
...“Aku perlu jeda dari semua masalahku....
...Karena informasi yang kamu berikan,...
...Terus saja membuatku curiga dan cemas."...
Sebulan kemudian,
Ansa maupun Jaro telah selesai menghadapi ujian sekolah, ujian praktik, dan ujian nasional.
Selama itu,
Mereka berdua tidak memikirkan masalah keluarga. Mereka seakan dipacu untuk fokus terhadap kegiatan di sekolah maupun di luar sekolah dalam hal mengembangkan hobi masing-masing. Tidak ada kata menyerah, karena inilah cerita dua insan yang ambisius dan famous.
Saatnya mereka berlibur!
Namun sebelum liburan,
Ansa diharuskan untuk mengikuti tes seleksi masuk Sekolah Mandraguna. Di sana, ia berpapasan dengan Ranu, membuat Ranu merasa bahagia.
"Ansa! Kamu di sini?" seru Ranu.
"Iya, Mas! Sebentar lagi aku akan melanjutkan SMP di sini. Kalau Mas Ranu?"
"Maaf, Sa. Aku sudah lulus. Dan aku akan ke luar negeri untuk melanjutkan kuliahku. Hanya 4 tahun kok. Setelah itu, kita akan bertemu lagi," jawab Ranu.
"Oh gitu. Memangnya aku ngga bisa menghampiri Mas Ranu dengan Orbifly?" tanya Ansa lagi.
"Ngga bisa sayang. Orbifly hanya berlaku di negara kita. Oh ya! Tiga hari lagi, jangan lupa pentas ya!" balas Ranu yang mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Iya. Tapi, aku tetap akan menelpon Mas ya?" pinta Ansa.
Ranu hanya mengangguk dan tersenyum. Lalu dirinya kembali bersuara, "Dua hari setelah pentas, aku akan pergi, Sa."
"Setelah pentas, aku dan keluargaku akan ke vila di dekat ladang Techsophistic Farm, Mas! Tolong, Mas Ranu ikut ya?" balas Ansa, membuat Ranu mengangguk kencang.
Malam hari,
Jaro sedang asyik bermain dengan gitarnya. Ia terus berlatih supaya suatu hari nanti, dirinya bisa mengikuti pentas. Untuk tahun ini, ia hanya bisa menonton teman-temannya yang telah lama bergabung dalam sanggar.
Jaro juga mengingat perkataan Ansa yang berjanji akan mencegah ibu penggoda untuk mendekati ayahnya. Dan sepertinya, Ansa telah menepati janjinya.
Sebenarnya, tidak.
Ansa masih tidak berani untuk membahas tentang hubungan terlarang ibunya kepada ibunya langsung. Karena perasaan curiganya terhadap Jaro telah menahan bibirnya untuk mengatakan sebuah kebenaran.
Bahkan Ansa pernah mengancam bahwa ia tidak akan ikut pentas, tidak akan ikut tes masuk Sekolah Mandraguna, dan tidak akan ikut latihan modelling. Semua ancaman dari Ansa, membuat ibunya kesal.
"Ada apa sebenarnya, Sa?" tanya Ibu Roro dengan lembut. Beliau memang jarang membentak kepada anak semata wayangnya, walaupun raut wajahnya terlihat kesal.
"Mama suka sekali pulang malam. Padahal aku ingin selalu bercerita tentang apa yang terjadi di setiap hariku," jawab Ansa dengan pelan.
Hingga hari ini,
Saat Ansa telah selesai menunjukkan tariannya, ibunya selalu memberi masukan, saran dan senyuman. Ia sangat bersyukur karena ibunya sudah tak pernah pulang malam, dan selalu mendukungnya.
Tapi ....
__ADS_1
Cherophobia-nya kembali muncul. Pikiran Ansa kembali lagi terhadap ketakutannya saat mendapatkan kebahagiaan.
Mungkin setelah ini aku akan mendapatkan kesedihan yang mendalam juga. Oh! Mungkin kesedihan karena Mas Ranu yang akan pergi menjauh dariku selama 4 tahun!
Ansa juga tidak mengatakan apapun kepada ayah dan ibunya mengenai hubungan cintanya dengan Ranu. Ia masih ragu, dan lebih baik jika memang mereka dianggap sebagai kakak adik untuk saat ini.
Di kamar Jaro,
Pintu kamarnya diketuk oleh seseorang. "Masuk!" jawab Jaro. Lalu kedua netranya menangkap sosok yang agak mirip seperti dirinya. Ya! Dialah Deniz, kakak kesayangan Jaro.
"Hei! Aku punya kabar baik, Ro," ucap Deniz.
Jaro menoleh ke kakaknya yang duduk di sofa. Ia meletakkan gitarnya dan bersiap mendengar penjelasan dari kakaknya. "Kabar baik apa?" tanyanya.
"Aku dan temanku sudah menelusuri riwayat perjalanan Orbifly. Ternyata, Orbifly di rumah ini sudah beberapa kali menerima kedatangan tamu dari tempat ibu bekerja," tutur Deniz.
Orbifly merupakan alat transportasi pribadi yang cukup mahal, karena hanya rumah seperti milik Ansa maupun milik Jaro yang bisa memakai dan memiliki jalur ke keluarga yang lainnya.
Orbifly memiliki bentuk orbit atau bulat, dengan roda seperti kereta. Berkapasitas sebanyak 2 orang, dengan 2 tempat duduk yang saling sejajar. Alat ini telah dirancang otomatis tanpa sopir dan bisa mengantarkan penumpangnya sesuai lokasi yang diinginkan.
Jalur-jalur Orbifly memang diperuntukkan untuk rumah yang bertingkat lebih dari tiga, dan mampu membayar pajak pembangunan dan pemakaiannya. Tempat pemberhentian Orbifly di setiap rumah adalah di bagian teratas dari rumah, sehingga alat transportasi ini dinilai efektif dalam mengurangi kemacetan.
Saat Deniz mengatakan bahwa rumahnya sering mendapat kunjungan Orbifly diam-diam dari tempat ibunya bekerja, Jaro melebarkan matanya.
"Apakah itu, bu curang yang sering berkunjung? Tapi untuk apa?" cecar Jaro yang masih bingung.
"Sepertinya memang teman ibu, Ro. Oh, maksudnya ibunya Ansa. Benar 'kan?" ucap Deniz. "Sekitar dua bulan yang lalu, ibunya Ansa sering berkunjung kemari di malam hari menggunakan Orbifly. Tapi setelah itu, beliau sudah tidak pernah lagi kemari," lanjutnya.
"Pasti karena Ansa sudah mencegahnya untuk pulang malam, Mas! Syukurlah," balas Jaro dengan perasaan lega.
__ADS_1