Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Jiwa Baru_3


__ADS_3

Esok harinya,


Ansa memasuki kelas dengan menunduk, ditambah dengan rambutnya yang terikat asal-asalan. Saat telah mendaratkan diri, dia menghirup dan menghembuskan nafas sekuat-kuatnya.


Ya Allah, salahku di mana? Apakah semua kebahagiaan ini memang harus dibalas dengan adik di dalam perut mama. Hiks. Ansa tidak kuat. Dirinya menunduk dan kembali menangis.


Bunyi bel masuk menggema ke seluruh lorong-lorong kelas. Membuat semua murid cepat-cepat masuk ke kelas masing-masing.


Di dalam kelas, Mei berusaha menenangkan Ansa tanpa tahu apa yang terjadi dengan temannya tersebut. Dia hanya merangkul dan membujuk Ansa supaya berhenti menangis.


Tiba-tiba saja, Jaro meminta Mei untuk menggerakkan posisi duduk Ansa ke arah dirinya yang berada di samping Ansa. Mei mengiyakan dan mencoba membujuk Ansa.


Ansa menghadap ke arah kiri, membuka lipatan kedua tangannya, dan matanya menangkap sosok Jaro yang bersimpuh di depannya. Jaro memberi handuk yang sama seperti dulu saat Ansa menangis karena ulah Sari.


"Cup cup, sudah Sa." Jaro menepuk-tepuk pelan kedua pipi Ansa dengan handuk kecil. "Aku tahu kamu pasti akan seperti ini. Tapi jangan cemas ya, kita pasti bisa jadi seperti Mas Deniz, yang bisa mengayomi adik-adiknya."


Suasana di kelas menjadi hening. Sepertinya mereka bingung. Inginnya mengolok karena tingkah Jaro yang romantis, tapi tak tega karena Ansa yang menangis.


Kalau boleh jujur, Ansa ingin sekali memeluk temannya tersebut yang sebentar lagi juga akan menjadi kakaknya. Namun dia malu, dan pastinya akan banyak gosip beredar, ditambah mungkin Sari akan kembali menjambak rambutnya.

__ADS_1


Di kantin,


Ansa melahap makan siangnya yang membuatnya merasa hangat dan tenang. Sedangkan Mei masih bingung harus mulai mengobrol dari mana.


"Sa ...." Mei menelan ludahnya.


"Hm? Apa Mei?"


"Kamu lagi ada masalah apa?" tanya Mei.


"Masalah keluarga kok. Santai aja," dustanya. Padahal sebenarnya adalah masalah di antara dua keluarga.


"Mei. Kamu punya kakak atau adik?"


"Aku punya adik. Tapi masih di dalam perut ibuku, Sa," jawabnya.


Ansa tersedak dan segera menyeruput minumannya menggunakan sedotan. Setelah merasa baikan, Ansa kembali bersuara.


"Menurutmu ... gimana rasanya menjadi kakak, Mei? Apakah kamu ada pikiran kalau cinta orang tuamu akan jauh lebih besar untuk adikmu itu?"

__ADS_1


"Ya, mungkin nantinya kayak gitu sih. Cinta mereka lebih besar untuk adikku. Tapi Sa, menurutku lebih enak punya adik. Karena bakal ada yang menemani dan meramaikan suasana rumah," jelasnya.


Ansa kembali diam, tapi pikirannya sangat riuh.


Tapi, adiknya Mei bukan dari hasil hubungan terlarang. Tidak seperti mama dengan ayahnya Jaro. Akh! Aku capek memikirkannya! ucap Ansa dalam hati.


Di dalam kelasnya Wahyu,


Saat diajak mengobrol dengan Wahyu, dirinya hanya diam dan melamun. Membuat temannya tersebut menepuk bahu Jaro.


"Ro! Lu lagi mikirin apa sih?" tanya Wahyu.


"Ngga ada sih, cuma lagi ngebayangin kalau misal gua jadi kakak, bakal gimana ya?" balas Jaro.


"Ya jadi kayak kakak lu lah!" jawabnya dengan cepat.


"Bukan gitu Yu. Lu juga jadi kakak untuk dua adik lu. Terus, kamu juga harus ikutan bantu mengurus adik-adikmu, 'kan?"


"Pastinya dong! Orang tua kita sudah berjasa membesarkan hingga menyekolahkan kita sampai saat ini. Jadi sudah kewajiban anak untuk membantu orang tuanya, supaya lebih ringan. Dan hidup di dunia sebagai anak, biar bisa berguna dikit gitu loh!" tutur Wahyu.

__ADS_1



__ADS_2