
Sebenarnya terserah kalian 😉
Kalian tetap bebas berimajinasi kok.
...“Sakit hati ini, justru membawa aku dan kamu bersama....
...Mengapa kita memilih untuk jatuh dalam jurang madu ini?”...
Di depan kamar,
Jaro mendekatkan telinganya ke pintu, berusaha fokus mendengarkan. Namun tak ada suara.
"Benar kamar ini, Bi'?"
Bibi Ning mengangguk. "Benar. Mungkin dia sudah tidur, Jaro."
"Aakhh!!!" Pekikan Ansa terdengar menakutkan.
Jaro semakin ketakutan dan segera membuka katup pintu. Untunglah Ansa tak mengunci pintunya.
Jaro segera melangkah masuk. Kedua matanya menangkap pecahan kaca bertebaran di lantai kamar. Sehingga dirinya mencegah Bibi Ning untuk masuk.
"Bibi di luar saja. Biar saya yang menenangkannya. Saya juga bersalah kepadanya, Bi'," lirihnya.
"Tolong ya, Jaro. Tolong bantu Ansa."
Jaro mengangguk dan menutup pintu kamar. Kakinya berjinjit mencari jalan yang tidak ada serpihan kaca. Aduh! Ternyata tetap kena!
Kepala Jaro terangkat, dan matanya menangkap sosok Ansa yang mulai menyayat nadinya sendiri.
"Ansa!! Kamu masih waras, 'kan?!" pekik Jaro. Dia sudah tak peduli dengan pecahan kaca dan memilih berlari untuk mencegah tindakan Ansa.
Jaro mencoba merebut potongan kaca dari genggaman Ansa. Tentu saja Ansa membentaknya. "Ngga mau!! Ngga!!"
Namun kekuatan Ansa tak sebanding dengan Jaro. Pecahan kaca tersebut lepas dari genggamannya, dan Jaro langsung memeluknya.
"Jangan, Sa," bisiknya.
"Lepasin aku! Lepas!! Akh!" Ansa mendorong Jaro, dan membungkuk untuk mengambil pecahan kaca.
"Jangan, Sa!! Kamu kenapa sih?!"
"Kamu yang kenapa, Ro?!! Kenapa kamu mencegahku?! Aku mau pergi dari sini! Dari dunia yang tak mencintaiku!!"
Jaro bungkam. Bingung dengan perasaan Ansa yang ingin mengakhiri hidupnya. Dia benar-benar lemah. Kedua tangannya bak memborgol kedua lengan Ansa.
"Lepas! Lepasin!! Kamu membenciku, 'kan? Kamu ingin aku keluar dari sekolahmu, 'kan?!! Biarkan aku pergi, Ro!!"
Kini Jaro semakin merasa bersalah. Ternyata mulutku sangat mempengaruhi mentalnya.
"Dasar orang gila!" protes Jaro.
"IYA, AKU TAK WARAS!!" pekik Ansa.
__ADS_1
Cengkraman Jaro berhasil dilepas oleh Ansa. Sehingga dirinya segera berlari ke balkon. Kalau aku tak bisa mengambil pecahan kaca itu, aku akan melompat dari sana!
"Ansa!!" Jaro segera berlari mengejar Ansa. Dia melebarkan langkah kakinya untuk menyusul Ansa.
Hap! Jaro melingkarkan tangannya ke pinggang Ansa yang telah menempel di pagar balkon.
"Huhu, huhu. Lepasin. Lepas!!" Ansa memberontak dan memukul-mukul tangan Jaro.
Tak ada pilihan, Jaro menggendongnya dan menurunkannya di dalam kamar. Gerakannya sangat cepat dalam menutup pintu balkon, sehingga tak ada waktu untuk Ansa yang kembali bersiap menyayat nadinya.
"Ansa!! Ya ampun!!"
"Jangan mencegahku!"
Lagi dan lagi, Jaro membuang pecahan kaca dari genggaman Ansa.
"Kamu kenapa sih? Kamu ngga suka kalau aku tiada?! Hah?!" bentak Ansa.
"Aku ngga mau kamu mati dengan mudah!" dusta Jaro. "Aku ngga mau kehilangan rivalku! Kamu ngga boleh mati!"
Ansa menatap Jaro dengan kedua netranya yang merah. "Aku sudah capek, Ro," lirihnya.
"Aku mencintaimu, Sa," balas Jaro dengan suara pelan.
"BOHONG!"
Jaro memilih bungkam dan membiarkan Ansa memukul dadanya. Aku juga baru menyadarinya sekarang. Sama seperti ibuku yang mencintai ayahku.
"Pembohong! Kamu sering mendekati para wanita! Kamu membenciku karena aku adalah wanita penggoda!"
"Apa? Apa sekarang kamu ingin menggodaku?! Oke, aku juga akan menggoda mu!"
Kamu akan kembali membenciku saat aku menantang mu, Ro. Sama seperti saat kita di kolam renang, pikir Ansa.
"Jangan, Sa. A-aku ke sini cuma ingin minta maaf—" Ucapan Jaro terhenti karena Ansa perlahan membuka kancing baju tidurnya.
"Sa ... kamu ngga tahu egoisnya seorang pria saat digoda seperti ini," lirih Jaro.
Namun semua tak dapat dicegah, Jaro menggendong Ansa ke atas kasur dan menunjukkan sisi brutalnya.
Esok hari, di studio musik.
Baby, I'm preying on you tonight~
(Sayang, aku memangsa dirimu malam ini)
Hunt you down, eat you alive~
(Memburumu, memakanmu hidup-hidup)
Just like animals~
(Seperti binatang)
__ADS_1
Maybe you think that you can hide~
(Mungkin kamu berpikir bahwa kamu bisa sembunyi)
I can smell your scent for miles~
(Aku bisa mencium baumu dari kejauhan)
Just like animals~
(Seperti binatang)
Hari ini Richard yang menjadi vokalis, sedangkan Jaro menjadi gitaris. Mereka berdua bersama ketiga temannya sedang latihan band di sini.
So what you trying to do to me?
(Jadi apa yang sedang kamu coba lakukan kepadaku?)
It's like we can't stop, we're enemies~
(Seolah kita tidak bisa berhenti, kita adalah musuh)
But we get along when I'm inside you~
(Tapi kita akur saat aku di dalam dirimu)
Yeah, you can start over, you can run free~
(Yeah, kamu boleh memulai dari awal lagi, kamu boleh lari bebaskan diri)
You can find other fish in the sea~
(Kamu boleh temukan ikan lain di lautan)
You can pretend it's meant to be~
(Kamu boleh berpura-pura takdirnya akan seperti itu)
But you can't stay away from me~
(Tapi kamu tak bisa menjauh dariku)
Di meja makan,
Ansa mendaratkan dirinya dengan perlahan di kursi. Dia menahan rasa sakitnya dengan tersenyum ke arah Bibi Ning.
"Nasi gorengnya pasti enak nih, hehe." Ansa segera mengambil masakan buatan Bibi Ning.
Lalu ia menyantapnya untuk mengembalikan energi setelah bertarung tadi malam. Kepalanya mengangguk, tanda dirinya senang dengan masakan Bibinya.
"Ansa," panggil Bibi, membuat Ansa melihat ke arah beliau.
"Kalian sudah melakukan kesalahan ...."
Ansa menunduk. Mungkin tadi malam Bibi terganggu dengan kegaduhan kami.
__ADS_1