
Yang penasaran dengan lagu-lagunya 😁
Yuk di follow gaes.
.
.
.
Beberapa detik kemudian, Jaro telah berada di lantai teratas. Suasana di sana lebih mengerikan. Kertas, komputer, dan alat-alat kantor lainnya berceceran di lantai.
Buat apa dia mengacaukan ini semua? Apa mungkin karena rencana menggunakan berita fitnah gagal, membuat dia dan ayahnya memilih untuk main fisik?! pikir Jaro.
Jaro melangkah perlahan menyusuri tiap lorong. Di mana ruangan papa?
Brakk!
"Cepat tanda tangan!!
Jaro mendengar suara pukulan dan bentakan. Asalnya dari ujung sana! Membuatnya berlari menuju asal suara tersebut.
Kali ini, emosinya kembali memuncak. Pintu ruangan tak dibuka perlahan, tapi didobrak.
"ARGH!!"
Kedua netranya menangkap empat sosok pria. Dengan satu pria yang duduk dan ditarik rambutnya ke belakang.
"HEHH!!" Jaro mengenalinya. Ya! Ayah mertuanya sedang di-bully untuk menyerahkan jabatannya kepada rivalnya.
Dua bodyguard rival ayah mertuanya menghadang Jaro. Tubuh bodyguard di depan Jaro kemungkinan memiliki kekuatan tiga anak buah Ranu yang seukuran dirinya.
"Kamu mau ke mana?" tanya salah satu bodyguard tersebut sembari menyeringai.
"Dia siapa, Di? Kenapa kamu meminta bantuan kepada anak muda itu?" tanya Pak Widagda.
__ADS_1
Namun ayah bungkam dan melotot ke arah Jaro. Sehingga rivalnya kembali menarik rambut ayah. "Siapa dia?! Menantumu?!"
"Iya! Dia yang akan membuatmu jera!!" jawab ayah.
Jaro merasa perutnya masih nyeri. Bagaimana cara menghadapi mereka? pikirnya.
"Dia takut, hahaha!"
Mereka bertiga tertawa mengejek Jaro dan Ayah Hardi.
"Itu yang akan membuatku jera? Bahkan dirinya belum mengalahkan kedua bodyguard ku!"
"Sudah sana pergi! Tunggulah di luar hingga ayah mertua mu itu keluar dari perusahaan ini!" titah salah satu bodyguard.
"Aku ngga akan keluar sebelum kalian melepaskan Papaku!!" pekik Jaro.
"Jaro!"
Untunglah Deniz membawa dua orang dan Dingga ke ruangan tersebut.
Jaro tak menoleh ke kakaknya, dan memilih untuk melayangkan pukulan ke kepala salah satu bodyguard yang menghalangi dirinya.
Seruannya membuat pasukan Deniz maju membantu. Selama beberapa menit mereka melawan dua bodyguard dan mengikat Pak Widagda.
Sejenak Jaro melihat ke arah ayah mertuanya yang telah diselamatkan oleh Deniz.
"Mas! Bawa Papa keluar dari sini!"
"Jaro, awas!!" pekik Dingga.
Inilah takdirnya. Jaro terhuyung ke lantai. Perutnya tak merasa nyeri lagi, tapi sakit dan perih yang menyatu. Salah satu bodyguard telah menghunjamkan belati tepat ke perut Jaro.
Dingga yang merupakan lulusan militer, segera membalas perbuatan orang tersebut dengan menangkap dan melintir tangan yang masih memegang belati.
Krakk!
"Cepat-cepat! Tali tangan orang ini!" titah Dingga.
__ADS_1
"Jaro, JARO!! Tahan ya, Ro." Deniz bersiap untuk mengangkat adiknya.
"Ayo sini bantuin aku!! Biarkan saja mereka di sini."
"I-iya, Niz! Habis ini biusnya bekerja kok!" jawab rekannya.
Pandangannya mulai meredup. Rasa sakitnya telah menjalar ke seluruh tubuhnya. Membuat Jaro terkulai lemas.
"Ma-Mas ... Sakit." Dirinya pasrah.
Tak apa, setidaknya aku telah membuat Ansa bisa memaafkan diriku dan membahagiakan dirinya, walau cuma sebentar.
Suara orang-orang di sekitarnya mulai menghilang. "Ayo semuanya! Cepat gendong Jaro!!" Hanya itu yang terakhir didengar oleh Jaro.
Kembali ke kelas,
Kedua netra Ansa berkaca-kaca. Ngga, ini pasti salah. Dirinya melihat kiriman foto dari Deniz. Foto tersebut memperlihatkan Jaro yang terbaring lemah dengan bercak merah di seragam putihnya.
Ansa mengetik balasan kepada Deniz. "Jaro kenapa, Mas? Dia baik-baik aja, 'kan?"
Namun beberapa detik kemudian, masih belum ada balasan. Membuat sekujur tubuhnya ikut bergetar. Takut jika suaminya akan meninggalkannya.
"Me-Mei. Hiks! Hiks!" Tangannya menggenggam tangan Mei.
"Jaro. Jaro." Ansa menyerahkan handphone-nya.
"Sa ... ada apa ini? Jaro kenapa?"
"Ngga tahu, huhuhu! Aku, aku mau ke sana, Mei. Aku harus ke sana!"
Mei menghapus air mata sahabatnya tersebut. "Iya, iya. Sekarang kita bareng ke sana ya! Dia juga sahabatku. Oh! Aku akan mengabari Yono dan Wahyu, sahabat dekatnya."
Balasan juga belum Ansa dapatkan. Membuatnya segera mengetik pesan singkat yang berulang.
"MAS!" dia mengirim pesan tersebut hampir 20 kali.
Mei merangkul dan mengusap-usap bahu Ansa. Dia ikut merasa sedih sembari mengetik di layar handphone-nya.
__ADS_1