Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Bab 6 Selangkah Lebih Maju


__ADS_3

...“Kita bertemu,...


...Walau sebenarnya pertemuan ini adalah ancaman bagiku....


...Karena rahasiaku, ada bersamamu."...


"I-iya Pak," jawab Jaro dengan gelagapan.


Ia merasa seperti little hood yang berhasil ditangkap oleh serigala berbulu domba. Ditambah lagi suara tawa pria tersebut yang seakan mengejek Jaro.


"Hahaha! Santai saja, Dik. Kamu bisa memanggilku dengan Mas Ranu," tutur Ranu kepada Jaro.


"Oh, iya Ma-Mas," balas Jaro yang memaksakan senyumannya.


Tampang kayak gitu, minta dipanggil Mas? Hah! Ya sudahlah, aku sedang tak ingin mencari musuh, ucap Jaro dalam hatinya.


Ranu mengajak Jaro untuk mengisi buku kehadiran di meja absensi. Jaro merasa jantungnya masih berdegup kencang saat dirinya dituntun oleh pria besar yang masih merangkulnya. Aku ke sini hanya ingin bertemu si angsa itu. Tapi, di mana dia sekarang? batin Jaro.


Di meja absensi,


Jaro sibuk menuliskan namanya, dan Ranu membacanya dengan lantang.


"Jamario Imba Daghiawi. Oh, kamu adalah anak pemilik Sekolah Mandraguna, ya? Tapi setahuku, yang bernama Deniz itu adalah anak pemilik sekolah," ucap Ranu yang terlihat seakan tahu tentang keluarga Daghiawi.


"Oh, itu Pak. Eh! Itu kakak saya, Mas. Saya Jaro," balasnya yang masih was-was.


"Jaro? Bukannya tadi namamu Jamario?" cecar Ranu yang sangat penasaran.


Apaan sih, kayak gitu aja diributin. Yang punya nama adalah aku, bukan dia. Kok malah dia yang repot, huh! protes Jaro dalam hati.


"Biar singkat," jawab Jaro dengan datar, lalu ia melangkah pergi dari meja absensi.

__ADS_1


Di ruang rias,


Ansa telah selesai dirias tak terlalu tebal oleh kakak pembimbingnya yang lain, yakni Gita. Setelah berias, Ansa disuruh untuk mengganti bajunya, dan ia segera berlari ke lantai atas.


Rumah Bibi Ning selaku pengurus sanggar ini sangatlah luas. Di lantai dasar, tepatnya di tengah rumah, memang sering dijadikan tempat rias. Sedangkan bagian atas, terdapat kamar-kamar yang sesekali dijadikan tempat singgah para penghuni sanggar jika ingin bermalam di sana.


Ansa telah sampai di depan kamar yang semuanya masih tertutup. Ia mencoba membuka salah satu pintu kamar.


Clek!


Huf, syukurlah tidak terkunci, batinnya. Ia segera melangkah masuk dan berganti pakaian. Pintu kamarnya hanya ditutup tanpa menautkan katupnya.


Setelah selesai berganti pakaian, Ansa dikejutkan oleh suara yang memanggilnya. Namun ia tetap menyuruhnya untuk masuk.


"Ansa?"


"Ya! Masuk aja!" titah Ansa.


"Ansa, kamu pasti bisa. Lagipula, ini masih latihan. Kalau memang ada yang salah—" ucap Ranu.


"Aku pasti bisa, Mas. Ngga apa kalau ini hanya latihan, dan aku membuktikannya di sini. Supaya mereka semua yang menontonku, menjadi percaya kepadaku," jelas Ansa.


"Iya, iya. Aku percaya," balas Ranu yang ikut duduk di belakangnya, sembari menyandarkan dagunya di pundak Ansa.


Ansa mulai merasa hangat di bagian lehernya, akibat dari deru nafas Ranu. Hari ini, Ansa memakai kemben dan celana olahraga yang panjang. Sehingga terlihatlah maha karya yang diciptakan oleh Yang Maha Indah untuk Ansa.


Ranu mulai mencium leher Ansa, membuat gadis tersebut menggeliat. "Mas, ayo keluar. Bentar lagi latihannya dimulai," dalih Ansa untuk mencegah tingkah Ranu.


Namun pria idamannya tersebut tak menggubris. Ia justru memutar tempat duduk Ansa dan mencuri ciuman.


Beberapa menit kemudian, Ranu melepas Ansa. "Maaf," lirihnya.

__ADS_1


Membuat Ansa merasa kesal. "Sudah? Ayo pergi, Mas," ajak Ansa dengan wajah datar.


Ansa berdiri dan merapikan pakaiannya, lalu melangkah pergi dari kamar. Ranu juga mengikutinya dari belakang.


Nanti ya, Mas. Tolong bersabarlah. Saat ini aku ingin mengejar karierku! ucap Ansa dalam hatinya.



Di pelataran sanggar,


Jaro sedang asyik berbincang-bincang dengan teman-teman barunya di sanggar. Kebanyakan mereka semua tak bersekolah dan memilih untuk bekerja membantu orang tuanya.


Salah satunya adalah Tristan, ia sering membantu ayahnya yang bekerja di ladang milik perusahaan Techsophistic Farm dan juga berjualan di lapaknya yang berada di pasar perusahaan tersebut.


"Tris, apakah kamu kenal dengan Ansa?" bisik Jaro, dan teman barunya tersebut mengangguk.


"Iya. Semua yang berada di sanggar ini pasti mengenalnya. Karena Ansa adalah anak dari pemilik sanggar ini," balas Tris.


Oh, gitu, batin Jaro. "Terus, siapa nama pemilik sanggar ini? Dan itu, itu siapa namanya?" tanyanya sembari menunjuk ke arah wanita paruh baya. yang sedang duduk di kursi depan rumahnya.


"Itu namanya Ningsih. Tapi kami sering memanggilnya dengan bibi Ning. Kalau pemilik sanggar ini, namanya bu Roro," jelas Tris, dan Jaro hanya menganggukkan kepalanya.


"Terus ya, banyak yang memanggil Ansa itu dengan sebutan 'Angsa'. Kenapa? Karena kadang orang-orang itu lebih mengandalkan pendengaran ketimbang melihat tulisannya. Jadi, kamu jangan kaget kalau ada yang memanggilnya dengan sebutan angsa. Haha!" lanjut Tris.


"Tris! Menurutmu, siapa orang yang paling dekat dengan Ansa di sini?" tanya Jaro lagi.


"Hm, kayaknya sih bibi Ning. Selebihnya, teman-teman perempuannya. Karena aku atau teman-teman di sini ngga pernah melihat Ansa terlalu dekat dengan laki-laki manapun," jawab Tris dengan akurat.


Hah! Ternyata si Ansa dan pak Ranu itu pintar main petak umpet ya? Baiklah, nanti kalian akan melihat kedekatan ku dengan anak pemilik sanggar ini, hahaha! batin Jaro dengan senyum miringnya.


Obrolan mereka terputus oleh suara musik yang bergema sangat kencang. Hingga menggetarkan seisi sanggar ini. Semua duduk menghadap ke rumah pengurus sanggar, dan bersiap menikmati tarian dari 8 personil.

__ADS_1



__ADS_2