Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Bab 11 The Thorn of A Rose


__ADS_3

...“Kita indah dan harum bagaikan bunga mawar....


...Namun duri-duri tajam perlahan menyembul di antara kita.”...


Di toilet,


Perempuan tersebut melotot ke arah Ansa. "Kamu boleh terkenal di mana pun. Tapi jangan berani untuk mendekati Jaroku!"


Benar 'kan? Dia adalah Sari yang kemarin disebut oleh mereka bertiga, batin Ansa.


"Aku ngga pernah menganggapnya lebih dari teman. Di sini aku hanya mencari teman, dan Jaro pasti seperti itu juga," balasnya.


"Oh ya? Awas aja kalau kamu mendekatinya!" bentak Sari.


"Namanya juga teman, ya boleh dong kalau aku dekat dengannya. Aneh deh," protes Ansa.


"Ish! Kamu lihat biskuit itu," ucap Sari sembari mendekati biskuit yang telah dia lempar. Lalu dia menginjak dan menekan biskuit tersebut menggunakan salah satu kakinya.


Mata Ansa melotot ke arah Sari dan ia mengepalkan kedua tangannya. "Kamu masih waras 'kan? Itu makanan, dan kamu menginjaknya. Apa kamu ingin lambung mu itu ku injak? Woi!!" pekiknya.


"Ayo sini, ambil biskuit mu ini. Aku masih menginjak biskuit mu, bukan badanmu. Kalau kamu ngga menjauh dari Jaro mulai hari ini, mungkin besok kamu akan mendapat hadiah spesial dari gengku," balas Sari dengan lembut.


Namun kelembutan tersebut terdengar sebagai ancaman untuk Ansa. Lagi-lagi dirinya bertemu seseorang seperti Sharly. Ah! Bahkan nama mereka tak jauh berbeda.


Ansa hanya bungkam dan segera melangkah ke dalam kamar mandi. Dia juga mendengar Sari yang melangkah ke luar dan membanting pintu toilet.

__ADS_1


Di kelas,


Jaro menunggu Ansa di depan pintu kelasnya, sembari berdoa supaya temannya tersebut sampai di kelas sebelum gurunya. Tiba-tiba muncullah Sari yang tersenyum ramah kepada dirinya.


"Jaro!"


"Sari! Lama banget di toilet, padahal sudah bel masuk," ucapnya.


"Hehe, iya masih ngaca biar cakep!" jawab Sari. Kemudian wajahnya terlihat heran dengan tingkah Jaro yang menjadi penjaga pintu. "Ro, kamu sedang menunggu siapa?"


"Lagi menunggu Ansa. Tadi dia bilang mau ke toilet dulu sebelum ke sini. Eh, dia sama sepertimu. Lama," jawab Jaro tanpa rasa bersalah.


Suasana hening sejenak. Beberapa detik kemudian, Sari melangkah pergi ke pintu kelasnya. "Sari ...," panggil Jaro.


"Aku suka biskuitnya. Tapi kenapa sekarang bentuknya jadi angsa ya? Bukan seperti dulu, ada yang berbentuk bunga, kelinci, kartun. Dan tadi tuh, aku ngga membantingnya Ro. Aku cuma ngga sengaja menyenggolnya. Aku, ke kelas ya. Bye," dusta Sari.


"Bye," lirih Jaro.


Tanpa Sari sadari, dia telah memunggungi Ansa yang berdiri tegak di belakangnya. Setelah Sari pergi, mata Jaro bertemu dengan wajah Ansa yang sendu.


"Ansa," panggilnya dengan pelan. Kenapa diri nya terlihat sedih? Apakah Sari mengatakan sesuatu yang menyakiti hatinya? Atau, apa? batin Jaro.


Namun Ansa tak menghiraukannya, dan melangkah pergi ke dalam kelas mereka.


__ADS_1


Pulang sekolah,


Ansa dan Jaro telah bertemu Deniz di taman. Mereka segera membahas tentang foto bu Roro. Deniz dan Jaro membiarkan Ansa duduk di bangku taman.


"Kata mamaku, pria di foto itu namanya pak Roi. Beliau bekerja sama dengan mamaku untuk promosi produk kosmetiknya. Tapi, aku ngga percaya Ro, Mas. Karena mereka sangat dekat saat aku mengintip mereka di ruangan mamaku. Hm," ujar Ansa.


"Benar, Sa. Ngga mungkin hanya sekedar kerja sama kalau sampai dekat seperti itu," balas Jaro.


"Kami sudah menduganya kalau pria itu bukan ayah kami, Sa. Karena kemarin sore, tiba-tiba ayah menjemput kami," sambung Deniz.


Ansa hanya menunduk dan menatap layar handphone-nya. "Mas, Ro. Ini sudah dipasang pelacak oleh papaku. Sekarang mereka berdua masih di perusahaannya masing-masing," tuturnya.


"Iya, Sa. Tolong kamu terus memantau posisi mereka ya! Kalau mereka pergi ke hotel atau apalah itu, langsung beri kabar ke grup ya," titah Deniz.


"Siap komandan," jawab Ansa dengan wajah lesu.


"Eh, tapi. Pak Roi dari perusahaan kosmetik itu, kayaknya beliau adalah ayahnya Sari," ucap Jaro sembari menggaruk kepalanya. "Bentar, akan aku coba chat Sari."


Deniz mengangguk. "Iya Ro, coba tanyakan. Kalau memang benar, masukkan saja dia ke grup. Aku mau les nih, sudah jam tiga. Bye, Ro, Ansa."


Ansa dan Jaro mengiyakan ucapan Deniz. Lalu Jaro kembali fokus berbalas pesan dengan Sari.


Sedangkan Ansa mulai cemas hingga dahinya basah. Hah, hah. Apakah Sari akan dimasukkan ke grup? Ya ampun, bagaimana nasibku ke depannya kalau aku harus terus berurusan dengannya?! batinnya.


__ADS_1


__ADS_2