
Saat liburan tiba,
Ansa dan Jaro telah berkumpul di sanggar, bersama dengan para penghuni sanggar yang lainnya untuk menonton pentas.
Ansa telah berada di salon sejak jam 5 pagi yang diantar oleh ibunya. Ansa dirias khas wanita Bali, dengan rambut panjangnya yang diurai di samping kiri dan diberi bunga sebagai hiasan pada rambutnya. Pakaiannya memamerkan pundak dan leher jenjangnya. Lalu lenggings milik Ansa dipadukan dengan songket yang menutupi hingga lututnya.
Sedangkan Jaro cukup menggunakan kaos oranye berlengan pendek dengan jeans panjang. Lagi pula dirinya hanya sebagai penonton pentas sanggarnya tersebut.
Selesai pentas,
Semuanya segera membubarkan diri, kecuali Jaro yang masih ingin mengobrol dengan Ansa.
"Ansa!" panggilnya.
Ansa menoleh dan tersenyum ke arah seseorang yang semakin mendekat kepada dirinya.
"Sa! Terima kasih ya!" seru Jaro.
"Eh? Ada apa memangnya, Ro?"
"Karena tidak membiarkan ibumu pulang malam, Sa. Kakakku sudah mencari bukti lain, yaitu melihat riwayat perjalanan Orbifly di rumahku. Ternyata ibumu sering sekali datang diam-diam ke rumahku," jelasnya.
"A-apa? Iya, Ro. Aku ngga akan lengah! Terima kasih juga atas informasinya," balas Ansa.
Setelah pembicaraan tersebut, mereka berdua merasa lega karena berhasil memisahkan kedua orang tua mereka. Liburan kali ini, menjadi ajang untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran mereka.
Esok harinya,
__ADS_1
Jaro dan Deniz mencoba mengendarai Orbifly dan berkunjung ke rumah neneknya. Sekitar pukul delapan pagi, mereka telah berangkat.
Sedangkan Ansa dan orang tuanya telah sampai di gedung utama perusahaan Techsophistic Farm. Di sana, Ayah Hardi mempertemukan Ansa dengan Pak Widagda.
"Ini adiknya Ranu, haha!" guyon ayah kepada rekan kerjanya.
"Haha! Iya mereka memang dahulu seperti kakak beradik. Oh itu, Ranu ada di dalam! Ansa dan Ranu sudah lama sekali tidak bertemu, 'kan?" balas Pak Widagda.
Jadi, Mas Ranu ngga pernah menceritakan bahwa dirinya pernah bertemu denganku di sanggar? Hm, tapi kenapa? batin Ansa.
"Loh Pak Wid! Tapi beberapa bulan yang lalu, Ranu pernah mengantarkan anak saya pulang ke rumah. Mereka terlihat seperti kakak yang menjemput adiknya, haha!" jelas ayah.
Pak Widagda tertawa dan meminta maaf karena beliau tidak terlalu memperhatikan anak sulungnya tersebut. "Oh begitu, Pak. Maafkan saya, memang saya jarang mengobrol bersamanya di rumah. Sejak Ranu masuk SMA, dia sangat sibuk dan fokus dengan sekolahnya. Bahkan untuk masalah pacaran, rasanya tidak mungkin," balasnya.
Lalu ayah kembali bersuara, "Kemarin Ansa bilang kalau Ranu ingin ikut menginap juga di vila. Apakah Pak Wid sudah tahu mengenai itu?"
Setelah izin untuk pergi sebentar ke vila kepada rekan kerjanya, ayah segera menuntun Ansa ke luar dari gedung utama. Tiba-tiba Ranu memanggil mereka berdua, dan muncul dari belakang.
"Maaf Om Hardi, Ansa. Dari tadi saya menunggu di ruangan ayah, hehe," tutur Ranu sembari menggaruk tengkuknya.
Ayah mengangguk dan mengajak Ranu untuk pergi bersama ke vila. Ansa langsung menggandeng lengan Ranu, bak adik yang manja kepada kakaknya.
Sampai di vila,
Ranu membantu menurunkan barang bawaan Ansa dan Ayah Hardi. Kemudian muncullah penjaga vila dan membukakan pintu vila untuk mereka. Ansa tersenyum karena vila tersebut masih sama dan membuatnya nyaman.
Setelah membereskan barang bawaan ke dalam kamar masing-masing, ayah berpamitan kepada Ansa dan Ranu. Beliau harus kembali ke gedung utama karena akan diadakan rapat penting.
__ADS_1
"Pa, mama kapan ke sini? Kalau datangnya nanti malam, lebih baik aku pulang dari sini. Aku ngga mau di sini tanpa mama!" protes Ansa. Aku hanya ingin Mama masih di bawah pengawasanku! pikirnya.
"Mama nanti sore ke sini kok. Sementara ini, kamu bersama kakakmu dulu ya? Kalau mau keliling, Ranu sudah hafal daerah di sini. Ansa ngga perlu khawatir, oke?" hibur ayah dengan suaranya yang lembut.
"Iya, Om. Saya akan menjadi tour guide-nya selama di sini!" jawab Ranu sembari hormat kepada ayah.
Ansa tertawa kecil saat melihat tingkah Ranu. "Iya, Pa. Nanti sore, aku akan menghubungi mama," jawabnya.
Setelah ayah pergi dari vila, mereka berdua menjadi agak canggung. Namun Ranu memecah kesunyian di antara mereka.
"Ayo, Sa! Kita petik buah dan duduk di pinggir danau!"
"Iya, Mas. Sesuai aplikasi ya! Haha!" balas Ansa.
"Oke! Mari ikuti saya selaku tour guide Techsophistic Farm, angsa cantikku," serunya dan segera menggenggam erat tangan kiri Ansa.
Di rumah nenek,
Jaro dan Deniz telah sampai di atas rumah neneknya. Mereka segera turun dari Orbifly, lalu menyalami neneknya yang tinggal bersama keluarga paman Lovi. Di sana ada nenek, Paman Lovi, bibi, dan satu adik sepupu mereka.
"Paman, Bibi! Tirta lagi tidur ya?" tanya Deniz.
"Iya, Niz. Biasanya nanti sore adik Tirta baru bangun," jawab bibi.
"Kalian sekarang segera masukkan barang bawaan ke kamar. Setelah itu, makan siang ya! Ini Nenek sudah membuat sate kerang, sayur sup, dan lainnya. Ayo ayo!" titah nenek dengan suara tegasnya.
Mereka berdua segera melakukan yang disuruh oleh nenek. Jaro pun sudah memikirkan makanan yang dibuat oleh neneknya, tentu sangat lezat!
__ADS_1