Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Elang Laut_2


__ADS_3

Saat Bu Roro telah kembali masuk, mereka melangkah keluar dari persembunyian mereka.


"Sa! Jangan ke sana dulu. Ayo kita sembunyi di tempat yang lebih aman," ajak Ranu.


Mereka berpindah tempat. Kini mereka bersembunyi di balik tembok bangunan kamar mandi yang sepertinya sudah tak dipakai lagi. Mereka berdua sama-sama mengatur nafas mereka.


"Sa, aku ...," ucap Ranu yang dipotong.


Ansa mendongakkan kepalanya, "Ya?"


Ranu memegang pinggang Ansa dan menarik Ansa dalam pelukannya. Ia menempelkan tubuh Ansa ke dinding.


"M-mas, apa yang ka-mu lakukan?" ucapnya yang mulai merinding.


"Boleh ya? Sepertinya enak," ucapnya yang ambigu, tak dimengerti oleh Ansa.


Ranu melepas jaketnya, lalu segera mengikatkan jaket tersebut ke pinggang Ansa. Tanpa izin, ia berjongkok dan segera mencicipi fondasi jenjang berwarna putih milik Ansa.


Ansa membungkam suaranya, walaupun seluruh tubuhnya mulai merinding. Lalu ia merasa Ranu telah membuka hotpants-nya. Membuatnya berkali-kali mendorong kepala Ranu maupun meremas rambut Ranu.


Suara amarah teman ibunya tadi terdengar hingga ke tempat persembunyian mereka. "Tuan Deniz, tuan Awi sudah pergi. Sekarang kita juga pulang ya?" pinta sopir dengan hati-hati.


"Oh, mobil ayah sudah pergi? Bagus lah. Setelah ini, kita maju ke pagar sanggar tersebut dan melihat situasi di sana," titah Deniz.


Namun lagi-lagi Jaro menyanggahnya. "Jangan Mas, teman ibu masih ada di sana. Kalau dia tahu kita ke sana, terus dia bilang ke ayah? Habislah kita."


"Hm, benar ju—" ucapnya sembari menoleh ke arah Jaro, tapi matanya menangkap sesuatu yang tak bermoral, sehingga ucapannya terpotong.


Jaro sadar bahwa kakaknya sedang terpaku dengan sesuatu di belakangnya, alhasil ia menoleh.

__ADS_1


Mata Jaro menangkap wajah Ansa yang terlihat penuh gelora. Matanya turun dan kepalanya menggeleng. Orang zaman sekarang sudah edan! Ia kembali melihat ke atas, dan matanya menatap mata Ansa yang sendu.


Ansa memekik, "Mas! Ada yang melihat kita dari sana!"


Membuat Ranu menoleh ke belakang. "Heh!" bentaknya kepada orang yang berada di dalam mobil.


Jaro membelalakkan matanya, dan jantungnya berdegup kencang karena panik.


"Ayo, Pak. Kita pulang sekarang," ucap Deniz dengan pelan.


"Ayo cepat, Pak!!" pekik Jaro.


"Ada apa sih, Ro—" Deniz merasa heran dengan adiknya. Namun sedetik kemudian, ia melihat seorang pria kekar tengah berlari ke arah mereka.


"AYO PAK!!" pekik mereka berdua bak penjahat yang panik karena ketahuan mencuri.



"Maaf ya, Pak. Kami sudah membentak Bapak terus dari sejak pulang sekolah sampai sekarang," tutur Deniz dengan tulus.


"Ngga apa Tuan Deniz, saya tahu kalian semua sedang dalam kebingungan dengan sikap tuan Awi. Kebetulan, sebenarnya saya pernah beberapa kali melihat tuan Awi bersama wanita tadi, Tuan," balas sopir.


"Jadi!" pekik Jaro.


Disambung oleh Deniz dengan suara berbisik. "Bapak sudah tahu? Kenapa Bapak ngga bilang dari awal?"


Ansa menarik jaket yang melingkar di pinggangnya, dan menjadikan jaket tersebut sebagai rok untuk menutupinya. Matanya terus menatap Ranu yang terlihat kesal. Lalu Ranu kembali melangkah ke arah Ansa berdiri.


Ranu telah berdiri di depannya. "Ternyata di sini ngga aman. Ma-af ya?" lirihnya.

__ADS_1


Ansa menggelengkan kepalanya. "Padahal kita baru kenal, tapi sikapmu sangat hilang akal!!" Ia mulai sesegukan.


"Hei, aku hanya ...." Ranu bingung harus mengatakan apa. Ia memilih untuk membungkuk dan memakaikan kembali hotpants. Ansa masih dalam tangisannya, tanpa menoleh sedikitpun ke arah Ranu.


"Aku yakin, keluarga kita akan merasa senang ketika kita saling berjodoh, Sa," tuturnya dengan rayuan maut.


Mendengar hal itu, Ansa mendongakkan kepalanya dan menatap Ranu dengan matanya yang masih basah.


Plak!


Tangan kanan Ansa mengayun ke pipi yang tumbuh cambang tipis. Tentu saja Ranu meringis kesakitan. "Iya, ngga apa, Sa. Tampar lagi. Ayo," lirihnya sambil mengelus pipinya yang memerah.


"Itu tamparan supaya setan yang merasuki Mas segera keluar! Tadi kamu bilang apa? Berjodoh? Aku bahkan sudah muak melihat wajahmu!!" ucapnya yang membuat tangisannya semakin kencang.


"Maaf, maaf, Sa." Ranu kembali memeluk Ansa. "Tunggu enam tahun lagi ya? Aku akan menjemputmu, Sa-yang." Suaranya semakin lirih.


Ansa mendorong Ranu supaya ia lepas dari pelukan Ranu. Namun Ranu tak melepas tangannya dari pinggang Ansa.


"Ini cinta? Apakah bentuk cinta harus seperti ini, Mas? Membuatku takut dan hilang akal?" bisik Ansa dengan menatap sendu.


"Ngga, yang tadi itu salah. Itu kelakuan setan yang merasuki ku. Kamu benar dengan menamparku, Sa. Maaf ya," lirih Ranu padanya.


Ansa menyeka air matanya, lalu menatap mata Ranu. "Oh ya? Mas Ranu berbakat dalam bermain teater, berdrama. Apakah aku bisa percaya dengan janji manis yang tadi kamu bilang, Mas drama?" oloknya dengan berbisik dan memegang kedua bahu Ranu.


"Aku ngga pernah bohong untuk masalah cinta. Asal kamu mau menunggu, Sa." Ucapannya membuat Ansa mabuk kepayang.


Setan dalam tubuh Ansa, membuatnya menarik kepala Ranu supaya menunduk ke arah dirinya.


Ansa masih tak paham tentang perasaan cinta, tapi yang ia lakukan saat ini terasa sangat menenangkan. Ranu memperdalam tautan bibir mereka. Ditambah sapuan tangannya ke setiap kelokan, membuat Ansa bergeliang.

__ADS_1


***


__ADS_2