
...“Kamu kembali berulah untuk menjatuhkan diriku....
...Membuatku terpaksa pura-pura kuat berdiri menghadapi mu.”...
Minggu depan, Hari Senin.
Inilah saat-saat yang ditunggu oleh para siswa cerdas di seluruh kota Metropolitan! Hari ini diadakan Olimpiade Sains Mandraguna ditemani langit biru yang cerah. Secerah otak-otak mereka yang akan berusaha merebut juara di olimpiade ini!
Para peserta olimpiade berasal dari perwakilan sekolah-sekolah di kota Metropolitan. Mereka memperebutkan gelar juara untuk membanggakan sekolah masing-masing.
Bagi Jaro dan Ansa, inilah tempat untuk ajang taruhan mereka. Sangat tak waras, tapi ini membuat mereka untuk terus belajar dan belajar.
Dari pukul tujuh hingga pukul sembilan pagi, para peserta mengerjakan soal-soal yang diberikan. Disaat inilah, Jaro melancarkan aksinya.
Selamat tinggal, Ansa-yang.
Setelah berkutat dengan soal-soal olimpiade, semua peserta dikumpulkan dalam satu aula untuk diberikan wejangan tentang semangat belajar di zaman teknologi yang semakin maju.
"Kutipan dari Albert Einstein. Berusahalah untuk tidak menjadi orang yang sukses. Tetapi cobalah untuk menjadi orang yang bernilai."
"Kutipan dari Ali bin Abi Thalib. Balas dendam terbaik adalah menjadikan dirimu lebih baik."
Dua hari kemudian, Hari Rabu.
Hari pengumuman juara olimpiade telah tiba. Lagi-lagi Ansa dan Jaro beserta peserta yang lainnya dikumpulkan di aula.
__ADS_1
Di sana, kepala sekolah Mandraguna memberi sambutan. Hingga Jaro sejenak terlelap di bahu Wahyu.
"Heh! Bangun woi!" bisik Wahyu. Dirinya mendorong kepala Jaro.
"Gua ngantuk, Yu. Bentar ya." Jaro kembali bersandar di bahu temannya yang berbadan sintal tersebut. Dia merasa bersandar bak di bantal empuk.
Di sisi lain, Ansa mendengarkan ocehan kepala sekolah sembari tangannya bergerak di atas layar handphone. Tiba-tiba terdengar namanya disebut oleh kepala sekolah.
Di layar proyektor berukuran sekitar 1 hingga 2 meter, terpampang jelas secarik kertas kusut bertuliskan rumus-rumus serta sedikit huruf.
"Ini ditemukan di bawah bangku nomor urut 37, atas nama Najiha Hansaria."
Kepala sekolah berhenti bicara sebentar di antara ramainya peserta yang berbisik-bisik. Sedangkan Jaro menampakkan wajah sumringah. Akhirnya ....
"Awalnya kami sangat menyayangkan hal ini. Najiha yang sudah menyabet juara 3 besar selama 3 tahun terakhir ini, ternyata menggunakan cara licik," lanjut beliau.
Sebelumnya, Hari Sabtu.
Jaro menghubungi Mei untuk meminta foto catatan rumus milik Mei. Namun pintanya ditolak karena Mei juga menyalin catatan milik Ansa.
"Oh bagus! Cepat mintalah ke dia. Terus langsung kirim ke aku ya?"
"Oke, bentar ya!" balas Mei.
Tentu saja Ansa mau memfoto dan membaginya, membuat rencana Jaro berjalan mulus.
Kepala sekolah kembali bersuara. "Tapi, kami merasa curiga. Karena selama bertahun-tahun, para siswa Mandraguna selalu diseleksi menggunakan soal-soal dengan tingkat kesulitan yang mirip seperti olimpiade. Sehingga kami segera mengecek CCTV."
__ADS_1
Ansa menunduk, tak peduli lagi dengan ucapan kepala sekolah. Ternyata rasanya difitnah seperti ini ya. Aku ngga salah, tapi pandangan dan pemikiran mereka terhadapku seakan membunuhku.
"Di CCTV terlihat jelas seorang murid yang melempar kertas itu ke bangku Najiha. Bahkan tulisan di kertas itu telah ia jiplak seakan ini tulisan tangan Najiha."
Tubuh Jaro bergetar. Kedua netranya melotot ke arah kepala sekolah. Dia baru sadar bahwa ada CCTV yang merekam aksinya dua hari yang lalu.
"Akhirnya ... kami memutuskan bahwa Najiha tak melakukan kecurangan. Najiha murni sportif dalam mengikuti olimpiade," ujar kepala sekolah.
"Dan juga, kami resmi mendiskualifikasi dan segera memberikan hukuman kepada peserta yang telah berusaha menjatuhkan nama baik Najiha."
"Maaf, saya tidak akan menyebutkan namanya di sini. Namun kalian semua akan tahu siapa pelakunya. Karena kami dari pihak sekolah hanya ingin memberi pelajaran kepada semuanya untuk tak bertindak buruk dan memilih selalu bersaing secara sportif."
Setelah itu, pengumuman juara olimpiade dari tingkat SD hingga SMA.
Ansa mendapat juara 2 tingkat SMA. Saat disuruh naik ke panggung, langkah kakinya terasa berat karena malu. Malu atas apa yang sebenarnya tak ia lakukan.
Di atas panggung, Ansa menyeka air matanya. Dia memaksakan senyumannya kepada seluruh orang di dalam aula.
Lalu Ansa mengangkat trofinya dan menampakkan gigi-giginya. Suasana di sana menjadi riuh karena semua orang bertepuk tangan untuknya.
Jaro tak mendapat juara 3, apakah berarti juara satunya adalah dia? batin Ansa.
"Di posisi pertama ... Selamat untuk nomor urut 15!!" ujar pembawa acara.
Oh bukan. Berarti dia ... didiskualifikasi? Kedua netra Ansa mencari keberadaan Jaro di antara ratusan peserta olimpiade. Tapi, gagal.
__ADS_1