
Di ruang tamu,
Ansa menyalami Bu Liana dan Jaro dengan senyum ramahnya. Lalu ia segera duduk di samping ibunya. Mata Ansa dan mata Jaro saling bertemu. Pikiran mereka berdua masih saling mengingat wajah masing-masing.
Sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi di mana? Ah, pasti banyak yang seperti dirinya, pikir Ansa.
"Ini Ansa, Bu, Jaro. Ini putri semata wayang keluarga Hardiyata. Jadinya agak manja gitu ya, haha!" tutur Bu Roro.
"Ansa cantik ya. Kayaknya cocok nih kalau sama Jaro. Jadinya kita bisa besanan, haha!" canda Bu Liana.
Jaro melihat ke arah Bu Roro dan terlihat raut wajah Bu Roro menjadi agak cemas.
Bu curang, anda tidak bisa berbohong ya walaupun telah tersenyum. Oh! Jadi itu Ansa ya. Ia juga merupakan wanita yang bermesraan dengan pacarnya di belakang sanggar. Jackpot! Sekarang aku bisa mengancamnya, hahaha! batin Jaro.
Jaro sungguh bahagia karena mendapat lagi sebuah rencana untuk membongkar rahasia dalam keluarga Hardiyata.
"Wah, jangan sekarang, Bu. Mereka masih kecil. Mungkin nanti saat mereka telah besar, baru kita jodohkan!" balas Bu Roro dengan lantang.
Hah! Aku dengan anak kecil itu? Lebih baik aku dengan mas Ranu saja. Mas pujaan ku itu bisa menghibur dan menenangkan ku hingga rasanya aku tenggelam dalam danau. Semuanya basah, oh, pikirnya yang mulai berfantasi liar.
__ADS_1
"Jadi gini, Bu Roro. Jaro ini ingin masuk ke sanggar Bu Roro. Ia ingin masuk ke pemain alat musiknya. Kebetulan sejak kelas empat SD, Jaro sudah mengikuti ekskul musik dan pandai memainkan gitar," jelas Bu Liana.
"Oh, jadi Jaro pintar bermain gitar. Iya, boleh Bu. Minggu depan Jaro bisa langsung ke sanggar saya. Ansa juga masuk di sanggar saya loh—" balas Bu Roro.
"Oh ya? Wah, nantinya mereka akan terus bertemu di sanggar ya? Haha!" seloroh Bu Liana untuk menggoda Jaro dan Ansa. Bu Roro ikut tertawa dengan olokan Bu Liana.
Bagus! Minggu depan aku akan mengancamnya. Eh, tapi aku harus minta izin ke mas Deniz. Aku ngga boleh sembrono dalam melakukan misi ini, pikir Jaro.
"Mas, coba cek lokasi ku sekarang ya!" Jaro segera mengirimkan pesan tersebut kepada Deniz. Lalu ia kembali menyimpan handphone-nya.
Mata Jaro menangkap Ansa yang mencuri pandang kepadanya.
Sedangkan Ansa merasa gelisah karena ketahuan oleh Jaro bahwa dirinya sedang mengingat-ingat wajah Jaro.
Di mana ya? Ada kok yang mirip sepertinya. Tapi, di mana? Ish! Lupakan! batin Ansa yang masih sangat penasaran.
"Oh iya, Bu. Sebentar lagi Ansa kesayangan saya ini akan naik ke kelas tujuh. Kalau boleh, apakah Ansa bisa masuk ke Sekolah Mandraguna? Hehe," tanya Bu Roro dengan perlahan dan hati-hati.
"Bu Roro ngga perlu minta izin. Anak multitalenta seperti Ansa ini pasti mudah masuk ke Sekolah Mandraguna. Apalagi Ansa sudah terkenal di kota ini karena kepintarannya dan keanggunannya. Wah, pasti ia bisa langsung masuk dengan potensinya itu, Bu." Pujian dilontarkan oleh Bu Liana kepada Ansa.
__ADS_1
Ibu malah memujinya, haha! Ibu masih belum tahu kelakuan anak dan bu curang itu di belakang. Bagaimana saat ibu tahu semuanya ya? Wah! Di rumah langsung bergetar hebat! Ih, serem, pikir Jaro.
"Oh, begitu Bu. Ansa, nanti kamu masuk ke Sekolah Mandraguna ya! Di sana ngga bakal ada lagi yang namanya teman-teman pengganggu mu itu, oke?" bujuk Bu Roro dengan tegas.
"Maaf, Bu Roro. Teman pengganggu?" tanya Bu Liana yang penasaran.
"Iya, Bu Liana. Anak saya ini pernah sekali bolos sekolah. Ternyata alasannya karena diganggu sama temannya yang merasa jadi ratu sekolah, haha!" balas Bu Roro.
"Oh, tenang! ratu atau raja sekolah ngga akan masuk ke sekolah kami. Di sekolah ini tidak ada yang seperti itu, semuanya bersaing secara sehat dan bukan mengandalkan partner kerja. Anak-anak sekolah kami bisa terpilih karena prestasi dan bakat mereka. Jadi Ansa mungkin bisa bertemu dengan teman-teman yang satu hobi atau satu kesukaan terhadap sesuatu ...," tutur Bu Liana.
Ansa merasa bahagia, bahkan menunjukkan senyum lebarnya dan mengangguk kencang.
"Dan di sana, Ansa akan mendapat bodyguard. Ini bodyguard-nya! Ada di samping saya, haha!" lanjut Bu Liana untuk menggoda Jaro dan Ansa.
"Ibu!" bisik Jaro kepada Bu Liana. Iya, aku akan menjaganya. Asalkan ia mau bekerja sama denganku! batin Jaro dengan senyum jahatnya.
Setelah itu, Bu Liana berpamitan pulang kepada Bu Roro dan Ansa. Mereka saling bersalaman dan segera melangkah menuju mobil.
__ADS_1