
Beberapa menit kemudian,
Bu Roro dan Pak Hardiyata datang ke sanggar. Tentunya Jaro mengingat wajah Bu Roro dan langsung mengenalinya. Bu Roro menggandeng lengan suaminya sembari berjalan cepat.
Eh, mereka bukan hanya berdua. Tapi ada seorang pria di belakang mereka. Apakah itu, pak Roi, ayahnya Sari? pikirnya. Dia putuskan untuk mengikuti diam-diam ketiga orang dewasa tersebut.
Setelah ketiga orang tersebut masuk ke kamar, Jaro berniat untuk menguping pembicaraan mereka.
Namun Bibi Ning menghentikan Jaro. "Bukan hal baik untuk menguping pembicaraan orang lain, Jaro."
Waduh, ketahuan nih. Jaro berusaha memberi alasan yang logis. "I-itu Bi. Saya ingin tahu keadaan Ansa. Karena, ta-tadi dia baik-baik saja. Tapi tiba-tiba kok bisa pingsan."
"Hmm. Ansa memang anak yang pemikir dan perasa. Jika ada masalah, dirinya memang mudah menangis. Bibi sering menjadi tempat dirinya mengobrolkan segala keluh dan resahnya. Tapi akhir-akhir ini, dia sudah jarang menemui Bibi, mungkin saja dia sudah mempercayai seorang teman untuk berbagi curahan hatinya," tutur Bibi Ning.
Pantas saja Bibi Ning sangat disegani. Waw! batin Jaro.
"Bi, kira-kira apakah Ansa memiliki suatu penyakit yang–" ucapannya terputus oleh sosok pria yang ke luar dari kamar dan menghampiri mereka.
"Ada apa ini?" tanya pria tersebut.
"Pak Hardi, ini temannya Ansa. Namanya Jaro. Dia khawatir dengan keadaan Ansa, karena selama ini mereka sering bertemu dan baru pertama kalinya melihat Ansa yang jatuh pingsan. Benar 'kan, Jaro?" dalih Bibi Ning.
"Iya," lirih Jaro sembari menunduk, tak berani melihat pria dewasa di depannya.
"Paa, itu Jaro. Anaknya pak Awi yang pemilik sekolah Mandraguna," jelas Bu Roro dengan lantang.
__ADS_1
"Oh, kamu anaknya pak Awi. Ayo, silakan masuk," ajak Pak Hardi dengan menurunkan suaranya.
Jaro melangkah dengan perasaan yang campur aduk, ada rasa senang karena telah dikenal oleh keluarganya Ansa dan ada rasa cemas karena khawatir dengan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin keluar dari mulut orang tua Ansa.
Ish! Harusnya sekarang aku mengkhawatirkan Ansa! Ngga peduli mereka berdua mau bertanya apapun ke aku, pikirnya.
"Sepertinya banyak pikiran yang sedang membebaninya. Fobianya membuat anak Anda merasa cemas dan takut. Kalau bisa, tolong ajak anak Anda membahas masalah-masalahnya dan mencari jalan keluar dari masalahnya. Ini saya resepkan lagi obatnya," ujar pria yang sedang duduk di samping Ansa.
"Iya, Dok. Terima kasih," balas Pak Hardi.
Lalu Pak Hardi dan dokter melangkah pergi dari kamar, meninggalkan Bu Roro, Jaro dan Bibi Ning. Mereka bertiga duduk mengitari Ansa yang masih terpejam.
"Apakah kalian ada masalah lagi? Mengapa Ansa bisa sampai pingsan seperti ini, Ro?" tanya Bibi Ning.
"Iya, Mbak. Dia sempat mencampuri urusanku dengan mas Hardi. Sepertinya dia mulai tidak suka denganku. Bahkan hari ini, dia berani mengubah jadwal lesnya dengan latihan di sanggar tanpa memberi tahu kami, Mbak. Haduh," keluh Bu Roro.
Oalah, maksudnya Bu Roro. Hehe, ucap Jaro dalam hati.
"Oh, seperti itu. Terus, di sekolah dia tidak ada masalah apapun, Nak Jaro?" tanya Bibi Ning kembali.
Oh, ini baru bertanya kepadaku. Jaro menoleh ke Bibi Ning. "Ngga ada kok, Bi. Justru Ansa bahagia bertemu teman-teman baru di sekolah. Teman sebangkunya saja, pintar melawak dan membuat Ansa terus tersenyum," jawab Jaro dengan jelas.
"Kalian memang cocok, teruslah jaga Ansa ya," lirih Bu Roro.
Oh ya? Belum apa-apa, sudah dapat restu. Hihi. Senyum Jaro mengembang, disertai anggukan kepalanya.
__ADS_1
"Sebenarnya, Ansa sakit apa, Tante?" lirih Jaro kepada Bu Roro.
"Ansa punya fobia terhadap rasa bahagia. Kami semua baru tahu sejak dua tahun yang lalu, eh, kayaknya sebelum itu. Maksud saya, fobianya telah diketahui saat dirinya menjuarai lomba di sekolah kalian. Lalu tak lama, orang tua saya meninggal karena kecelakaan. Padahal saat itu Ansa senang sekali dengan kehadiran nenek dan kakeknya di rumah kami," jawab Bu Roro.
Fobia apa itu? Rasa bahagia? Bukannya Ansa fine-fine aja di kelas? Hmm, batin Jaro.
"Ansa menganggap bahwa saat dirinya bahagia, maka sesuatu hal yang buruk akan menimpa dirinya. Itulah fobia yang menyebabkan Ansa mudah cemas, ngga tenang," lanjut Bu Roro.
"Sebenarnya, kami sudah memintanya untuk ikut ekskul-ekskul supaya dirinya lupa dengan fobianya dan kalau bisa, dirinya tidak mengonsumsi obat-obatan. Tapi kadang, dia tidak taat aturan dan inginnya dia, 'Aku ingin minum obat itu!'. Entahlah ...," sambungnya.
"Terus gimana, Ro. Kalau fobianya ini ngga bisa dia kendalikan, mungkin ke depannya akan bisa mengganggu dirinya. Seperti bunuh– Em," ujar Bibi Ning, namun tercekat.
"Resikonya seperti itu, Mbak. Dia mudah cemas, mudah curiga, dan akhirnya emosi. Blak-blakan dan berani memberontak. Tapi, ini aneh sih. Sepertinya Ansa memang suka berteman dengan anak laki-laki ya?" balas Bu Roro dengan ekspresi heran.
"Mungkin di pikiran Ansa, teman laki-laki itu jujur dan ngga suka berdrama. Tadi katamu Ro, blak-blakan dan berani, juga tegas. Mungkin Ansa lebih suka dengan teman yang seperti itu, sehingga dirinya bisa lebih percaya," jawab Bibi Ning.
Oh, Ansa ngga mudah percaya dengan orang lain. Tapi, dia mudah percaya dengan orang yang blak-blakan kayak Mei. Tegas kayak pak Ranu. Jujur kayak aku! Fobianya kayak seleksi alam ya, hihi, batin Jaro.
"Sebenarnya, Ansa itu orangnya lembut, ngga mudah marah. Karena semuanya dia pendam. Tapi kalau sudah ngga kuat, pilihannya ada dua : langsung bicara jujur atau seperti sekarang ini, pingsan karena capek," lanjut Bibi Ning.
Jaro terus saja bungkam, tapi membuka telinganya lebar-lebar dan otaknya seperti flashdisk yang menampung banyak file.
Jaro berusaha memahami temannya yang cantik tersebut, supaya dirinya bisa lebih dekat dan bisa dipercayai oleh Ansa.
__ADS_1