
Sore hari,
Ansa menengok ke kamar ibunya. Dia berniat ingin meminta maaf atas apa yang dilakukannya kemarin kepada ibunya.
Namun di depan pintu, Ansa mendengar suara kaca jatuh. Seketika dirinya menjadi cemas dan langsung membuka pintu kamar ibunya.
"Ma!!" Ansa melihat ibunya yang bersiap menusuk perutnya sendiri dengan pecahan kaca di tangannya.
Ansa segera mencegah ibunya. "Jangan Ma! Mama kenapa sih?!!" pekiknya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Mama ngga mau punya anak lagi, Sa! Kamu juga ngga mau punya adik, kan? Pak Awi juga ngga mau menerima anak ini, Sa!!" keluh ibunya dan kembali bersiap menusukkan ujung kaca tersebut.
"Mama salah! Aku mau punya adik! Lihat dia. Dia masih di dalam perut, tapi Mama mau menyakitinya? Mama bukan jahat lagi, tapi pembunuh!" balas Ansa.
Ibunya membuang pecahan kaca, dan memeluk Ansa. Beliau menangis dan memohon maaf atas tindakan tak warasnya. Ansa hanya bungkam, tapi tangannya mengusap-usap punggung ibunya.
Malam hari,
Di dalam kamarnya, Ansa memilih untuk langsung menelpon Jaro. Dia menceritakan semua yang terjadi dengan ibunya kepada Jaro. Akan tetapi, mereka justru berbeda pendapat mengenai masalah yang satu ini.
__ADS_1
"Bagus dong kalau mamamu ingin menggugurkan adik kita. Aku ngga mau punya adik! Dan ayahku pasti ngga akan mau juga, Sa."
"Ro!! Dia adalah titipan Allah! Dia belum lahir, dan kita ngga boleh membunuhnya! Emang kenapa sih kamu ngga mau jadi kakak? Ha?!"
"Ngga, Sa. Maaf. Kalau untuk ini, aku ngga setuju kalau akhirnya mamamu melahirkan adik kita."
"Ya terus ayahmu ngga mau bertanggung jawab? Kurang ajar banget sih! Mamaku bilang kalau dia sangat mencintai ayahmu! Tapi apa ini? Ayahmu menolak punya anak? Hah!" Suara Ansa semakin kencang.
"Iya! Ayahku, aku, mas Deniz ngga mau punya adik di perut mamamu, Sa!!" jawab Jaro yang tak kalah kencang.
"Jaro!!" pekiknya.
Jaro memutus percakapan telepon tersebut. Membuat Ansa semakin meradang. Baiklah, Jaro ngga mau punya adik. Jadi dia adalah adikku!
Sedangkan Jaro mengacak rambutnya hingga selimut di kamarnya. Dia berteriak untuk mengeluarkan emosinya. Takdir apa ini? Kami gagal memisahkan mereka! Dan justru aku dan Ansa berantem karena perbedaan pendapat!
"Aaa!" Teriakannya kembali menggema.
"Jaro! Kamu kenapa sih?" protes Deniz.
"Keluar Mas! Aku lagi ingin sendiri!" Jaro membanting pintunya di hadapan kakaknya sendiri.
__ADS_1
Bruak!
"Heh! Kamu kenapa sih?! Roo! Roo!" bentaknya. Namun adiknya tak bersuara.
Handphone Ansa kembali berdering. Kali ini dari Deniz, dan dia cepat-cepat mengangkatnya. "Ha-lo Mas?"
Deniz menanyakan tentang adiknya. Ansa segera menjawab semua pertanyaan dari Deniz dengan terbata-bata.
"Oh gitu. Ayahku memang seorang ba*ingan, suka seenaknya sendiri. Maafkan ayahku ya, Sa," bisik Deniz.
Mas Deniz sangat bijaksana, batin Ansa. "Iya Mas. Ngga apa sih kalau memang kalian ngga mengakui adik di dalam perut mamaku."
"Suatu saat, mereka pasti terima kok, Sa. Oh ya, apakah papamu sudah tahu tentang kehamilan mamamu?" tanya Deniz.
"Aku ngga tahu cara bilangnya, Mas. Takut. Karena saat kelas 1 kemarin, papa melihat foto mama dengan pak Roi. Papa langsung marah besar," jelasnya.
"Hm ... gimana ya? Setelah ini, aku akan menyerahkan data kunjungan ayahku kepada ibuku, Sa. Dan sementara ini, jangan biarkan mamamu keluar rumah, bahkan pergi ke rumahku ya? Aku khawatir akan ada berita yang muncul seperti yang kemarin, Sa."
Perkataan Deniz membuat Ansa agak tenang. Dirinya siap mengikuti perintah dari ketua grup De Rosa, yaitu Deniz.
***
__ADS_1