindirnya.
"Hah?!" Deniz berhenti membaca novelnya dan menatap Jaro.
"Aku ngga bahagia atau sedih. Aku bingung, Ro. Aku tahu ayah ngga salah dan ngga mungkin berani membunuh ibunya Ansa."
"Untuk yang gosip yang ngga benar itu ... Aku senang saat mengenal Ansa. Dia mirip sepertimu. Pintar, manja, berani. Aku senang punya dua adik seperti kalian ...."
"Tapi saat aku tahu bahwa sekarang kalian bermusuhan, aku ngga tahu harus gimana. Mungkin kalian merasa terpukul oleh kejadian yang ngga seharusnya kalian tahu. Sekarang aku masih mengusahakan untuk mencari pelaku yang sebenarnya, walaupun ayah sudah di penjara." Mata Deniz mulai berkaca-kaca.
"Aku masih percaya ke kalian berdua, khususnya kamu. Adik kandungku yang selalu bersamaku. Aku percaya kalau kamu terus menemani ayah waktu itu. Aku juga percaya pada Ansa yang teguh menyalahkan ayah."
"Kemungkinan yang bisa terjadi adalah ... mungkin ayah memesan jasa pembunuh bayaran untuk menghabisi bu Roro. Mungkin ...." Deniz telah selesai bicara.
Jaro hanya menunduk, menyusul air matanya yang menetes. Maaf Mas. Aku tetap akan mengeluarkan dia dari sekolah. Dengan memanfaatkan Mas, batinnya.
"Besok, aku ingin menyelidiki Orbifly di rumah Ansa. Mas Deniz ikut ya?" ucap Jaro.
"Oh, oke. Sore atau malam?" balas Deniz.
"Malam saja ya, kita ke rumahnya. Aku akan minta izin ke Ansa." Jaro segera keluar dari kamar kakaknya, dan cepat-cepat menghubungi Sari.
***
__ADS_1