Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Keadilan_3


__ADS_3

Siang hari, di kantor polisi.


Ternyata ibu sedang berada di ruangan khusus bersama psikiater. Awalnya Jaro dan Ansa tak boleh menemui beliau hingga telah selesai sesi terapi.


Akan tetapi, psikiater menyuruhnya untuk masuk. "Silakan masuk. Ibu kalian memang sangat rindu dengan kehadiran kalian."


"Bu Liana. Kedua anak Ibu ada di sini."


Ibu menoleh ke arah mereka dengan tatapan sendu. Membuat mereka merasa prihatin.


Benar kata Ansa. Aku dan mas Deniz sangat tega terhadap ibu. Harusnya ibu di rumah saja, pikir Jaro.


Ibu ... Aku ingin memelukmu. Tapi, aku takut. Ansa masih ingat dengan kejadian beberapa minggu yang lalu saat ibu ingin merenggut nyawa Ansa.


"Ja-ro?" panggil ibu dengan suara paraunya.


"Iya, Bu."


"Syukurlah Ibu masih mengingatnya. Dan yang di belakangnya, siapa dia, Bu? Apakah Ibu masih mengingatnya?" ucap psikiater.


"Dia ... dia? Dia, dia!!" Ibu memekik dan bangkit dari duduknya saat melihat Ansa.


Ibu menghampiri Ansa dengan gerakan cepat. Dan beliau langsung menjambak rambut Ansa.

__ADS_1


"Kamu datang lagi kesini, hah?! Kamu sudah di dalam kubur! Tapi kamu masih berkeliaran di dekatku!!"


Jaro dan psikiater mencoba melepaskan cengkraman tangan ibu. Sedangkan Ansa tak melawan, karena yang menyakitinya saat ini adalah ibu mertuanya sendiri.


"Bu! Lepas, Bu!" Jaro terus berusaha.


"Pergi kamu, Roro! Pergi!!!"


"Sudah, Bu. Sudah. Orang yang Ibu maksud sudah meninggal. Dia adalah anak Ibu. Coba sekarang Ibu lihat lagi wajahnya." Psikiater tersebut menarik ibu dari belakang.


"Seseorang yang ada di luar!! Tolong masuk ke sini ya!" titah psikiater.


Dengan segera, muncullah dua lelaki berbaju cream memasuki ruangan. Mereka memegang erat kedua lengan ibu dan membawanya kembali ke sofa.


"I-iya, Bu. Terima kasih dan tolong, jaga ibu saya."


Kemudian Jaro menuntun Ansa keluar dari ruangan, sembari membantu Ansa merapikan rambutnya.


Jaro melihat mata Ansa yang memerah. "Maaf, Sa. Ternyata ibu masih belum bisa melupakan mama Roro. Ya ampun." Dia menghela nafasnya.


"A-ayo pulang," lirih Ansa.


__ADS_1


Malam hari, di meja makan.


Jaro menatap ayah dan Deniz dengan tajam.


"Yah, Mas!"


Semua orang masih mengunyah makanan. Namun kepala mereka mengangguk dan menatap Jaro.


"Kenapa Ayah dan Mas Deniz ngga bilang, kalau ibu masih harus di terapi? Tadi Ansa hampir menjadi korban kebrutalan ibu!" protesnya.


Ansa menggenggam tangan Jaro. "Ja-ngan."


Jaro tak peduli. "Jawab Mas, Yah!"


"Dari awal Ayah sudah bilang! Ayah yang akan di sana. Karena ibu memang merasa trauma sejak mendengar bu Roro hamil!!" Ayah berhenti bicara dan mengatur nafasnya.


Ansa hanya menunduk. "La-lain kali, saya ngga akan ikut menemui ibu. Sebelum ibu sembuh."


Jaro mulai kesal. "Bukan gitu, Sa. Aku yang salah. Aku kira ibu sudah di penjara dan kita bertemu di tempat yang dibatasi kaca! Eh, tadi ibu malah bertemu dengan ahli penakluk pasien sakit jiwa!"


"Iya, Ro. Seingatku di akhir persidangan, ibu memang akan diberi terapi walaupun sedang di sana. Kalau ngga, mungkin ibu akan menghabisi dirinya sendiri," balas Deniz.


Kenapa psikis kedua wanita kesayanganku sakit? batin Jaro.

__ADS_1


***


__ADS_2