Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Adu Otak_2


__ADS_3

Esok pagi, di sanggar.


Jaro mendapat kabar dari Sari bahwa gosip Ansa dan Deniz terpaksa dihapus dari peredaran. Semua itu karena pihak sekolah yang meminta, atas keluhan dari perusahaan modelling.


Ansa juga mendapat nasihat dari asistennya, Ria. Dia mengatakan bahwa Ansa harus lebih hati-hati jika ingin berpacaran dengan Deniz. Karena kehidupan asmara Ansa berkaitan dengan popularitasnya sebagai model.


"Aku ngga berpacaran dengan anak pemilik sekolah itu, Mbak! Pacarku sedang sekolah di luar negeri," ketiknya melalui aplikasi chatting.


"Iya, Sa. Berarti semua itu cuma gosip ya. Kami dari pihak perusahaan modelling sudah meminta sekolahmu untuk menghapus gosip-gosip itu," balas Ria.


Syukurlah sudah bisa teratasi, batin Ansa. Kini di atas lantai pelataran, gerakan tariannya lebih luwes dengan pikirannya yang jernih.


Di sisi lain, Jaro memetik senar-senar gitarnya dengan pikiran yang semrawut. Usahanya gagal seiring dihapusnya gosip-gosip oleh pihak yang resmi. Pihak ilegal seperti dirinya dan geng Sari hanya bisa pasrah.


Nada-nada sumbang mulai memuakkan telinga. Termasuk telinga Tris. "Woi! Rusak!" oloknya.


Tangan Jaro berhenti, tapi kedua netranya menatap datar ke arah Tris. "Tris, aku ingin gabung dalam band!"


"Eh? Oke mantap!! Nanti nyanyi juga ya! Kalau aku sih, main piano elektro aja!" ucap Tris sembari mengangkat kedua jempol tangannya.


Perhatian Tris beralih ke kakak pembimbingnya. Mereka asyik mengobrol, membuat Jaro diam-diam memasukkan tangan kirinya ke dalam saku jaket.


Oh ya! Tentang ini, bisik Jaro sembari mengeluarkan cincin di sakunya.


Nanti aku akan ke toko perhiasan saja untuk menanyakan cincin ini. Jaro cepat-cepat memasukkan kembali cincin yang merupakan temuannya di kolong ranjang milik orang tua Ansa.


Dia menghela nafasnya. Aku pernah melihat cincin ini. Rasanya bentuk dan warnanya ngga asing untukku. Apakah memang benar ini punya bu Roro? Tapi kenapa Ansa ngga sadar kalau cincin ibunya telah aku ambil?


"Akhirnya ikut serta juga ya ... bagus bagus!" ujar Nick.


"Ya, aku ingin membawakan lagu untuk menyindir seseorang," jawab Jaro.


Sejenak, pikiran Jaro kembali ke kejadian saat dirinya melepaskan cincin Ansa yang menyangkut di handuknya. Dia masih ingat, dan menyimpulkan bahwa cincin yang bersamanya saat ini bukanlah milik Ansa.


Jaro memutuskan untuk melupakan sejenak masalah kepemilikan cincin tersebut. Dia lebih tertarik untuk melancarkan rencana selanjutnya.


Pukul empat sore, seusai latihan.


Suasana sanggar masih ramai, mungkin karena hari esok adalah minggu. Dan malam ini adalah malam minggu!

__ADS_1


Namun di antara orang-orang yang duduk santai di pelataran, dirinya tak menemukan sosok Ansa. Alhasil Jaro segera bertanya kepada Bibi Ning.


Setelah mendapatkan jawab dari Bibi Ning, Jaro berlari masuk ke rumah beliau. Dia segera menaiki tangga dan membuka salah satu kamar.


Jaro memasuki kamar tersebut. Kamar dengan nuansa sederhana dan penuh ukiran, ditambah tembok cream-brown berhiaskan lukisan dari daun kering. Di sana, dia menemukan sosok perempuan yang tengah berdiri di balkon.


"Sa."


Ansa membalikkan badannya. "Apa?"


Jaro melangkah ke arah Ansa, sembari bertepuk tangan. "Ternyata si angsa sedang mengurung diri di kamar. Padahal kamu baru saja mengalahkan ku dengan berhasil menghapus gosip mu bersama pacar barumu. Memangnya ada apa sih?"


Kini Jaro berdiri dan menyandar di pintu balkon. Kedua lengannya disilangkan di depan dada. Sedangkan Ansa masih menempel di pagar balkon sembari menatap lekat wajah Jaro.


"Akhirnya kamu sadar kalau aku memang pantas masuk dan bertahan di sekolahmu. Bagus deh. Sekarang kamu ngga perlu lagi sibuk memikirkan cara untuk mengeluarkan aku dari sekolah," ujar Ansa.


"Di sini, kamu berusaha menenangkan fobia mu ya?" Jaro menyeringai.


"Kamu ngga perlu peduli dengan keadaanku."


"Oke," lirih Jaro.


Lalu Jaro kembali bersuara, "Sebenarnya aku ngga akan berhenti sampai kamu sukarela keluar dari sekolah ...."


"Tapi tenang ... aku cuma ingin mengajakmu taruhan di olimpiade. Kalau aku mendapat juara di atas mu, maka kamu harus sukarela keluar dari sekolah ini. Kalau yang terjadi malah sebaliknya, kamu boleh memerintah aku sesuka mu, Sa."


Ansa memunggungi Jaro, dan kembali melihat pemandangan rumah penduduk. Dirinya sedang berpikir sembari mengatur nafasnya.


"Gimana? Kamu takut ya?" Pipi Jaro menonjol sebelah sembari tersenyum mengejek.


"Ngga. Aku hanya sedang memikirkan apa yang harus aku pinta saat nanti kamu kalah dan mau menuruti ku." Ansa tetap menatap pemandangan di depannya.


"Oke. Berarti olimpiade tahun ini, kita mulai taruhannya. Gimana?" tanya Jaro.


"Ro." Kini Ansa membalikkan badannya dan melihat ke arah rivalnya. "Kenapa akhirnya kamu memilih untuk menantang ku menggunakan otak? Kenapa bukan fisik lagi?"


"Kamu ngga perlu peduli dengan isi pikiranku."


Jaro langsung meninggalkannya setelah menjawab dengan perkataan yang mirip seperti Ansa. Membuat Ansa merasa tersindir.

__ADS_1



Beberapa hari kemudian,


Mereka memulai taruhan dengan giat belajar. Setelah melalui tahapan seleksi, akhirnya Ansa, Jaro dan 8 teman lainnya akan mengikuti persiapan lomba yang dibimbing langsung oleh guru mereka tiap seminggu sekali, tepatnya Senin sore.


Hubungan Jaro dan Deniz mulai membaik, setelah Jaro mengakui tentang sebuah cincin yang ia temukan di rumah Ansa. Deniz segera membawa cincin tersebut ke toko perhiasan langganan keluarga mereka untuk mencari asal-usul pemilik cincinnya.


Saat Jaro telah sampai di rumah, dia dikejutkan oleh kedatangan salah satu temannya Deniz. Dia mengangguk dan tersenyum.


"Jaro." temannya Deniz tersebut membalas senyuman Jaro.


"Aku ganti baju dulu ya, Kak. Permisi," ucap Jaro.


Beberapa menit kemudian,


Mereka bertiga telah berkumpul, untuk membahas tentang cincin tersebut.


"Ini temanku yang orang tuanya punya toko perhiasan, haha! Dulu kita ketemu pas masih kecil, masih belum kenal. Dia baru masuk sekolah Mandraguna saat SMA," jelas Deniz.


"Terus Mas, gimana hasilnya?" tanya Jaro. Dia tak ingin berlama-lama menunggu penjelasan dari kakaknya.


"Cincin yang dihiasi diamond mahal dan cincin ini limited edition. Menurutmu, apakah ini milik ibunya Ansa?" ujar Deniz.


Jaro menggeleng. "Ngga tahu."


"Bukan, Ro. Cincin ini berasal dari luar negeri. Dan di berita online, telah ada foto pemiliknya yang menggunakan cincin ini," ucap Deniz dengan tatapan sendu.


Deniz memberikan handphone-nya dan memperlihatkan berita tersebut kepada Jaro. Lalu dirinya membiarkan adiknya menatap layar handphone-nya.


"Bro! Thanks ya. Mungkin setelah ini, gua akan mencoba meretas informasi Orbifly." Deniz melihat ke arah temannya.


"Hati-hati, Niz. Keamanan siber semakin diperketat saat munculnya kasus yang menimpa Roro Kinanti akibat dari pelaku yang memanfaatkan Orbifly," tutur temannya.


"Iya. Gua sebenarnya ngga berani. Tapi gua butuh bukti yang sangat kuat. Gua ngga mau gegabah seperti peng-ngga-adilan itu!" balas Deniz.


Jaro hanya bungkam. Bingung menyelimutinya, dan satu kebenaran kembali terbongkar untuk meruntuhkan kebohongan.


"Mas. Kapan kita melaporkan hal ini?" tanya Jaro.

__ADS_1


"Jangan sekarang. Ini sulit, Ro. Pilihan yang sulit," jawab Deniz.



__ADS_2