Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Epilog_2


__ADS_3

Beberapa menit kemudian, Ansa kembali bersuara.


"Mungkin saya bakal jarang keluar rumah. Karena pasti gerah kalau terus di luar dengan baju ini. Lebih baik kalau saya di rumah, memberi perhatian ke Ayah dan suami. Lagipula, saya masih bisa kerja dari rumah, ya kan?" ujar Ansa.


"Ayah pernah dengar sih. Kalau wanita memang lebih baik di rumah. Karena kalau di luar tuh, takutnya ada yang berniat jahat dan berani macam-macam. Mangkanya, berpakaian seperti itu untuk melindungi diri sendiri dan pandangan orang lain," tutur ayah.


Ternyata ayah tahu ya? Tapi kenapa dulu ... Ah, itu kan masa lalu. Lupakan dan maafkan, Sa, pikir Ansa.


"Kalau di kampusku, waduh! Berasa pergi ke pantai! Semuanya kebal dingin! Kayaknya cuma aku yang mesti pakai jaket saat kuliah, haha!" celetuk Jaro.


"Tuh kan! Ish!" protes Ansa.


"Ih, ngga gitu, Sa. Aku kan cuma menyampaikan apa yang aku lihat."


"Harusnya kamu pakai kacamata quda aja saat di sana!" Ansa membuang mukanya.


"Ayah!!" pekik seseorang yang suaranya tak asing bagi mereka.


"MAS DENIZ!!" pekik Jaro dan Ansa.


Ternyata Deniz pulang kerja lebih awal, karena ingin menemui kedua adik kesayangannya.


Ansa hanya merapatkan kedua telapak tangannya dan menunduk, walaupun Deniz sempat sedikit terkejut. Namun ia memaklumi tingkah adik iparnya tersebut.


Sedangkan Jaro tak ragu untuk memeluknya. Tanpa sadar, ia meneteskan air mata. Tapi ia segera menyekanya.


Mas Deniz ngga boleh melihatku menangis. Padahal aku menangis karena terharu! batin Jaro.


"Gimana selama di sana? Seru, 'kan?" tanya Deniz.


"Iya tuh Mas! Dia berasa ke pantai terus!" seloroh Ansa.


"Ya ampun, masih aja berantem," gumam Deniz.

__ADS_1


"Biasa aja sih. Di sana aku belajar jadi businessman. Jadi busy (sibuk) terus!" Jaro tersenyum.


"Ayo Mas! Duduk dulu dan makan."


Deniz mendaratkan diri di depan meja makan, bersama ketiga anggota keluarganya.


Setelah itu, Jaro meminta izin kepada Ayah Awi dan Deniz untuk mengajak istrinya pergi ke pantai. Tentu saja, ayah dan Deniz mengiyakan.


"Sudah booking hotel?" tanya Ayah.


"Sudah kok!"


"Kapan berangkat? Mau berapa hari di sana?" cecar Ansa.


"Seminggu." Jaro menyeringai.


"Apa?!! Jangan lama-lama ih!" protesnya.


"Memangnya kenapa sih? Mumpung kita masih sama-sama belum sibuk!" Jaro merangkul dan mencubit pipi Ansa.


"Jaro ... kamu ngga mau bantu-bantu untuk persiapan hari bahagia kakakmu?" tanya Ayah Awi dengan lembut.


Jaro masih bingung, sedangkan Ansa langsung paham dan tersenyum lebar.


"Kapan? Kapan Mas akan menikah?!" seru Ansa.


"Oh! Jadi hari bahagia tuh maksudnya Mas mau menikah?! Selamat!!!"


Tingkah konyol mereka seakan membuat ayah dan Deniz melihat mereka seperti anak kecil yang bahagia.


"Mangkanya, jangan lama-lama di sana. Please ...," pinta Deniz.


"Tadi aku bercanda kok! Di sana kita cuma tiga hari, hehe."

__ADS_1


"Bercanda mulu! Seriusnya kapan?"


"Besok di hotel ya!" bisik Jaro.


Membuat Ansa menunduk malu dan sedikit menyenggol Jaro supaya diam.


"Setelah kalian kembali, aku akan perkenalkan calon kakak ipar kalian! Nanti aku akan undang dia ke sini. Sebulan yang lalu, pas lamaran, Ayah sudah ketemu sih."


"Siapa sih calonnya, Mas? Teman sekolah?" tanya Jaro.


"Anak rekan kerjanya paman Lovi. Namanya Oriza."


"Haha! Memang dari dulu sudah ngincer dia! Haha!" Jaro tertawa bersama Ayah Awi.


Membuat Deniz menunduk malu, dan Ansa yang menggelengkan kepalanya.


"Hush, sudah ketawanya!" bisik Ansa.


"Yah, Mas. Saya dan Jaro pamit mau siap-siap dulu ya?"


Ayah dan Deniz mengangguk. Jaro kembali bersuara, "Hore halan-halan!!"


"Diam ih! Malu aku tuh."


"Suruh siapa dulu mau menikah denganku?"


"Astagfirullah. Mulut tetap aja pedas ya!"


"Ayo bungkam aku. Chu~" Jaro mengerucutkan mulutnya.


"Besok di hotel ya!" Ansa tersenyum sembari menjulurkan lidahnya dan melangkah mendahului Jaro menuju kamar.


"Ihh, dasar ya!" Jaro agak kesal, tapi senang. Ah entahlah.

__ADS_1



__ADS_2