
...“Mata telah tertutupi oleh kebencian....
...Otak telah tertutupi oleh keinginan balas dendam....
...Mulut, tangan, dan kaki bersiap untuk menyerang!”...
Hari Senin, di sekolah.
Ansa melangkahkan kakinya melewati halaman sekolah sembari menunjukkan wajah datarnya. Dia memang merasa bahwa di sekelilingnya memasang mata yang menatap tajam ke arahnya, disertai mulut yang berbisik tentang gosip tak penting.
Di depan kelas, Ansa menghembuskan nafasnya. Rasa tak nyaman mulai menyelimutinya, karena musuhnya semakin bertambah di sekolah ini. Tapi kenapa harus Jaro? Pantas sih, kalau dirinya ingin aku keluar dari sekolah ini, batinnya.
Lalu Ansa kembali melangkah melewati pintu dengan santai.
Bukk!
Ansa merasa ada seseorang yang menjegal langkah kakinya. Dia jatuh tersungkur bersama tas yang digendongnya. Tawa teman satu kelasnya tentunya menggema saat melihat Ansa terjatuh.
Kurang aj*r!! Pasti ini kerjaannya si bocah itu!
Ansa berusaha bangkit dengan mendorong tubuhnya menggunakan kedua telapak tangannya ke atas lantai. Dia memilih untuk duduk di lantai, membersihkan debu yang menempel di seragamnya.
Lalu Ansa menoleh ke belakang, menangkap sosok Sari yang tersenyum mengejek. Dia merapatkan gigi-giginya dan mengerutkan dahi, karena berusaha menahan amarahnya.
"Hei!" seru seseorang dari dekat Ansa. Membuat Ansa memusatkan pandangannya ke arah suara tersebut.
Benar kan? Si bocah ini minta bantuan Sari dan gengnya! Argh! ujar Ansa dalam hati.
Orang tersebut adalah Jaro yang berdiri tegak di depan Ansa. Seakan Ansa sedang berlutut di hadapannya.
"Kamu masih di sini? Aku kira kamu sudah di dalam tanah, bersebelahan dengan i-bu-mu!" ucap Jaro dengan lembut tapi menusuk.
__ADS_1
Ansa telah bangkit dan berdiri tegak. Namun dia bungkam, masih bingung harus menjawab apa dan diiringi rasa malu.
"Sari. Terima kasih ya! Dia pasti sangat terkejut hingga jatuh seperti tadi. Coba lihat sekarang! Dia masih menatapku karena terkejut, hahaha!" olok Jaro.
"Heh! Apa tamparan ku yang kemarin masih kurang?!!" balas Ansa.
"Apa? Kemarin kamu menampar Jaro? Akan ku balas sekarang!!" Sari berteriak disertai dengan tangan kanannya yang terangkat.
Ansa hanya memejamkan matanya, dia tak bergerak menghindar. Sedetik kemudian, dia tidak merasa ada tangan yang melayang ke pipinya. Sehingga dia membuka kedua netranya.
Jaro tak diam melihat tingkah Sari yang membelanya. Menurutnya, tingkah Sari telah kembali kelewat batas. Tangannya menahan tangan Sari yang ingin melayang ke pipi Ansa.
"Jangan, Sari. Lebih baik sekarang kamu kembali ke kelas mu. Dia sudah mencium lantai, itu sudah cukup. Oh salah! Nanti masih ada lagi kok, supaya dia semakin betah di sini," jelasnya.
Sari menuruti perintah Jaro. Dia melangkah keluar dari sana dan kembali ke kelasnya. Jaro terus tersenyum hingga sosok Sari telah pergi.
Tak lama, muncullah Mei dari balik pintu. Dia menunjukkan ekspresi kaget karena teman sekelasnya berkumpul seakan menyambutnya. "Ada apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu?"
"Mei! Bentar lagi kita akan merasa senang, karena ngga ada lagi perusuh di kelas ini!" ucap Jaro.
"Dia mulai mengajakmu perang ya?" bisik Mei.
Ansa hanya menganggukkan kepala. Ngga apa. Aku memang ngga pantas bahagia. Aku akan terus sedih setiap hari, batinnya yang dipengaruhi fobia bahagianya.
Di kantin,
Jaro berkumpul bersama teman-temannya di kantin. Terlihat wajahnya yang terus membuka mulut dan tertawa nyaring.
Untunglah mereka mengerti keadaanku. Mereka justru membahas guru aneh dan memiliki jurus menghilang di setiap kelas, ucap Jaro dalam hati.
__ADS_1
Pengantar makanan pun telah datang menuju mereka. Beliau memberikan makanan tersebut sesuai dengan pemesannya. Setelah itu, beliau pergi dari hadapan mereka semua.
Saat menikmati makan siang, Jaro merasa ada yang hilang. Kok aneh ya? pikirnya. Dia celingak-celinguk, menatap satu persatu teman-temannya.
"Apa?" tanya Wahyu.
"Minuman gua ke mana ya? Atau memang belum diantar ya?" cecar Jaro.
"Di sini minuman Anda, Pangeran Jaro." Tiba-tiba Ansa muncul dari arah depannya. "Walaupun Raja penguasa sekolah ini sedang di dalam penjara, tapi tetap harus melayani pangeran, 'kan?" ucapnya.
Jaro menatap penuh curiga kepada Ansa. Senyuman Ansa yang manis itu, tak terlihat manis. Justru terlihat seperti sedang mengolok Jaro.
"Pelan-pelan makannya, Ro. Takut tersedak. Coba dirasakan dan dinikmati makan siangnya." Perkataannya disertai dengan kedipan sebelah mata, seakan sedang menggoda Jaro.
Dia kenapa? Dasar anak wanita penggoda! pikirnya sembari menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulut.
Tak lama, Jaro merasa ada yang bergerak di mulutnya. "Eumh eumh!!! umhh!!" pekiknya sembari menggerak-gerakkan tangannya. Dia memberi isyarat supaya teman-temannya memberikan kantong plastik.
"Ini ini ini!" seru teman-temannya yang panik.
Jaro memuntahkan makanan yang berada di dalam mulutnya. Lalu dia melihat benda apa yang bergerak-gerak tadi.
Tadi bukanlah benda. Tapi makhluk hidup yang menggelikan. Kalau masuk ke makanan, justru semakin menjijikkan!
"Woi!! Bangsa*!!" Emosi Jaro sudah di ubun-ubun. Ini pertama kalinya dia hampir menelan seekor cicak!
"Akan aku habisi dia sekarang juga! Argh!" pekik Jaro.
Wahyu dan teman yang lainnya segera menenangkan Jaro. Kemudian salah satu temannya memanggil penjual makanan yang menjualkan makanannya kepada Jaro.
"Ma-maaf Nak. Tadi memang ada dua temanmu yang membelikan makan siang untuk Nak Jaro. Ta-tapi, pesanan Nak Jaro masih ada kok. Bentar, saya ambilkan ya!" Penjual tersebut segera kembali ke lapaknya, dengan wajah panik.
__ADS_1
Oh gitu, Sa. Berarti besok, aku punya kejutan lagi untukmu. Karena kamu ngga menyerah dan ngga mau keluar dari sekolah ini! batin Jaro dengan mengepalkan tangannya.