Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Tabir Yang Terbuka_3


__ADS_3

Esok hari,


Jaro membuka matanya, dan meraba di sampingnya. Kok kosong? Alhasil ia membuka mata dan segera mencari keberadaan Ansa.


Ternyata Ansa telah berseragam dan sedang merias diri di depan cermin. "Ayo bangun sayang. Kurang-kurangin kemalasan mu itu!"


Ternyata Ansa melihat suaminya yang telah duduk tanpa kaos di atas kasur, dari balik cermin.


Jaro menggaruk tengkuknya dan berucap, "Ngga malas, cuma lemes."


Ctakk!


Jaro terkejut dan menoleh ke arah istrinya. Suara tersebut berasal dari tempat bedak yang Ansa tutup, tapi secara kencang.


"Segera siap-siap! Aku tunggu di bawah," perintahnya.


Brakk!


Bahkan pintunya ia banting, ya ampun, batin Jaro. Dia merasa bahwa istrinya masih kesal kepadanya. Sehingga ia cepat-cepat berlari menuju kamar mandi.


Di meja makan,


Jaro melihat suasana tegang dan dingin di sana, karena Ansa dan ibu sedang duduk berhadapan. Dirinya berpura-pura telah melupakan kejadian kemarin, dan duduk di samping Ansa.


"Jaro, kenapa kamu tidur dengannya di satu kamar?" lirih ibu.


Jaro mengangkat tangan kanannya, menunjukkan cincin di jari manisnya. Mulutnya bungkam karena sibuk mengunyah sarapannya.


Ansa menatap sendu kepada ibu. "Kami sudah menikah, Bu."


Ibu menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Ternyata kamu sudah mengikuti saran Ibu. Bagus, Ro."


Jaro dan Ansa sama-sama mengerutkan dahi, karena respon ibu yang justru bahagia. Ibu menatap mata Ansa.


"Saya pernah bekerja sama dengan Jaro untuk mengeluarkan kamu dari sekolah. Dan ternyata gagal. Mangkanya saya sarankan kepadanya, supaya dia berpura-pura mencintaimu dan menikahi mu. Lalu dia akan menyakitimu pelan-pelan," dusta ibu.


"Bu! Maksud Ibu apa?! Siapa yang berpura-pura? Aku? Ibu yang berpura-pura! Dulu aku memang menuruti kemauan Ibu! Tapi sekarang, aku tahu Ibu adalah pelakunya! Dan aku ngga akan pernah percaya lagi ke Ibu!" protes Jaro.


Ansa meremas bajunya di bawah meja. Dia menatap ibu dengan perasaan campur aduk. Jadi Jaro tak jauh beda dari mas Ranu!

__ADS_1


Alhasil Ansa memilih bangkit dan berpamitan. "Saya, saya berangkat duluan ke sekolah. Permisi," ucapnya.


"Sa! Ansa!" Panggilannya tak dihiraukan oleh Ansa. Kini dirinya beralih ke ibu.


"Ternyata Ibu ngga berubah. Oke ... bentar lagi, akan datang surat dari pengadilan, Bu!"


Hari ini, Ansa berangkat dengan menumpang mobil dan sopir milik keluarga Daghiawi. Sedangkan Jaro tetap menaiki motornya, tapi ia tetap membawa dua helm.



Di kelas 11-F,


Ansa menyandarkan punggungnya di kursi, sembari mengatur nafasnya. Juga mengatur perasaannya.


Tatapannya terasa hampa. Padahal pernikahan mereka belum ada seminggu, tapi semua kebenaran telah terbuka bak tirai yang tersibak dan cahaya mentari masuk untuk menyinari.


Apa aku terlalu bahagia ya? Fobia Ansa kembali muncul. Perasaan tak dicintai, membuatnya bingung harus memilih untuk mempercayai Jaro atau ibu mertuanya.


"Sa ...."


"Iya, Mei?"


Ansa hanya mengangguk dan pandangannya melihat ke arah yang lain.


"Aku sudah siapkan kue kalian di kantin."


Saat istirahat, di kantin.


Berita pernikahan mereka semakin terbukti benar saat Ansa dan Jaro bertemu di kantin. Mereka berdiri di belakang kue tart, berhadapan dengan para pengunjung kantin.


Jaro menggenggam tangan istrinya. "Sudah dong marahnya ... sekarang senyum dulu yuk." Jaro memang sudah biasa untuk tersenyum, yang membuat dirinya menjadi Duta Mandraguna.


Sebaliknya, cara jalan di catwalk tak menuntut Ansa untuk terus tersenyum. Terlihat elegan dan misterius. "Ya," jawab Ansa. Nanti kita selesaikan di rumah!


Semua murid mengucapkan selamat dan mengabadikan momen si duta dan si model yang telah menikah di usia sangat muda, menggunakan kamera handphone masing-masing.


Berbagai pertanyaan bermunculan dan menimbulkan gosip-gosip jahat. Namun Ansa dan Jaro tak mempedulikannya. Setidaknya nama baik Ayah Hardi dan perusahaannya bisa selamat.


Teman-teman Jaro banyak yang bertanya karena penasaran, termasuk Wahyu. Seperti saat ini di kelas 11-A.

__ADS_1


"Lu apain si model itu, sampai dia mau menikah denganmu?" tanya salah satu temannya.


"Dia 'kan jago ngerayu, Bro! Jadi gampang aja dapat cewek model. Ya kan?" seloroh Wahyu.


"Dia mau menikah denganku, karena aku menerima kelemahannya ...," jelas Jaro.



Di sanggar,


Jaro sudah membolos ekskul sebanyak 3 hari, karena cintanya kepada istrinya. Seperti sore ini, ia menuju sanggar dan mencari keberadaan Ansa.


"Oh, Ansa tadi sekitar jam 12 siang bilang lewat pesan online, kalau hari ini dia izin ngga bisa hadir."


"Alasannya?" tanya Jaro sembari menempelkan handphone-nya ke telinga.


Ya! Dia mencoba menghubungi Ansa. Entah sudah berapa kali, dan tak ada jawaban.


"Ngga tahu. Bukankah kamu adalah suaminya? Harusnya kamu—" balas temannya Ansa.


"Ya sudah! Aku pamit, permisi." Jaro tak memperpanjang obrolan dan segera kembali ke dekat motornya.


Sa, tolong jangan bertingkah aneh lagi. Haduh ya ampun, aku menikahi wanita cerdas tapi membuatku tak waras!


"Hm ... kalau bukan sanggar, artinya dia ada di rumahnya?" gumamnya.



Di rumah Ansa,


Jaro bertanya kepada para pelayan mengenai keberadaan Ansa. Setelah mendapatkan jawabannya, dia segera berlari ke kamar.


Clakk!


Jaro masuk dan menutup pintu kamar, lalu mencari Ansa di dalam kamar tersebut. "Ansa ... Ansaa."


Suara kran air mengalir terdengar olehnya. Lalu di saat bersamaan, tiba-tiba saja handphone-nya berdering.


Jaro mengangkat panggilan dari kakaknya, sembari membuka pintu kamar mandi. "Halo?" tanyanya dengan mata terbelalak.

__ADS_1


***


__ADS_2