
Sore hari,
Ansa memutuskan untuk menginap di rumah pemilik sanggar atau bisa disebut rumah Bibi Ning. Saat ini dirinya tengah duduk di ruang tamu, bersama Ranu. Dia tak mengizinkan Ranu untuk cepat-cepat pulang.
"Mas. Atau kita ke vila saja sekarang?" tanya Ansa.
"Hm ... jangan sekarang, Sa. Aku masih ada urusan," jawab Ranu.
"Urusan apa?" selidik Ansa sembari menyipitkan matanya.
"Sebentar lagi aku akan melamar pekerjaan di perusahaan Techsophistic Farm, Sa. Semoga aku bisa diterima, hehe."
"Aamiin. Semoga diterima. Eh, pasti diterima dong! Di sana kan ada papa dan om Widagda!" balas Ansa.
"Ngga gitu, Sa. Tetap harus ada usaha untuk meraihnya. Seperti aku yang berusaha meraih cintamu." Ranu mengecup pipi gembil milik Ansa.
Ansa menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Haduh malu!! Sudah lama ngga dicium, haha!
Di sisi lain, pikiran Jaro semakin riuh. Bahkan dia ingin keluar dari sanggar ini. Sehingga dia menarik Tris untuk mengobrol sebentar.
"Tris. Aku ingin keluar dari sini," ujar Jaro.
"Kamu masih waras, 'kan? Ro! Di sini kamu jadi vokalis loh!" protes Tris.
"Oh iya," lirih Jaro.
"Ada apa, Ro? Cerita aja," pinta Tris.
"Aku pernah bertemu dengan bunga cantik, tapi aku ngga suka baunya. Terus, ternyata ada orang yang mengambil bunga itu. Orang itu tak menghiraukan bau dari bunga, dan sangat menyayangi bunga itu." Jaro berhenti sejenak.
Lalu dirinya kembali menjelaskan. "Sekarang aku ingin bunga itu, tapi apakah aku boleh mengambilnya dari orang itu?"
"Itu bunga atau wanita?" tanya Tris.
Deg!
Keringat mulai bercucuran dari dahi Jaro, karena Tris berhasil menebak pikirannya.
"Haha, bercanda Ro!" Tris tersenyum ke arahnya.
__ADS_1
"Bunga yang kamu ceritakan itu punya bau tak sedap. Pantas jika kamu tak menyukainya, walaupun bunga itu terlihat cantik. Mungkin orang lain ada yang menyukainya dan ada yang menjauhinya," jawab Tris.
"Orang yang memilih untuk menyukainya tanpa peduli dengan baunya, mungkin tahu kelebihan dari bunga itu. Mangkanya dia merawat dan memanfaatkan bunga itu," lanjutnya.
"By the way ... Kenapa jadi ke bunga-bunga sih? Alasanmu ingin keluar karena di sini ada bunga yang bau? Eh, apaan sih?" Tris menggaruk kepalanya karena mulai bingung.
Jaro menatap lantai sembari melebarkan matanya. Hubungan cinta pasti saling memanfaatkan. Dan ... mereka benar-benar saling mencintai, 'kan?
"Oke. Aku ngga jadi keluar dari sini deh!" ujar Jaro.
Masih di ruang tamu,
Ranu menyandarkan kepalanya di pangkuan Ansa. Dia melihat ke atas, ke arah wajah Ansa yang membalas senyumannya.
"Eh, Ansa. Waktu aku kuliah, di sana ada yang sekilas mirip sepertimu. Aku kaget dong! Mungkin karena rasa rindu ke kamu ya?" ucap Ranu.
Ansa mengelus rambut Ranu, bahkan mengacaknya. "Bisa jadi. Memang kita jarang berkabar, Mas! Huh!"
"Aku menghargai kesibukanmu, Sa. Saat kemarin aku baru sampai di sini, wajahmu terpampang di televisi, iklan ... wah, banyak deh."
Ansa tak membalas perkataan Ranu. Pikirannya sedang melayang kepada sosok ibunya yang membuat dirinya terkenal menjadi model.
"Hm?" lamunan Ansa buyar.
"Maafkan aku. Waktu tante Roro tiada, aku ngga bisa di sampingmu," kata Ranu.
Ansa memejamkan kedua matanya. Menurutnya, kenangan saat ibu terjatuh adalah kenangan yang paling menyakitkan di perjalanan hidupnya.
Ranu bangkit dari posisi tidurnya, dan segera merangkul Ansa. "Maaf, maaf. Aku ngga tahu kalau itu membuatmu sedih Sa."
Ansa mendekap erat Ranu dan menenggelamkan wajahnya. "Ta-kut," bisiknya.
Lagi-lagi Jaro melihat itu semua dari balik jendela ruang tamu. Dirinya sedang berdiri tegak di dekat pintu rumah, dengan tatapan nanar.
Aku akan mengingatmu sebagai pelaku yang memasukkan ayahku ke penjara tanpa bukti! Aku akan tetap membalaskan dendam ku, Sa!!
Malam hari, di kamar Jaro.
__ADS_1
Deniz menghampiri Jaro yang sedang larut menatap bintang-bintang di langit malam. Dia menutup pintu, dan mulai membahas hal yang cukup penting.
"Ro. Bentar lagi sepertinya aku akan menemukan informasi tentang Orbifly di rumah Ansa. Karena aku sudah diterima magang di perusahaan Orbitech selama tiga bulan."
"Selama tiga bulan itu, aku akan meretas informasi Orbifly Ansa 3 tahun yang lalu," jelas Deniz.
"Kenapa ngga langsung kasih cincin itu saja ke polisi, Mas? Aku sudah capek memikirkan ini semua!" protes Jaro.
"Ngga, Ro. Bisa jadi ibu malah beralasan kalau cincinnya telah diambil oleh ayah, lalu diberikan kepada ibunya Ansa."
Jaro mengangguk, pasrah dengan pilihan kakaknya. "Iya. Terserah Mas saja."
Deniz melangkahkan kaki menuju pintu kamar. Namun suara panggilan Jaro terdengar olehnya. "Mas! Mau tanya dong!"
"Apa?"
"Mas Deniz pernah jatuh cinta atau ngga?"
"Pernah," jawab Deniz dengan segera.
"Kepada siapa?"
"Ada deh. Tapi sekarang aku lagi ngga memikirkan itu, Ro. Ada hal yang lebih penting dari cinta, yaitu komitmen dan tanggung jawab."
"Maksudnya?" Jaro benar-benar bingung. "Tanggung jawab seperti sekolah, mencari nafkah—"
"Lebih dari itu. Sekarang aku masih fokus ke perasaan cintaku kepada keluarga kita ini." Deniz tersenyum.
"Cinta kepada keluarga masih sering dilupakan oleh kebanyakan orang. Mereka lebih fokus ke cinta terhadap lawan jenis, yang bahkan baru dikenal. Padahal keluarga sendiri sudah mengenal pribadi mereka sejak kecil."
"Tapi kalau keluarganya retak kayak kita, mereka pasti bakal cari cinta dan perhatian dari orang lain, ya 'kan?" tanya Jaro.
"Iya," lirih Deniz.
"Terus cinta siapa yang seharusnya kita cari? Cinta ke manusia cuma bikin bahagia dan sedih sesaat."
"Cinta kepada Sang Pencipta."
__ADS_1