Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Bab 22 Pisau Bermata Dua


__ADS_3

..."Teknologi yang mutakhir dan diklaim sangat baik,...


...Pasti memiliki sisi yang merusak."...


Esok hari, di sekolah.


Jaro menggebrak bangku di belakangnya. Lututnya naik ke kursi, bahkan kepalanya maju ke arah teman di belakangnya.


Bukan teman, tapi rivalnya bernama Ansa.


Jaro menunjukkan wajah emosinya kepada Ansa. "Aku ingin membahas masalah kita lagi."


"Ma-maksudnya?" tanya Ansa.


"Nanti malam, aku akan datang ke rumahmu. Bersama pacarmu ...." Lirihan suara Jaro disertai tatapan tajamnya.


Glek!


Ansa membalas dengan memanyunkan mulutnya. "Untuk apa?" selidik Ansa.


"Aku dan pacarmu ingin mengecek Orbifly di rumahmu." Jaro mengubah posisinya menjadi duduk. Namun wajahnya tetap mengarah ke Ansa.


"Hei. Kalian mau bukti apalagi sih? Sudah jelas-jelas ayah kalian salah, pengadilan juga sudah memasukkannya ke sangkar. Supaya ngga berulah lagi!"


"Hah. Terserah kami lah. Kamu boleh terus saja menyalahkan ayahku. Tapi jangan halangi kami untuk mencari bukti yang lainnya. Siapa tahu, justru ayahmu yang mendorong ibumu," balas Jaro.


"Ro, kamu ingin menyusul ayahmu?" Emosi Ansa mulai memuncak.


"Boleh. Tapi sebelum itu, aku harus menghabisi seseorang, 'kan?" Jaro mendekatkan wajahnya. "Dan orang itu adalah kamu!" bisiknya.


Ansa membuang mukanya dari Jaro. Dia kembali cemas dengan perkataan rivalnya. Jaro sudah tahu fobiaku, dan sepertinya saat ini ia menyerang dengan kata-kata menusuknya untuk menjatuhkan aku. Huf.


Pulang sekolah,


Ansa telah menceritakan ancaman dari Jaro kepada Mei. Membuat Mei juga merasa heran dan khawatir.


"Sa, kayaknya kamu tolak aja deh. Mereka datangnya malam loh, aku jadi cemas," pinta Mei.


"Kamu tahu Jaro, 'kan? Dia ngga akan mau mendengarkan aku, Mei."


Mei terdiam, mencoba memikirkan cara untuk tak membiarkan temannya diganggu lagi oleh Jaro.

__ADS_1


"Hm ... aku ngga tahu, Sa. Tapi tapi, kak Deniz juga ikut ya? Semoga aja dia bisa mencegah tingkah adiknya."


"Semoga, Mei."



Malam hari, di rumah Ansa.


Ansa dan para pelayannya menyambut kedatangan Deniz dan Jaro. Di atas meja, telah tersedia tiga gelas teh ditemani toples-toples yang berisi kue.


"Jadi apa yang mau kalian cari di sini?" Ansa membuka obrolan.


"Kami ingin ke kamar orang tuamu dan Orbifly," balas Jaro.


"Kami janji, ngga akan ada barang yang hilang. Karena kami cuma mencari bukti di sini," sambung Deniz.


Ansa mengangguk, lalu mengajak dua tamunya menuju bagian dalam rumahnya. Mulai dari ruang santai keluarga yang dilengkapi sofa dan televisi, berbelok ke arah tangga dan mereka menaikinya.


Selama berjalan, Jaro semakin terpana dengan rumah ini. Walaupun dirinya pernah kemari, tapi ini pertama kalinya Jaro memasuki bagian dalam rumahnya Ansa.


Dia sendirian di sini, tanpa ibunya. Meskipun jumlah pelayannya cukup banyak, tapi rumah ini tetap terasa sepi, pikir Jaro.


Sampai di depan salah satu kamar,


"Ini kamar orang tuaku. Di balkon sana, pelaku mendorong mamaku. Ayo, silakan dicari bukti-bukti atau apapun itu." Ansa melangkah menuju balkon dan membuka pintunya.


Jaro dan Deniz mencari-cari bak detektif. Mata, otak, dan seluruh panca indra dikerahkan untuk memahami kondisi kamar ini.


"Sa," panggil Deniz. Ansa menoleh ke arahnya. "Kok barang di kamar ini ngga rapi, kayak sudah ngga ditempati?" tanyanya.


"Iya, Mas. Papa pindah kamar sejak mama pergi. Kamar ini memang sengaja dikosongkan. Supaya polisi mudah mencari bukti, sama seperti yang kalian lakukan sekarang," tutur Ansa.


Jaro keluar dan berdiri tegak di balkon. Dia membayangkan jika dirinya jatuh dari balkon. Oh, tinggi sekali.


"Mas, Sa! Sini bentar deh!" ajaknya. Lalu Jaro mengajak mereka mendekat ke pagar balkon.


"Sa, ibumu didorong dari lantai ini. Saat itu, kamu di mana?" tanya Jaro.


Anak ini kesambet apa? Tumben peduli, pikir Ansa.


"Bukankah Ansa sedang di ruang tamu ya?" balas Deniz.

__ADS_1


Ansa mulai bercerita sejenak tentang masa lalunya. Masa di mana dirinya melihat langsung ibunya yang terjatuh, dan mendarat di halaman depan. Hingga diakhiri dengan suara parau Ansa.


Tentu saja, Deniz merangkul dan mengusap-usap adik keduanya tersebut. Mendengar cerita pilu Ansa, dia juga ikut bersedih. Tak mengenal gender, hanya mengenal bahwa mereka adalah manusia yang memiliki hati.


Jaro telah meninggalkan mereka berdua saat Ansa masih asyik bercerita. Dirinya lebih memilih untuk melanjutkan penelusuran di dalam kamar.


Semoga foto yang di dapat bisa jelas dan bagus. Biar besok, satu Kota Metropolitan ini menjadi gempar oleh gosip kalian berdua. Hahaha! Hati Jaro berbunga-bunga.


Tiba-tiba, suara gemerusuk memasuki telinga Jaro. Kamar yang remang-remang tersebut kini berubah menjadi agak menakutkan. Namun Jaro tak gentar, dia menuju asal suara tersebut. Yaitu dari dekat lemari.


Lengan Jaro meraih gagang pintu lemari. Lalu suara gerakan kembali muncul di belakangnya. Alhasil dia mengurungkan niat untuk membuka lemari tersebut. Dia membalikkan badan dan menatap tajam ke arah kasur besar.


Kamar ini sangat besar. Tapi kalau ditinggal seperti ini, rasanya jadi sempit dan menakutkan. Cemas mulai menyelimuti pikiran Jaro.


Langkah Jaro pelan-pelan menuju kasur. Di situ ia melihat seprei yang acak-acakan dengan sedikit noda merah. Mungkin sebelum di dorong, pelaku memukul korban dengan benda-benda di kamar ini ya?


Tiba-tiba kakinya gatal, membuat Jaro jongkok di samping kasur dan menggaruk kakinya. Banyak nyamuk!!


Selain nyamuk, Jaro menemukan satu bukti yang tak pernah ia duga. Dia mengulurkan tangan kanan ke dalam kolong ranjang untuk meraih bukti tersebut.


"Ro." Suara Deniz menggema. Jaro cepat-cepat menarik tangannya, lalu berdiri.


"Ada apa?" tanya Deniz. Dia maupun Ansa menatap Jaro penuh tanda tanya.


"Ah, itu, aku, kakiku gatal dan aku jongkok untuk menepuk nyamuknya." Jaro memaksakan senyumnya, dan diam-diam memasukkan kedua tangan ke dalam kantong jaket.


"Ayo, sekarang kita ke Orbifly!" ajak Ansa.


Sebelum itu, Jaro menanyakan seberapa dekat Ansa dengan ibunya. Hingga Jaro mengetes Ansa untuk menyebutkan apa saja yang disukai oleh ibunya.


"Mamaku memang suka barang bermerek, kadang sih karena memang ada yang dikasih dari iklan gitu. Ini, ini semua adalah barang-barang mamaku. Bahkan aku sering dikasih yang ini. Ini. Ini," jelas Ansa.


Jaro mengangguk-anggukkan kepalanya, sembari menatap satu persatu nama merek barang tersebut.


"Sa, mamamu pernah ke luar negeri, 'kan?"


"Iya. Tapi seingatku cuma sekali."


"Ini barang-barang ibumu, benar hanya segitu? Atau ada yang dia sembunyikan?" cecar Jaro.


"Kamu kenapa jadi sok peduli gini sih? Aku sudah bilang, ini semua barang mamaku!!" bentak Ansa.

__ADS_1


Perdebatan berhenti saat Ansa langsung melangkah keluar dari kamar. Dia memanyunkan bibirnya sembari bergerak menuju lantai teratas.



__ADS_2